Studi Waktu Persilangan Terhadap Hasil Dan Kemampuan Silang Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) dan Putih (Hylocereus undatus)

Pratama, Harun (2017) Studi Waktu Persilangan Terhadap Hasil Dan Kemampuan Silang Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) dan Putih (Hylocereus undatus). Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Tanaman buah naga (Hylocereus polyrhizus) ialah tanaman tahunan yang dimanfaatkan buahnya. Tanaman buah naga termasuk dalam kelompok tanaman kaktus yang berasal dari Meksiko, Amerika Selatan. Buah naga masuk ke Indonesia pada dekade 90-an, dan mulai dikembangkan masyarakat pada awal tahun 2000, khususnya di Pasuruan, Jember, Mojokerto, dan Jombang. Buah naga termasuk buah pendatang baru yang cukup populer karena warnanya yang mencolok, memiliki rasa asam manis dan segar (Kristanto, 2014). Dalam produksi buah naga, salah satu cara perbanyakan buah ialah dengan persilangan melalui bunga, tetapi waktu penyerbukan menjadi salah satu kendala dalam persilangan karena dilakukan hanya pada jam tertentu dengan persentase keberhasilan yang cukup tinggi saat bunga mekar sempurna. Menurut Setiawan (2015), faktor yang menyebabkan penurunan produksi benih adalah kegagalan penyerbukan. Agar proses penyerbukan berjalan lancar dengan hasil optimal, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu sistem penyilangan variasi jenis kelamin, reseptimatis stigma individu bunga, vektor yang berperan dalam penyerbukan, pengaruh cuaca (Setiawan, 2015). Waktu penyerbukan dihubungkan dengan kemampuan silang tanaman buah naga merah dan buah naga putih sehingga perlu adanya penelitian mengenai waktu persilangan yang sesuai untuk mendapatkan persentase keberhasilan silang yang tinggi. Penelitian ini juga merupakan saran dari penelitian sebelumnya yang telah melakukan penelitian tentang macam persilangan buah naga. Tujuan penelitian ini ialah untuk mempelajari waktu persilangan buah naga merah dan putih yang sesuai untuk mendapatkan persentase kemampuan silang yang paling tinggi. Hipotesis penelitian ini ialah persilangan antara buah naga merah dan putih mempunyai hasil dan kemampuan silang yang tinggi pada jam 00:00 WIB. Penelitian ini dilaksanakan di UD. Naga Jaya Makmur, Jl. Koramil No. 76 Bululawang, Malang, Jawa Timur. Kecamatan Bululawang berada pada ketinggian 500 mdpl. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan, dimulai pada Oktober hingga Desember 2016. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan yaitu P1: Waktu Persilangan Jam 20:00 WIB, P2: Waktu Persilangan Jam 21:00 WIB, P3: Waktu Persilangan Jam 22:00 WIB, P4: Waktu Persilangan Jam 23:00 WIB, dan P5: Waktu Persilangan Jam 00:00 WIB. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali dan setiap perlakuan terdiri dari 1 bunga buah naga putih yang disilangkan dengan 10 bunga buah naga merah sehingga terdapat 5 bunga buah naga putih (Hylocereus undatus) dan 50 bunga buah naga merah ii (Hylocereus polyrhizus). Pengamatan dilakukan mulai umur 7 hari setelah persilangan (HSP) hingga umur 35 hari setelah persilangan (HSP) dengan interval pengamatan 7 hari sekali. Parameter pengamatan yang digunakan meliputi kemampuan silang, jumlah buah gugur, bentuk buah, berat buah, pertumbuhan buah, dan kadar gula. Analisa data menggunakan analisis ragam (ANOVA), apabila terdapat pengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan persentase kemampuan silang tertinggi yaitu 100% terdapat pada persilangan antara Hylocereus polyrhizus dan Hylocereus undatus pada jam 00:00 WIB. Berdasarkan viabilitas polen dan masa reseptif stigma, waktu penyerbukan buah naga yang sesuai antara pukul 23:00 WIB – 02:00 WIB diikuti dengan faktor-faktor pendukung dengan tidak adanya buah yang gugur sampai panen, bentuk buah yang bulat, rata-rata berat buah yang terbesar yaitu 486,4 g, rata-rata panjang dan diameter yang terbaik yaitu 13,96 cm dan 13,38 cm, serta kadar gula yang tertinggi yaitu 12%brix dibanding dengan waktu perlakuan lainnya.

English Abstract

Dragon fruit is a perennial plant that used the fruit. Dragon fruit plants included in a group of cactus plants that originated from Mexico, South America. Dragon fruit came to Indonesia in the 90s, and was developed society in the early 2000s, especially in Pasuruan, Jember, Mojokerto, and Jombang. Dragon fruit including newcomers fruit are quite popular because of striking colors, has a sour and sweet taste and fresh (Kristanto, 2014). In the production of dragon fruit, one way of multiplication is by crossing through the flowers, but the time of pollination is one of the obstacles in crossing because it is done only at certain hours with a fairly high percentage of success when flowers bloom perfectly. According to Setiawan (2015), the factor causing the decrease in seed production is the failure of pollination. In order to the pollination process to run smoothly with optimal results, then there are some things that need to be considered are the system of crossing the gender variations, the individual stigma of interest receptor, the vectors that play a role in pollination, the influence of weather. The pollination time is linked with the ability of the red dragon fruit and white dragon fruit, so there is necessary for research on appropriate crossing times to obtain a high percentage of successful cross. This research is also a suggestion from previous research that has conducted about kind of crossing dragon fruit. The purpose of this research is to learn about crossing time of red and white dragon fruit are suitable to obtain a high success percentage and its linked with the cross ability. Time cross-pollination linked to the ability of red dragon fruit and white dragon fruit, so need for research about the right crossing time to get a high percentage of successful cross. This research was conducted at UD. Naga Jaya Makmur, Koramil Street No. 76 Bululawang, East Java, Bululawang subdistrict is located at altitude of 500 meter above sea level (masl). This research was conducted for 3 months, starting from October to December 2016. This research used Randomized Block Design (RBD) with 5 treatments. P1: Crossing Time at 20:00 WIB, P2: Crossing Time at 21:00 WIB, P3: Crossing Time at 22:00 WIB, P4: Crossing Time at 23:00 WIB, and P5: Crossing Time at 00:00 WIB. Each treatment was repeated 3 times and each treatment consisted of 1 white dragon fruit flower crossed with 10 dragon fruit flowers so that there were 5 white dragon fruit flowers (Hylocereus undatus) and 50 red dragon fruit flowers (Hylocereus polyrhizus). The observation was started from age 7 days after crossing (dac) until age 35 days after crossing (dac) with 7 days observation interval. Observation parameters used include cross ability, number of fallen fruit, fruit shape, fruit weight, fruit growth, and sugar content. iv Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA), when there is real effect then continued by Least Significant Difference (LSD) at 5% level. Based on the results obtained the highest cross percentage of 100% was found in the cross between Hylocereus polyrhizus and Hylocereus undatus at 12:00 AM. Based on the viability of pollen and receptive period of stigma, the exact time of dragon fruit pollination was 23:00 WIB – 02:00 WIB was followed by supporting factors in the absence of fallen fruit, fruit shape was round, the highest average of fruit weight was 486,4 g, the best average of length and diameter was 13,96 cm and 13,38 cm, and the highest sugar content was 12 %brix compared with the other treatments.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2017/488/051710675
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting > 631.52 Production of seeds, bulbs, tubers, new varieties
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Yusuf Dwi N.
Date Deposited: 30 Nov 2017 07:10
Last Modified: 02 Dec 2020 13:25
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/6304
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item