Keanekaragaman Arthropoda di Pematang Persawahan dengan Sistem PHT

Yusuf, Muhammad Akhrizul (2019) Keanekaragaman Arthropoda di Pematang Persawahan dengan Sistem PHT. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Pengendalian Hama Terpadu (PHT) adalah konsep mengenai pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dengan pendekatan ekologi yang bersifat multidisiplin untuk mengelola populasi hama dan penyakit dengan memanfaatkan beragam taktik pengendalian yang kompatibel dalam suatu kesatuan koordinasi pengelolaan. Prinsip-prinsip PHT menjadi landasan dalam menjalankan PHT di lapangan, prinsip PHT tersebut adalah budidaya tanaman sehat, melestarikan dan memanfaatkan musuh alami, pengamatan secara periodik atau berkala, dan petani sebagai ahli PHT. Salah satu bentuk lain penerapan PHT adalah dengan menanam tanaman berbunga sebagai refugia. Refugia adalah suatu area yang ditumbuhi beberapa jenis tumbuhan yang dapat menyediakan tempat berlindung, sumber pakan, atau sumberdaya lainnya bagi musuh alami. Contoh penerapan PHT di Indonesia ada di desa Bendo, Bojonegogoro, Jawa Timur. Masyarakat yang tergolong kedalam kelompok tani Mekar Jaya sejak 2014 sudah menerapkan strategi PHT dengan menanam tanaman refugia. Sebelum itu mereka masih mengikuti cara bertani konvensional yang mengaplikasikan pestisida secara rutin. Semenjak menerapkan PHT hasil panen mereka meningkat, dan hama yang muncul pada lahan berkurang. Akan tetapi para petani tidak terlalu mengetahui secara pasti kenapa hal tersebut terjadi, terutama kondisi arthropoda pada lahan yang sudah menerapkan PHT selama 1 tahun dan 2 tahun dan saat pergantian musim tanam, pematang pada lahan tidak dihilangkan tetapi dibiarkan apa adanya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai arthropoda yang ada pada lahan, terlebih pada pematang lahan yang dibiarkan apa adanya saat pergantian musim tanam. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juli 2016 hingga September 2016 di pematang lahan bekas musim tanam padi milik anggota Kelompok Tani Mekar Jaya I dan II di Desa Bendo Kecamamatan Kapas Kabupaten Bojonegoro dan Laboratorium Hama Tumbuhan I Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Lokasi pengamatan terdiri dari 2 lahan dengan luas masing-masing 25 Ha. Dari luasan tersebut diambil 8 zona pengamatan dari tiap lahan dengan masing-masing zona sepanjang 100 meter yang kemudian diambil 10 titik pengamatan. 8 zona tersebut terdiri dari 4 zona pematang lahan dengan tanaman refugia kenikir dan 4 zona tanaman refugia rumput liar. Pengambilan sampel arthropoda dilakukan dengan metode farmcop, pitfall trap, dan visual dengan masing-masing metode pengamatan selama 6 hari sekali, sedangkan metode visual dilakukan 2 kali sehari pada pagi hari dan sore hari. Hasil pengamatan dianalisis menggunakan metode ANOVA dua arah, indeks Bray-Curtis, dan indeks keanekaragaman dengan bantuan aplikasi IBM SPSS versi 22, Microsoft Excel 2010, dan aplikasi R versi 3.5.1. Hasil yang didapatkan dari keseluruhan pematang kedua lahan bekas padi terdapat 155 jenis arthropoda yang terdiri didominasi ordo Coleoptera kemudian diikuti Hymenoptera, Araneae, dan Diptera. Dari keseluruhan arthropoda tersebut tidak ada perbedaan yang nyata setelah dilakukan uji ANOVA dua arah pada pengaruh dari lama waktu penerapan PHT terhadap iv jumlah spesies arthropoda yang ditemukan. Begitu pula dengan pengaruh lama waktu penerapan PHT terhadap jumlah individu arthropoda yang ditemukan. Selain itu tidak ada perbedaan yang nyata juga dihasilkan dari uji ANOVA dua arah pada lama waktu penerapan PHT terhadap jumlah spesies musuh alami maupun jumlah individu musuh alami. Dari keseluruhan sampel arthropoda yang didapatkan terlihat adanya banyak kesamaan sampe yang didapatkan dari pematang kedua lahan bekas padi tersebut. Hasil perhitungan indeks Bray-Curtis untuk melihat apakah adanya keanekaragaman antar pematang kedua laan bekas padi menunjukan nilai dari 0,30 sampai dengan 0,70. Hal ini menunjukan tidak adanya perbedaan yang nyata pada pematang kedua lahan bekas padi tersebut. Hasil yang berbeda terlihat saat dilakukan uji ANOSIM pada komposisi arthropoda pada pematang kedua lahan yang menunjukan adanya perbedaan yang nyata pada komposisi arthropoda dari kedua lahan. Sementara itu penggolongan spesies arthropoda berdasarkan peranannya di lahan menunjukan predator berada pada peringkat pertama, diikuti serangga lain dan herbivor. Jika dilihat dari penggolongan peran berdasarkan individu maka tertinggi adalah predator, kemudian hebivor dan detrivor. Sementara itu kondisi tanaman pada pematang kedua lahan bekas padi menunjukan kondisi rumput liar dengan beragam famili, yaitu poaceae,cyperaceae, araceae, rubiceae, asteraceae, euphorbiaceae, balsaminaceae, oxalidaceae, dan portulacaceae.

English Abstract

Integrated Pest Management (IPM) is a concept about pest management with multi-discipline ecological approach to manage pest and disease population with many tactics that compatible in one coordinated management. IPM principle become basis for it’s application on field, that principle is healthy plant cultivation, use and conserve of natural enemies, periodic oversee, and farmer as IPM expert. Another application of IPM is cultivating flowering plant as refugia. Refugia is area that populated by plants that can offer shelter, food, or other resources for natural enemies. One example of that IPM application is in Indonesia, to more precise at Bendo village, Bojonegoro, East Java. In that village farmer that join Mekar Jaya Farmer Group has already implemented IPM such as refugia plant since 2014. Before that time, they still follow older conservative method of farming that periodically applying pesticide. After IPM implementation they say that there is increase in harvest yield, also the pest in cultivated plant is decreasing. But they are not sure why that happen, especially about arthropod condition on the field that already implemented IPM for 1 year and 2 year, and when the planting season change the embankment on field is not destroyed and left as it in field. This research aim to get information about arthropod in the field, especially in the embankment that left as it as planting season change. This research conducted from July 2016 to September 2016 in embankment field that just finished rice planting season that owned by farmer in Mekar Jaya Farmer Group I and II in Bendo Village Kapas Sub-District Bojonegoro Regency and in Plant Pest I Laboratory Plant and Disease department Agriculture Faculty University of Brawijaya. Observation area consisted of 2 field as large as 25 Ha. From each field 8 observation zones was decided each approximity 100 meter which then split again to 10 obervation spot. The 8 zones was consisted of 4 zones with flowering refugia plant known as kenikir and 4 zones that only have wild grass as it refugia plant. The method to take arthropod samples from field is with farmcop, pitfall trap, and visual oberservation with each method was repeated once every 6 days with for each visual observation was done twice a day in morning and evening time. Data analysis was conducted with following method as Two-Way ANOVA, Bray-Curtis index, and composition index with help of IBM SPSS ver 22, Microsoft Excel 2010, and R application version 3.5.1. After observation was done, there were 155 kinds of arthropod sample captured from both field with former rice planting season, the order of Coleoptera, followed by Hymenoptera, Araneae, and Diptera was make the major of samples. After two-way ANOVA analysis was conducted there were no significant difference impact made by how long IPM is implemented to how many arthropod kinds found. Another two-way ANOVA test also yield no significant difference impact by long time IPM implemented to total arthropod population found in field. Even if the sample used for two-way ANOVA test was just natural enemies, the result was still no significant impact of long IPM implemented time to either kinds natural enemies found nor it’s population. From simple glance when comparing arthropod found on both field, it seems there was not many differences in vi arthropod kinds. Bray-Curtis similiarity index test was conducted to see if there was really any similiarity of arthropod from both field. The result show range from 0,30 up to 0,70 this means the similiarity was rather high which also translated to no significant different from embankment of both field that pass rice planting season. Although when analyzed with ANOSIM in R application the result show there is significant composition of arthropod from both field embankment. Meanwhile if arthropod samples was grouped by it’s role on field show that predators claim the top spot followed by other insect and herbivore based on species. If grouping was based on population predators still in top rank but followed by detrivore and herbivore as other insect population was rather small. Next thing to consider is the condition of wild grass in embankment of field of former rice planting season, the grass was found belong to some family of poaceae, cyperaceae, araceae, rubiceae, asteraceae, euphorbiaceae, balsaminaceae, oxalidaceae, and portulacaceae.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2019/56/051906718
Uncontrolled Keywords: -
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 632 Plant injuries, diseases, pests > 632.9 General topics of pest and disease control
Divisions: Fakultas Pertanian > Hama dan Penyakit Tanaman
Depositing User: Endang Susworini
Date Deposited: 18 Aug 2020 02:59
Last Modified: 18 Aug 2020 02:59
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/172579
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item