Kadar Insulin-like Growth Factor-1 (IGF-1) Air Susu Ibu dan Human Beta Defensin-2 (HBD-2) Feses Neonatus terhadap Luaran Klinis Neonatus

Kurniawan, Bayu and Dr. Anik Puryatni, Sp.A(K) and Dr. Hidayat Sujuti, Sp.M, Ph.D (2019) Kadar Insulin-like Growth Factor-1 (IGF-1) Air Susu Ibu dan Human Beta Defensin-2 (HBD-2) Feses Neonatus terhadap Luaran Klinis Neonatus. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan air susu ibu (ASI) lebih superior dibandingkan susu formula untuk pemberian asupan enteral pada neonatus prematur. Kelahiran prematur mempengaruhi ±10% kelahiran hidup di seluruh dunia. Insiden sepsis neonatal terjadi pada 10-40% neonatus prematur (usia kehamilan ibu <37 minggu), dan bukti klinis menunjukkan bahwa etiologi patogen sepsis neonatal dapat terjadi karena translokasi dari saluran pencernaan neonatus prematur. Konsumsi air susu ibu (ASI) memberikan kekebalan pasif pada saluran pencernaan neonatus. ASI mengandung zat bioaktif yang melindungi bayi terhadap infeksi, inflamasi, kematangan sistem imun, perkembangan sistem organ, dan kolonisasi flora normal yang mendukung maturitas usus pada neonatus. ASI berkontribusi pada fungsi pertahanan (barier) saluran pencernaan, melalui peran growth factors, antimicrobial protein and peptides (AMP), dan sitokin. Growth factors dalam ASI yang diketahui memilki peran signifikan pada maturitas usus neonatus adalah insulin-like growth factor-1 (IGF-1); peptida rantai tunggal yang merupakan stimulator poten untuk mempengaruhi pertumbuhan proliferatif dan hipertrofik. IGF-1 menunjukkan efek protektif selama peradangan dan apoptosis saluran pencernaan neonatus. Infeksi gastrointestinal merupakan salah satu penyebab kesakitan utama pada neonatus prematur, namun diagnosis definitif sulit ditegakkan. Kondisi klinis serta pemeriksaan penunjang menunjukkan hasil yang relatif sama dengan manifestasi klinis akibat masalah non-gastrointestinal. Upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan morbiditas dan mortalitasnya adalah adanya biomarker non-invasif, yang mampu mendeteksi dini inflamasi saluran pencernaan bahkan sebelum munculnya gejala klinis. Biomarker feses menjadi salah satu pilihan pemeriksaan yang non-invasif dan diharapkan mampu merefleksikan inflamasi serta kondisi patologis spesifik pada intestinal. Peptida yang teridentifikasi pada mekonium dan feses neonatus selama minggu-minggu v pertama kehidupan, salah satunya adalah human beta defensin. Human beta defensin yang disekresi terutama pada epitel saluran pencernaan dan berhubungan dengan reaksi inflamasi adalah human beta defensin-2 (HBD-2). HBD-2 memiliki efek protektif selama peradangan dan apoptosis, serta mampu menstimulasi perbaikan epitel saluran pencernaan neonatus. Penelitian yang membuktikan kadar IGF-1 sebagai growth factors pada ASI neonatus prematur pada tahapan laktasi masih terbatas; termasuk penelitian yang membuktikan kadar IGF-1 ASI dengan kadar HBD-2 feses neonatus prematur sebagai biomarker inflamasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar insulin-like growth factor-1 (IGF-1) ASI transisi dan human beta defensin-2 (HBD-2) feses pada neonatus aterm dan prematur yang mendapatkan asupan ASI. Dua puluh empat pasangan ibu dan neonatus prematur/ aterm sesuai kriteria inklusi dikumpulkan pada Bulan Juni sampai Agustus 2019 di ruang neonatologi RSUD Dr. Saiful Anwar Malang, dan dikelompokkan menjadi 4 kelompok sampel penelitian (kelompok 37-<42 minggu, 32-<37 minggu, 28-<32 minggu, dan <28 minggu). Karakteristik dasar ibu (usia, indeks massa tubuh, pendidikan, pekerjaan, paritas, perokok aktif, riwayat preeklampsia/ eklampsia, preterm premature rupture of membrane/ premature rupture of membrane, korioamnionitis) dan karakteristik dasar neonatus (jenis kelamin, cara lahir, usia kehamilan, berat badan lahir, skor Apgar, dan luaran klinis insiden feeding intolerance, enterkolitis nekrotikan/ EKN, neonatal sepsis/ late onset sepsis, penggunaan ventilasi mekanik) dikumpulkan. Kadar IGF-1 ASI transisi dan HBD- 2 feses neonatus diambil dari 4 kelompok sampel dan diukur dengan metode ELISA. Uji komparatif perbedaan rerata (mean) kadar IGF-1 ASI transisi dan HBD-2 feses neonatus dari tiap-tiap kelompok sampel dilakukan dengan uji ANOVA. Analisis korelasi kadar IGF-1 ASI transisi dengan HBD-2 feses neonatus dilakukan uji Korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna rerata (mean) kadar IGF-1 ASI transisi dan HBD-2 feses neonatus dari tiap-tiap kelompok sampel penelitian (p<0,05); kadar IGF-1 ASI transisi berbanding lurus dengan usia kehamilan (r=0,611) dan sebaliknya kadar HBD-2 feses neonatus terhadap usia kehamilan (r=-0,725) (p<0,05). Tidak terdapat korelasi yang signifikan antara kadar IGF-1 ASI transisi dengan HBD-2 feses neonatus (r=- 0,338; p=0,106). Terdapat perbedaan kadar HBD-2 feses neonatus yang bermakna pada neonatus dengan feeding intolerance, enterokolitis nekrotikan, dan penggunaan ventilasi mekanik (p<0,05). Disimpulkan bahwa prematuritas menunjukkan kadar IGF-1 ASI transisi yang rendah dan peningkatan kadar HBD-2 feses neonatus, sehingga meningkatkan risiko infeksi saluran pencernaan. Dan peran potensial HBD-2 feses sebagai biomarker inflamasi saluran pencernaan neonatus dapat dibuktikan.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: TES/616.462 2/KUR/p/2019/042001912
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 616 Diseases > 616.4 Diseases of endocrine, hematopoietic, lymphatic, glandular system; diseases of male breast > 616.46 Diseases of islands of Langerhans > 616.462 Diabetes mellitus
Divisions: Profesi Kedokteran > Spesialis Emergensi Medisin, Fakultas Kedokteran
Depositing User: Budi Wahyono Wahyono
Date Deposited: 23 Sep 2022 07:00
Last Modified: 23 Sep 2022 07:00
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/194718
[thumbnail of Bayu kurniawan.pdf] Text
Bayu kurniawan.pdf

Download (5MB)

Actions (login required)

View Item View Item