Studi Tentang Heat Tolerance Coefficient (HTC) dan Sweatingrate (SR) Sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) Pada Berbagai Periode Laktasi di Ketinggian Tempat Yang Berbeda

Arditiya, Rangga (2020) Studi Tentang Heat Tolerance Coefficient (HTC) dan Sweatingrate (SR) Sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) Pada Berbagai Periode Laktasi di Ketinggian Tempat Yang Berbeda. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

The purpose of this research is to know the difference between the heat tolerance coefficient (HTC) and sweatingrate (SR) of lactating Crossbred Friesian Holstein in various lactation periods and difference altitudes. The research was conducted in highland and lowland areas of Pujon subdistrict, Malang regency with an altitude of ± 1100 meters above sea level and Gampengrejo subdistrict, Kediri regency with an altitude of ± 160 meters above sea level. The methods in this research were case study and collect data with purposive sampling. Data was analyzed by student t-test (unpaired). The results showed that the altitude of the place gave a significant effect on body temperature, respiratory frequency, HTC, sweating rate, temperature, humidity and THI value. The body temperature on the plains of made 37.4±0.95oC which was significantly lower (P<0.01) than lowland 38.95±0.51 oC. Respiratory rate of Friesian Holstein Crossbred in the high altitude 38.15±5.34 (times/min) were known significantly lower (P<0.01) than Friesian Holstein Crossbreed in the Lowland 71.35±12.50 (times/minutes). HTC of Friesian Holstein Crossbreed on a plateau were 2.64±0.25 and in the Lowlands 4.12±0.55. Sweating rate of the Friesian Holstein Crossbred on the plateau and lowland is 110.04±15.54 g/m2/h and 265.06±20.06g/m2/h (P<0.01) Temperature and humidity in the Highlands is 22.93±3.58 oC and Moisture 77 ± 9.53% and in the lowland is 29.47±2.24 oC with moisture 78.44±13.69%. THI on the plateau is 69.80±2.96 in the lowland is 83.67±3.93, so it can be said that in the lowland of cows experiencing an uncomfortable environmental condition and experiencing mild stress conditions.

English Abstract

Bangsa sapi PFH adalah persilangan dari bangsa sapi FH yang berasal dari Belanda kemudian disilangkan dengan sapi lokal. Sapi PFH dapat menghasilkan susu hingga 4500-5500 liter setiap masa laktasinya. Sapi PFH akan berproduksi dengan baik apabila lingkungan yang ditempati dapat memberikan kenyamanan, dengan suhu di daerah tropis berkisar ±18 ºC dengan kelembapan 55%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan HTC dan SR sapi PFH pada berbagai periode laktasi untuk menyampaikan wawasan dan informasi ilmiah tentang perbedaan tingkat stress sapi PFH di ketinggian tempat berbeda guna menyampaikan wawasan dan informasi ilmiah tentang perbedaan tingkat stress sapi PFH di ketinggian tempat berbeda. Sehingga dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan lokasi kandang ternak sapi PFH untuk mengoptimalkan produksi susu. ix Penelitian dilakukan di daerah dataran tinggi dan dataran rendah, yaitu Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang dengan ketinggian ±1100 meter (dpl) dan Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten kediri dengan ketinggian ±160 meter (dpl). Kegiatan berlangsung selama satu bulan yaitu dari 10 April 2019 sampai 07 Mei 2019. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sapi PFH di Kecamatan Pujon yang berjumlah 40 ekor dengan kondisi laktasi bulan ke-2 pada periode laktasi antara 2,3,4 dan 5 sedangkan pada sapi PFH di CV. Karunia Kecamatan Gampengrejo yang berjumlah 20 ekor dengan kondisi laktasi bulan ke-2 pada periode laktasi antara 2 dan 3. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan menggunakan metode yaitu dokumentasi dan pengamatan. Pemilihan sampel ternak dilakukan secara purposive sampling, yaitu sapi perah PFH laktasi bulan ke-dua. Variabel pengamatan terdiri dari pengukuran suhu tubuh sapi melalui suhu rektal, Frekuensi pernafasan, sweating rate, suhu dan kelembapan udara. Data HTC, sweating rate di analisis mengunakan Uji-t tidak berpasangan dan data THI sebagai variabel pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketinggian tempat memberikan pengaruh signifikan terhadap suhu tubuh, frekuensi pernafasan, HTC, sweating rate, suhu, kelembapan udara dan nilai THI sapi PFH. Rata-rata masing-masing tempat menunjukkan angka yang berbeda sangat nyata (P≤0.01). Rataan suhu tubuh pada dataran tinggi (Pujon) lebih rendah di bandingkan di dataran rendah (Kediri) yaitu 37.4±0.95 oC sehingga panas tubuh yang terjadi pada sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) lebih rendah dibandingkan di daratan rendah (Kediri) yaitu 38.95±0.51oC. Rataan frekuensi pernafasan sapi (PFH) di dataran tinggi (Pujon) yaitu 38.15±5.60 (kali/menit) dan dataran rendah (Kediri) 71.35±12.50 (kali/menit). Rataan HTC sapi (PFH) pada dataran tinggi (Pujon) lebih rendah dari pada di dataran rendah (Kediri) yaitu, 2.64±0.25 sehingga cekaman yang terjadi pada sapi (PFH) lebih rendah di bandingkan dengan di dataran rendah (Kediri) adalah 4.12±0.55. Rata-rata sweating rate sapi (PFH) di Pujon dan Kediri yaitu 110.04±15.54 g/m2/jam dan 265.06±20.06 g/m2/jam. Dengan hasil tersebut SR pada sapi PFH di pujon menunjukkan hasil yang lebih rendah dibandingkan Kediri. Suhu dan kelembapan lebih tinggi di dataran tinggi (Pujon) dibandingkan di dataran redah (Kediri). Rata-rata suhu adalah 22.93±3.58 oC dan kelembapan 77±9.53 % dan suhu rata-rata di dataran rendah adalah 29.47±2.24 oC dengan kelembapan 78.44±13.69 %. Nilai rata-rata THI di dataran tinggi yaitu 69.80±2.96. Pada dataran rendah (Kediri) rata-rata nilai THI di dataran rendah adalah 83.67±3.93, sehingga dapat dikatakan di dataran rendah sapi mengalami kondisi lingkungan yang tidak nyaman dan mengalami keadaan stress ringan. Dari beberapa faktor tersebut memepengaruhi produksi susu yaitu di Pujon lebih tinggi (7.14±1.20 liter/ekor/hari) dibandingkan di Kediri (5.96±1.65 liter/ekor/hari). Hasil dari penelitian menunjukan bahwa nilai HTC di dataran tinggi (Pujon) lebih rendah sehingga tidak mengalami cekaman panas yang berarti dibandingkan dengan yang ada di daerah (Kediri). SR PFH terdapat perbedaan dan menunjukkan bahwa SR pada sapi di dataran tinggi (Pujon) lebih rendah dari pada di dataran rendah (Kediri) oleh karena itu usaha penyesuaian panas di dataran tinggi lebih rendah dari dataran rendah. Sebaiknya bagi peternak di daerah dataran rendah lebih mengatur manajemen pemeliharaan supaya suhu dan kelembapan udara dapat disesuaikan dengan kenyamanan hidup ternak sehingga cekaman yang terjadi pada ternak dapat lebih rendah dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan produksi susu yang dihasilkan.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: 0522050024
Uncontrolled Keywords: Sweatingrate, THI, HTC, Highland
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 636 Animal husbandry
Divisions: Fakultas Peternakan > Peternakan
Depositing User: Budi Wahyono Wahyono
Date Deposited: 27 Apr 2022 07:17
Last Modified: 27 Apr 2022 07:17
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/190238
[thumbnail of DALAM MASA EMBARGO] Text (DALAM MASA EMBARGO)
RANGGA ARDITIYA.pdf
Restricted to Registered users only until 31 December 2024.

Download (3MB)

Actions (login required)

View Item View Item