Reinterpretasi Tari Tortor Dalam Upacara Kematian Masyarakat Batak Toba

Manalu, Bernadetta (2019) Reinterpretasi Tari Tortor Dalam Upacara Kematian Masyarakat Batak Toba. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Penciptaan ini mengangkat tentang kebudayaan manortor (menari) dalam masyarakat Batak Toba, yang direinterpretasikan melalui sudut pandang penulis. Dalam tari Tortor khususnya pada upacara kematian mengandung makna pada setiap penerapannya. Dengan berkembangnya zaman, makna pada tari Tortor tidak dipakai lagi seperti awal penggunaannya, karena adanya inkulturasi pada masyarakat Batak Toba. Alasan tidak dipakai seperi pada awalnya karena terjadi sebuah transformasi budaya, yaitu serat-serat budaya tidak dapat lagi diterapkan pada hari ini, karena sudah berbeda prinsip dengan sebelumnya. Hasil reinterpretasi penulis berupa karya seni grafis, dengan penggambaran berdardasarkan pengalaman penulis pada upacara kematian yang pernah diikuti. Manfaat reinterpretasi untuk memperluas pengetahuan terhadap penerapan tari Tortor, agar makna yang terkandung didalamnya dapat tersampaikan pada masyarakat melalui kreatifitas perupa. Hasil reinterpretasi ini dikerjakan penulis menggunakakan teknik-teknik pada seni grafis. Bentuk-bentuk yang disuguhkan penulis berdasarkan inspirasi dari karya Tisna Sanjaya dan Karnkit Peankaew. Proses penciptaan ini melalui tahap eksplorasi, eksperimen, visualisasi, dan finishing. Hasil penciptaan berjumlah sembilan karya. Masing-masing karya memiliki cerita tersendiri, dan dikaitkan dengan kenyataan yang sebenarnya. Kebanyakan karya penulis menggunakan pengolahan visual krumunan figur manusia, untuk menandai adanya sebuah upacara.

English Abstract

This creation elevates the culture of dance (dancing) in the Batak Toba’s community which is interpreted through the perspective of the writer. In the Tortor dance, especially in the death ceremony contains meaning in each applications. As times goes by, the meaning of Tortor dance is no longer used as the beginning because of the inculturation of Batak Toba’s community. The reason why it is not used as in the beginning is because of a cultural transformation, means that the cultural fibers can no longer be applied nowadays because of the principles are different from before. The results of writer’s reinterpretation in the form of graphic art with depictions based on the writer's experience at the death ceremony that has been followed. The benefit of reinterpretation is to expand knowledge of the application of Tortor dance so that the meaning contained therein can be conveyed to the public through the creativity of the artist. The results of this reinterpretation were done by the writer using techniques in graphic arts. The forms presented by the writer are based on inspiration from the works of Tisna Sanjaya and Karnkit Peankaew. This creation process through the stages of exploration, experimentation, visualization, and finishing. The results of the creation are nine. Each work has its own story and it is associated with actual reality. Most of the writer's works use the visual processing of human figure collisions to mark a ceremony.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FIB/2019/459/052000231
Uncontrolled Keywords: Kematian, Reinterpretasi, Tari Tortor-Mortality, Reinterpretation, Tortor Dance
Subjects: 700 The Arts > 793 Indoor games and amusements > 793.3 Social, folk, national dancing > 793.31 Folk and national dancing
Divisions: Fakultas Ilmu Budaya > Seni Rupa Murni
Depositing User: soegeng sugeng
Date Deposited: 10 Nov 2020 19:08
Last Modified: 10 Nov 2020 19:08
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/178030
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item