BKG

Cahyanto, Lutia Fadilah Septi (2019) Struktur, Perilaku, Dan Kinerja Pasar Bawang Putih Di Desa Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Permintaan bawang putih dalam mengalami peningkatan pada setiap tahunnya maka memerlukan persediaan akan produk bawang putih. Peningkatan persediaan bawang putih terkendala karena tingkat produksi bawang putih dalam negeri yang yang semakin menurun. Tidak terpenuhinya permintaan dalam negeri maka pemerintah memutuskan untuk melakukan importir bawang putih yang dimana kegiatan tersebut berakibat pada semakin menurunnya produksi bawang putih dan harga jual bawang putih yang semakin menurun. Harga jual bawang putih yang semakin menurun terjadi dikarenakan perubahan harga yang diterima produsen tidak mengikuti harga yang diterima oleh konsumen. Hal tersebut bisa terjadi karena sistem pemasaran yang kurang baik, maka dari itu perlu adanya analisis pemasaran menggunakan pendekatan struktur, perilaku, dan kinerja pasar. Penelitian dilakukan di Desa Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan cara purposive method dikarenakan lokasi penelitian tersebut merupakan daerah yang berhasil dilakukan penanaman bawang putih. Jumlah responden petani pada penelitian sebanyak 30 petani dan responden lembaga pemasaran sebanyak 1 orang. Penentuan responden dilakukan secara sensus pada responden petani dan snowball sampling pada responden pemasaran. Pada analisis data dengan menggunakan pendekatan struktur, perilaku, dan kinerja pasa, untuk pendekatan struktur menggunakan pangsa pasar, CR4, Indeks Hirschman Herfindahl, dan Indeks Rosenbulth. Pendekatan perilaku menggunakan deskriptif kualitatif pada penentuan harga, fungsi pemasaran, peran kelembagaan, dan kolusi dan taktik. sedangkan pada pendekatan kinerja pasar terdapat marjin pemasaran, farmer share, share keuntungan dan share biaya pemasaran, dan R/C rasio i viii Hasil penelitian pada analisis struktur pasar bawang putih di Desa Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang adalah pasar monopsoni, yang menyebabkan posisi tawar petani bawang putih rendah atau dapat dikatakan sebagai price taker. Tidak ada diferensiasi produk pada pemasaran produk bawang putih dikarenakan adanya perjanjian antara petani dengan pembeli. Pada hambatan masuk keluar pasar, pedagang baru tidak bisa mengikuti aturan main yang telah dilakukan pada pedagang sebelumnya yang berakibat pada menurunnya produksi bawang putih serta banyaknya keluhan dari petani. tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh petani rendah, dimana hal tersebut menjadikan petani memiliki posisi daya tawar yang rendah. Pada analisis perilaku pasar bawang putih di Deda Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang pada penentuan harga jual ditentukan oleh pembeli atau petani hanya sebagai price taker saja. Petani hanya melakukan fungsi pertukaran dan fungsi fasilitas, sedangkan pembeli melakukan semua fungsi pemasaran mulai dari fungsi pertukaran, fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Peran kelembagaan yang terjadi pada saat penelitian adalah adanya perjanjian yang telah dibuat dan disepakati oleh kedua belah pihak maka tidak ada masalah yang terjadi. Kolusi dan tatik tidak terjadi pada pemasaran bawang putih di Desa Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Pada pendekatan kinerja pasar menghasilkan marjin pemasaran, farmer share, share biaya pemasaran dan share keuntungan, dan kelayakan usaha bawang putih. Pada kinerja pasar bawang putih di Desa Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang didapatkan dua saluran pemasaran, dimana pada kedua saluran tersebut dapat dikatakan sistem pemasarannya sudah efisien. Sistem pemasaran yang sudah efisien terlihat dari rantai pemasaran yang pendek dan nilai R/C rasio yang leih dari 1. Selain itu nilai keuntungan yang didapatkan oleh produsen benih bawang putih selaku pelaku pasar sudah cukup menguntungkan.

English Abstract

The demand for garlic is increasing every year and requires a supply of garlic product. Increased supply of garlic is constrained because the level of domestic garlic production is declining. The domestic demand is not fulfilled, the goverment decided to import garlic, which resulted in the decline in garlic production and the decreasing selling price of garlic. The declining selling price of garlic is due to changes in prices received by producers not following the prices received by consumer. This can happen because the marketing system is not good, therefore it is necessary to have a marketing analysisi using the structure, conduct, and perfomance market approaches. The study was conducted in Bendosari Village, Pujon Subdistrict, Malan District the location of study was carried out by purposive method because the location of the study was an area that was successfully carried out by planting garlic. The number of respondents of farmers in study were 30 farmers and respondent were marketing institutions as many as 1 person. Determanition of repondents was conducted in census on farmer respondents and snow balling on markting respondent. In data analysis using the structure, conduct, an performance approaches, for structure apptoach to use market share, CR4, Herfindahl Hirschman Index, and Rosenbulth Index. The consuct approach uses qualitative descriptions on pricing, marketing functions, institutional roles, and collusion and tattos. While in the market performance approach there are marketing marigins, farmer share, profit share and marketing cost share, and R/C ratio. The results of the study on the analysis of the market structure of garlic in Bendosari Village, Pujon Subdistrict, Malang District is a monopsoni market, which causes the bargaining position of garlic farmers to be low or can be condisidere a price taker. Thare is no product differentiation in marketing garlic product due to the agreement between farmers and buyers. On barriers to entering the market, new traders cannot follow the rules of the game that have been done to the previous traders which resulted in a decrease in garlic production and the level iii x of knowledge possessed by farmers is low, which makes farmers have a low bargaining power position. In the analysis of the market behavior of garlic in Bendosari Village, Pujon Subdistrict, Malang District in determining the selling price determined by buyer or farmer only as a price taker. Farmer only carry out the exchange function and function of the facility, while the buyer carries out all marketing functions starting from the exchange function, physical function and function of the facility. The insdtitutional role that occurs at the time of the research is the existence of an agreement that has been made and agreed upon by both parties so that no problems occur. Collusion and tatic do not occur in the marketing of garlic. In the market performance approach produces marketing margin, farmer shares, share marketing cost and profit share, and the feasibility of garlic business. In the performance of the garlic market there were two marketing channels, where in both channels it could be said that the marketing system was efficient. An efficient marketing system can be seen from a short marketing chain and higher R/C ratio of 1. In addition, the value of profits obtained by garlic seed producers as market participants is quite profitable.

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2019/14/051906713
Uncontrolled Keywords: -
Subjects: 300 Social sciences > 381 Commerce (Trade) > 381.4 Specific products and services > 381.41 Product of agriculture > 381.415 25 Specific products (Onions)
Divisions: Fakultas Pertanian > Sosial Ekonomi Pertanian
Depositing User: Endang Susworini
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/172626
Text
Lutia Fadilah Septi Cahyanto (2).pdf

Download | Preview

Actions (login required)

View Item View Item