Analisis Pendekatan Target Costing dalam Peningkatan Laba Produk Krupuk Kedelai UD. SBY Production di Desa Wangunrejo, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan

Kusumaningrum, Alviani (2019) Analisis Pendekatan Target Costing dalam Peningkatan Laba Produk Krupuk Kedelai UD. SBY Production di Desa Wangunrejo, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Konsumsi kedelai nasional pada periode 2015 hingga 2018 selalu mengalami peningkatan walaupun tidak spesifik. Peningkatan konsumsi kedelai tersebut berbanding lurus dengan peningkatan produksi kedelai walaupun fluktuatif namun menunjukkan peningkatan pula setiap tahunnya dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 2,35% per tahun (Outlook Komoditas Pertanian Sub-Sektor Tanaman Pangan Kedelai, 2016). Kedelai yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia mayoritas adalah kedelai tidak langsung atau harus melewati proses pengolahan menjadi tempe, tahu, kecap, tauco, dan tauge. Olahan biji kedelai dapat dibuat menjadi berbagai bentuk seperti tempe, tahu (tofu), bermacam-macam saus penyedap (salah satunya kecap, yang aslinya dibuat dari kedelai hitam), susu kedelai, tepung kedelai, serta tauco. Peningkatan kebutuhan kedelai dapat dikaitkan dengan meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap tahu dan tempe, serta untuk pasokan industri kecap (Mursidah, 2005). UD. SBY Production merupakan salah satu perusahaan berskala menengah yang memproduksi berbagai macam oleh-oleh yang terletak di Desa Wangunrejo, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan. Perusahaan ini menjadikan krupuk kedelai sebagai produk utama perusahaan. Menurut pemilik perusahaan yaitu ibu Sumiarsih, UD. SBY Production adalah perusahaan yang penjualannya telah memperluas hingga ke luar negeri. UD. SBY Production mulai mengembangkan produk krupuk kedelai dan menjadikannya produk unggulan sejak tahun 2004 yang bermula dari usaha keluarga yang telah dilakukan sejak tahun 1994. Permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan adalah laba yang tidak berkembang. Hal ini disebabkan oleh harga biaya produksi yang tinggi, sehingga perusahaan tidak bisa menaikkan harga jual krupuk kedelai. Selain biaya produksi yang tinggi juga banyaknya industri krupuk kedelai yang berkembang di Kabupaten Lamongan membuat persaingan yang ketat sehingga untuk dapat bersaing dipasar maka perusahaan dituntut memiliki keunggulan agar dapat bertahan dan memenangkan persaingan untuk mencapai target perusahaan khususnya berupa maksimalisasi laba atau minimalisasi biaya. Suatu perusahaan agar dapat bersaing dalam lingkungan pasar, perusahaan tersebut dituntut agar dapat menciptakan suatu inovasi produk yang baik, dan harganya pun lebih rendah atau paling tidak sama dengan harga yang ditawarkan oleh para pesaingnya. Persaingan yang terjadi antara industri krupuk kedelai di Kabupaten Lamongan bukanlah mengenai kualitas namun mengenai harga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis biaya produks maupun non produksi untuuk meningkatkan laba , menganalisis perbandingan biaya produksi dan laba yang diperoleh antara penggunaan biaya produksi dihasilkan dari perusahaan tersebut dengan menggunakan metode tradisional. Penelitian ini juga digunakan untuk menemukan strategi mengatasi permasalah yang dihadapi oleh perusahaa pda saat ini. Target Costing adalah suatu sistem dimana penentuan harga pokok produk adalah sesuai dengan yang diinginkan (target) sebagai dasar penetapan harga jual produk yang akan memperoleh laba yang diinginkan, atau penentuan harga pokok sesuai dengan harga jual yang pelanggan rela membayarnya. Jadi proses target costing merupakan sebuah sistem perencanaan laba dan pengendalian biaya hingga dapat menghasilkan harga yang sesuai dengan keinginan pasar tanpa merugikanperusahaan artinya target perusahaan tetap dapat tercapai. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, Biaya total produk krupuk kedelai UD. SBY Production sebelum dilakukan rekayasa nilai adalah sebesar Rp55.763,6. Rekayasa nilai dilakukan pada pengurangan biaya plastik kemasan sebesar Rp1.522,3 dan tenaga kerja langsung sebesar Rp19.273,8. Biaya produk krupuk keelai pada tahun 2017 setelah dilakukan rekayasa nilai adalah Rp50.943,8 per kemasan. Biaya total produk yang diperoleh dengan perungan biaya kemasan dan biaya tenaga kerja langsung lebih rendah dari biaya yang telah ditargetkan. Margin laba yang diterima oleh perusahaan dalam produksi krupuk kedelai dengan metode target costing setelah melakukan rekayasa nilai adalah sebesar Rp9.056,2 per kemasan. Hasil total biaya produk krupuk kedelai per kemasan setelah rekayasa nilai adalah sebesar Rp50.943,8. Berdasarkan hitungan pada rekayasa nilai diatas, dilakukan pada biaya overhead pabrik yaitu biaya kemasan pada plastik dan penggantian pembuatan label serta pengurangan biaya tenaga kerja langsung. Setelah dilakukan rekayasa nilai, maka margin laba yang diterima oleh UD. SBY Production meningkat menjadi 15,09% per kemasan. Setelah dilakukannya perhitungan dengan metode target costing maka total biaya produksi krupuk kedelai menjadi sebesar Rp523.351.200,00 dibandingkan dengan metode tradisional perusahaan harus mengeluarkan biaya sebesar Rp548.861.200,00. Begitu pula dengan laba yang diterima oleh perusahaan dengan metode biaya tradisional lebih kecil yaitu 7,05% dari total penjualan sebesar Rp43.518.355,00. Namun dengan metode target costing akan menghasilkan laba yang lebih besar dibandingkan dengan yang ditetapkan oleh perusahaan sebesar 15% yaitu dengan laba sebesar Rp92.457.000,00. Perusahaan sebaiknya menggunakan target costing sebagai metode untuk perencanaan biaya produksi selanjutnya untuk mencapai peningkatan laba yang diinginkan. Pengguan metode target costing dalam perencanaan biaya dapat membantu untuk mengetahui jumlah biaya yang harus disediakan dan juga untuk menekan jumlah biaya yang tidak diperlukan.

English Abstract

National soybean consumption in 2015 – 2018 has always increase, although not spesific. The increasing of soybean consumption is equal with fluctuation of soybean production, however this showing yearly enhancement with average growth 2,35% per year (Outlook for Agricultural Commodities in Soybean Food Crop Sub- Sector, 2016). Soybeans comodity usually consumed by Indonesian is raw soybeans or processed soybean. Processed soybeans can be made into various forms such as tempeh, tofu, various flavoring sauces (such as soy sauce, which is originally made from black soybeans), soy milk, soy flour, and tauco. The increase of soybean needs can be attributed to increasing public consumption of tofu and tempeh, as well as for the supply of soy sauce industry (Mursidah, 2005). UD. SBY Production is one of the medium-sized companies that produce various kinds of souvenirs located in Wangunrejo Village, Turi District, Lamongan Regency. This company makes soybean crackers as the company's main product. According to the owner of the company, Mrs. Sumiarsih, UD. SBY Production is a company that selltheir product beside in domestic, they sell for export needs too. UD. SBY Production startedenhancing their soybean cracker products and made it as superior product since 2004 which started from a family business that has been carried out since 1994. The problem that faced by companies is they need to increasing their selling profits. This issue problem emerge due to high price of production costs. Based on this situation, the company cannot increase the selling price of soybean crackers. In addition to the high production costs, the number of soybean cracker industries in Lamongan always increasing. Therefore, the market invent competition to achieve company target by profit maximization or cost minimization, so that the company will be able to compete in market competition. Beside that, the company shouldproduce product innovation with lower pricce at least equal to the price that offered by the competitors. Competition that occurs between the soybean cracker industry in Lamongan Regency is not about quality but about price. The goals of this researchare to analyze the cost of products and non-production to increase company profit andto analyze the comparison of production costs and profits that obtained between the use of production costs generated from the company using traditional methods. This research also used to be find the best strategies overcome with problems that faced by companies nowaday. Target costing is a system which used to determine production cost that corresponding in order to fulfil the expectation of company target (profit) as rationale for product selling price, or to specify the acceptable selling price for consumer. Based on this system, the process of establishment cost target by profit scheming and controlling the cost. Even though, this can be produce the best price that suitable with market demand without inflict a company financial loss. This means company expectation about profit still reachable. Based on the calculations, total cost of soybean cracker products of UD. SBY Production before engineering value is Rp 55,763.6. Value engineering is done by reducing the cost of plastic packaging by Rp 1,522.3 and direct labor of Rp19,273.8. The cost of the soybean cracker product in 2017 after engineering is Rp 50,943.8 per package. The total cost of products obtained by packaging costs and direct labor costs is lower than targeted costs. Profit margin received by the company in the production of soybean crackers with the target costing method after engineering the value is Rp 9,056.2 per package. The total cost of soybean cracker products per package after value engineering is Rp 50,943.8. Based on the calculation on the value engineering above, it is carried out on factory overhead costs, namely the cost of packaging on plastic and replacement of labeling and reduction of direct labor costs. After value engineering, the profit margin received by UD. SBY Production increased to 15.09% per package. After calculating the target costing method, the total cost of producing soybean crackers becomes Rp. 533,351,200.00 compared to the traditional method of the company having to pay Rp. 488,6161,200.00. Similarly, the profit received by the company with the traditional cost method is smaller, namely 7.05% of the total sales of Rp.43,518,355.00. However, the target costing method will produce a profit that is greater than the one set by the company of 15%, with a profit of Rp. 92,457,000.00. Companies should be using target costing as a method for planning further production costs to achieve the desired increase in profits. Using the target costing method in cost planning can help determine the amount of costs that must be provided and also to reduce the amount of costs that are not needed.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2019/518/051907292
Uncontrolled Keywords: -
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 635 Garden crops (Horticulture) > 635.6 Edible garden fruits and seeds > 635.65 Garden legumes > 635.655 Soybeans
Divisions: Fakultas Pertanian > Agribisnis
Depositing User: soegeng sugeng
Date Deposited: 18 Aug 2020 03:03
Last Modified: 18 Aug 2020 03:03
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/173647
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item