Pengaruh Courtyard terhadap Kenyamanan Termal pada Rumah Gerbong di Tangerang Selatan

Shafira, Bunga (2020) Pengaruh Courtyard terhadap Kenyamanan Termal pada Rumah Gerbong di Tangerang Selatan. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Perkembangan kota Tangerang Selatan yang semakin padat setiap tahunnya berbanding lurus dengan pertumbuhan populasi yang semakin meningkat. Kebutuhan akan tempat tinggal semakin tinggi namun kondisi lahan yang tersedia semakin terbatas. Dengan keterbatasan lahan tersebut, sering kali fungsi rumah tinggal digabungkan dengan kebutuhan fungsi seperti fungsi kantor. Untuk menghemat waktu dan biaya, banyak para perintis usaha menerapkan konsep SOHO (Small Office, Home Office). Tidak hanya diterapkan pada apartemen, tetapi juga pada rumah tinggal. Penggabungan antara dua fungsi ini menjadi konsep yang paling relevan untuk diterapkan pada saat sekarang ini. Permasalahan yang kerap terjadi pada bangunan dengan fungsi ganda ini kurang memperhatikan kenyamanan termal bagi pengguna ruang, padahal kenyamanan suhu ruang akan berdampak besar pada aktivitas yang dilakukan didalamnya. Pada kebutuhan fungsi kantor, kualitas udara didalam ruang dapat mempengaruhi produktivitas kerja. Rumah Gerbong merupakan contoh SOHO di Tangerang Selatan dengan konsep rumah tumbuh. Rumah Gerbong terbagi menjadi tiga kompartemen yaitu kompartemen untuk tinggal, bekerja, dan berinteraksi sosial di lantai dasar maupun pada bagian roof top. Dengan curah hujan, kelembaban yang tinggi, dan kecepatan angin yang relatif rendah membuat kondisi dibawah standar kenyamanan termal dimana saat siang hari terasa panas menyengat. Selain itu, banyaknya pelaku dan jenis aktivitas heterogen pada satu bangunan mengakibatkan kenyamanan termal ruang dalam tidak tercukupi secara ideal sehingga penggunaan air conditioner (AC) masih diandalakan untuk mendinginkan ruangan. Penambahan fungsi rongga atau void pada bangunan ini telah mengakomodasikan aliran cahaya maupun udara ke ruang-ruang didalamnya melalui tiga courtyard pada Rumah Gerbong. ketiga courtyard tersebut memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap sekitarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh courtyardcourtyard tersebut dalam menciptakan kenyamanan termal. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif yang didukung oleh kuesioner. Dasar teori, studi pustaka, dan kondisieksisting objek penelitian menjadi landasan dalam proses pengumpulan data maupun saat mengolah data. Metode observasi digunakan untuk mengumpulkan data yang terbagi menjad data primer dan sekunder. Observasi data primer berupa survey, pengukuran lapangan dengan alat, wawancara, dokumentasi, dan kuesioner. Observasi data sekunder berupa studi literatur yang berkaitan dengan topik penelitian. Metode dalam pengolahan data dilakukan analisis keadaan termal eksisting dan kaitannya dengan faktor-faktor yang mempengaruhi kenyamanan termal berdasarkan teori dan literatur. Berdasarkan bidang keilmuan arsitektur, pada penelitian ini terfokus pada elemen arsitektural (orientasi, elemen peneduh, bukaan, material, vegetasi) yang mempengaruhi kenyamanan termal pada masing-masing courtyard. Responden yang mengisi kuesioner ini merupakan karyawan kantor biro arsitek Studio Sae sebagai pengguna ruang yang beraktivitas dari pagi sampai malam hari di dalam Rumah Gerbong. Pada hasil penelitian didapatkan bahwa tiap courtyard dapat memberikan pengaruh dalam menciptakan kenyamanan termal yang berbeda-beda berdasarkan elemen-elemen yang berada didalamnya sebagai pendukung dalam menciptakan sensasi termal yang nyaman bagi pengguna ruang dalam beraktivitas. Elemen yang paling berperan penting adalah (shading device) dan ventilasi udara (bukaan) di sekitar courtyard. Courtyard utara memiliki kinerja termal paling baik yang juga didasari dari hasil pengukuran termal. Berdasarkan hasil pengukuran, persepsi pengguna, dan analisis elemen courtyard yang dinilai masih belum memenuhi standar kenyamanan termal akan diberikan rekomendasi. Penambahan shading device pada ketiga courtyard yaitu grid rangka besi dan tambahan plat besi dengan pola susunan terbuka-tertutup secara acak dapat membantu pembayangan matahari dan aliran udara tetap dapat masuk ke ruang dalam. Selain itu, pada courtyard selatan yang dekat dengan ruang kerja diberikan dua alternatif. Alternatif pertama berupa shading device seperti courtyard utara dan tengah ataupun alternatif kedua berupa planter box dengan vegetasi terpilih lee kwan yew. Masing-masing rekomendasi desain selain menambah estetika juga mengedepankan fungsionalitas terutama agar sinar matahari tidak masuk secara langsung ke dalam ruang.

English Abstract

The development of the city of South Tangerang, which is getting denser every year, is directly proportional to the increasing population growth. The need for housing is getting higher but the conditions of available land are increasingly limited. With limited land, often the function of a residential is combined with the need for functions such as office functions. To save time and money, many business pioneers have implemented the SOHO (Small Office, Home Office) concept. This applies not only to apartments, but also to houses. The combination of these two functions is the most relevant concept to be applied today. The problem that often occurs in buildings with multiple functions does not pay attention to thermal comfort for space users, even though the comfort of room temperature will have a major impact on the activities carried out in it. For office functions, indoor air quality can affect work productivity. Rumah Gerbong is an example of SOHO in South Tangerang with the concept of growing home. Rumah Gerbong is divided into three compartments, namely the compartment for living, working and social interaction on the ground floor and on the roof top. With rainfall, high humidity, and relatively low wind speeds make conditions below the standard of thermal comfort during the day it is scorching hot. In addition, the number of people and types of heterogeneous activities in one building resulted in insufficient thermal comfort in an ideal space so that the use of air conditioner (AC) was still relied on to cool the room. The addition of a cavity or void function in this building has accommodated the flow of light and air into the spaces inside through the three courtyards in the Rumah Gerbong. The three courtyards have different influences on their surroundings. The purpose of this study was to determine the effect of the courtyard in creating thermal comfort. The method used in this research is descriptive method with a quantitative approach supported by a questionnaire. The theoretical basis, literature study, and the existing conditions of the object of research become the basis for the data collection process and when processing data. The observation method is used to collect data which is divided into primary and secondary data. Primary data observations in the form of surveys, fieldmeasurements with tools, interviews, documentation, and questionnaires. Observation of secondary data in the form of literature studies related to research topics. The data processing method is carried out by analyzing the existing thermal state and its relation to the factors that affect thermal comfort based on theory and literature. Based on the scientific field of architecture, this research focuses on architectural elements (orientation, shading elements, openings, materials, vegetation) which affect the thermal comfort in each courtyard. Respondents who filled out this questionnaire were employees of the Studio Sae architectural bureau as space users who had activities from morning to night in the Rumah Gerbong. From the research results, it was found that each courtyard can have an influence in creating different thermal comfort based on the elements that are in it as a support in creating a comfortable thermal sensation for space users in their activities. The most important elements are (shading device) and air vents (openings) around the courtyard. The north courtyard has the best thermal performance which is also based on the results of thermal measurements. Based on the measurement results, user perceptions, and analysis of the courtyard element which is considered not yet fulfilling thermal comfort standards, recommendations will be given. The addition of a shading device to the three courtyards, namely an iron frame grid and an additional iron plate with a random open-closed arrangement pattern, can help shading the sun and allow airflow to enter the inner space. In addition, two alternatives are provided at the southern courtyard which is close to the workspace. The first alternative is a shading device such as the northern and central courtyard or the second alternative is a planter box with selected vegetation lee kwan yew. Each design recommendation besides adding to the aesthetics also prioritizes functionality, especially so that sunlight does not enter directly into the space.

Other obstract

-

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: 0520070081
Uncontrolled Keywords: home office, penghawaan alami, pendinginan pasif, courtyard , home office, natural ventilation, passive cooling, courtyard
Subjects: 300 Social sciences > 363 Other social problems and services > 363.5 Housing
Divisions: Fakultas Teknik > Arsitektur
Depositing User: Bambang Septiawan
Date Deposited: 05 Feb 2021 22:47
Last Modified: 05 Feb 2021 22:47
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/182385
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item