Uji Toleransi Cekaman Naunga Pada 100 Genotipe Padi Gogo

Dewi, Febyla Syntya (2019) Uji Toleransi Cekaman Naunga Pada 100 Genotipe Padi Gogo. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Padi gogo umumnya di budidayakan pada lahan kering. Lahan kering memiliki potensi yang besar untuk pegembangan usaha tani dan peningkatan produksi padi. Jumlah lahan kering potensial mencapai 68,64 juta ha dengan pembagian 25,09 juta ha untuk tanaman semusim dan 43,55 juta ha digunakan untuk tanaman tahunan. Dari luasnya lahan kering yang di tanami tanaman tahunan, padi gogo dapat dimanfaatkan sebagai tanaman sela pada tanaman perkebunan maupun hutan sehingga kebutuhan pangan tetap tercukupi. Saat ini varietas padi gogo yang sudah dilepas dan memiliki keunggulan toleran terhadap naungan adalah varietas Jatiluhur dan varietas Rindang. Jatiluhur yang merupakan varietas lama serta Rindang 1 dan Rindang 2 yang dilepas tahun 2017. Varietas tersebut toleran pada kondisi naungan 50-55%. Melihat kondisi naungan yang bisa melebihi 60% maka masih diperlukan varietas padi dengan tingkat toleransi lebih tinggi terhadap naungan. Oleh karena itu diperlukan varietas baru yang memiliki toleransi terhadap cekaman naungan dan sumber gen baru sebagai materi persilangan untuk merakit varietas baru toleran naungan. Salah satunya adalah melalui kegiatan skrining di dalam paranet.. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Oktober 2018 sampai April 2019 di Kebun Percobaan Muara Bogor. Alat yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu Lux meter, paranet, rafia, kayu penanda, SPAD, gunting, amplop, karung dan rafia. Sedangkan untuk bahan yang digunakan adalah 100 genotipe uji, tujuh varietas pembanding yaitu Jatiluhur (A), Rindang 1 (B), Ridang 2 (C), IR64 (D), Kalimutu (E), Inpago 6 (F) dan Inpago Unsoed (G), pupuk kandang, Furadan, pupuk kimia 75 kg ha-1 SP36, 210 kg ha-1 Urea, dan 75 kg ha-1 KCL. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) dengan perluasan Augmented yang terbagi dalam empat blok teracak pada lahan kontrol dan empat blok pada lahan naungan. Untuk jarak tanam yang digunakan yaitu 15 cm dalam baris dan 30 cm antar plot tanaman. Pada masingmasing blok jumlah genotipe yang ditanam berbeda yaitu pada blok 1 terdapat 20 genotipe, blok 2 terdapat 44 genotipe, blok 3 terdapat 18 genotipe dan pada blok 4 terdapat 18 genotipe serta setiap blok ditanami tanaman pembanding sebanyak 7 varietas. Untuk karakter agronomi yang akan diamati yaitu umur berbunga 50%, umur panen, tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah gabah isi, jumlah gabah hampa per malai, bobot gabah per plot dan HRK (hasil relatif kontrol). Data pengamatan yang diperoleh dianalis dengan analisis varian. Karakter yang memiliki hasil beda nyata pada F hitung maka di uji lanjut dengan analisis LSI (Least Significant Increase). Hasil analisis varian pada percobaan ini menunjukkan interaksi yang tidak nyata antara lingkungan dengan genotipe tehadap umur berbunga, tinggi tanaman,viii jumlah anakan produktif, jumlah gabah isi, jumlah hampa, dan bobot per plot. Selanjutnya pada sumber keragaman lingkungan karakter umur berbunga 50%, umur panen, tinggi tanaman, jumlah anakan produkdif, jumlah gabah isi, jumlah gabah hampa dan bobot per plot menunjukkan hasil yang berbeda nyata. Untuk sumber keragaman genotipe, karakter yang menunjukkan berbeda nyata terdapat pada karakter umur panen, tinggi tanaman, jumlah gabah isi, dan jumlah gabah hampa. Sedangkan pada karakter umur berbunga, jumlah anakan produktif dan bobot per plot menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata. Berdasarkan hasil analisis varian dari 100 genotipe yang di uji terdapat 12 genotipe yang memiliki nilai HRK >60%. Genotipe yang memiliki nilai HRK >60% merupakan genotipe yang toleran terhadap naungan 70% dan genotipegenotipe tersebut adalah genotipe 9, 39, 45, 51, 60, 61, 73, 75, 77, 91, 191 dan 197.

English Abstract

Upland rice is generally cultivated on dry land. Dry land has great potential for the development of farming and increasing rice production. The amount of potential dry land reaches 68,64 million ha with a share of 25,09 million ha for annual crops and 43,55 million ha used for annual crops. From the extent of dry land planted with annual crops, upland rice can be used as an intercrop on plantations and forests so that food needs remain fulfilled. At present the upland rice varieties that have been released and have the advantage of being tolerant to shade are the Jatiluhur variety and the Rindang variety.Jatiluhur which is an old variety along Rindang 1 and Rindang 2 which were released in 2017. These varieties are tolerant of 50-55% shade conditions. Seeing the condition of the shade that can exceed 60%, we still need rice varieties with a higher tolerance level to the shade. Therefore we need new varieties that have tolerance to shade stress and new gene sources as cross material to assemble new shade tolerant varieties. One of them is through screening activities in paranet. This research will be conducted in October 2018 until April 2019 at the Muara Experimental Garden in Bogor. The tools that will be used in this research are Lux meter, paranet, raffia, wood markers, SPAD, scissors, envelopes, sacks and raffia. As for the materials used were 100 test genotypes, seven comparative varieties namely Jatiluhur (A), Rindang 1 (B), Ridang 2 (C), IR64 (D), Kalimutu (E), Inpago 6 (F) and Inpago Unsoed ( G), manure, Furadan, chemical fertilizer 75 kg ha-1 SP36, 210 kg ha-1 Urea, and 75 kg ha-1 KCL. The design used in this study is the factorial randomized block design (RBF) with augmented expansion which is divided into four random blocks on the control land and four blocks on the shaded land. For the spacing used 15 cm in rows and 30 cm between plant plots. In each block the number of genotypes planted is different, namely in block 1 there are 20 genotypes, block 2 there are 44 genotypes, block 3 there are 18 genotypes and in block 4 there are 18 genotypes and each block is planted with 7 varieties of comparison plants. For agronomic characters that will be observed are 50% flowering age, harvest age, plant height, number of tillers, number of filled grains, number of empty grains per panicle, grain weight per plot and HRK (relative control yield). Observation data obtained were analyzed by analysis of variance. Characters that have significantly different results on the F count are then tested further by analyzing the LSI (Least Significant Increase). The results of the analysis of variance in this experiment showed no significant interaction between the environment and the genotype toward flowering age, plant height, number of productive tillers, number of filled grains, number of blanks, and weights per plot. Furthermore, on the source of environmental diversity the characters of 50% flowering age, harvest age, plantx height, number of productive tillers, number of filled grains, number of empty grains and weight per plot showed significantly different results. For sources of genotypic diversity, the characters that show significantly different are found in the characters of harvest age, plant height, number of filled grains, and the number of empty grains. While the flowering age character, the number of productive tillers and weights per plot showed results that were not significantly different. Based on the analysis of variants of 100 genotypes tested there were 12 genotypes that had HRK values >60%. Genotypes that have HRK values >60% are 70% shade tolerant genotypes and genotypes are genotypes 9, 39, 45, 51, 60, 61, 73, 75, 77, 91, 191 and 197

Other obstract

-

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2019/708/051907588
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 633 Field and plantation crops > 633.1 Cereals > 633.18 Rice
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Nur Cholis
Date Deposited: 24 Aug 2020 07:18
Last Modified: 24 Aug 2020 07:18
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/173739
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item