Sinkretisme Jawa Dan Islam Dalam Tradisi Petik Laut Masyarakat Pesisir Tanjung Papuma, Kabupaten Jember Jawa Timur

Rizkika, Rera (2019) Sinkretisme Jawa Dan Islam Dalam Tradisi Petik Laut Masyarakat Pesisir Tanjung Papuma, Kabupaten Jember Jawa Timur. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Petik laut merupakan budaya tahunan yang dilakukan masyarakat selama bulan suro, untuk tanggal pelaksanaan tergantung kesiapan panitian dan masyarakat. Perayaan ini merupakan perayaan besar yang melibatkan masyarakat sekitar dan pemerintah. Acara persiapan petik laut tergolong lama, namun untuk acara inti dilakukan selama tiga hari yaitu hari pertama kataman AlQur‟an, hari kedua tasyakuran, hari ketiga merupakan acara puncak dengan melakukan pelarungan sesajen dan melaksanakan hiburan masyarakat. Petik laut merupakan budaya bahari yang mengandung nilai agama dan budaya dalam pelaksanaannya sehingga menimbulkan pertemuan yang disebut dengan sinkretisme. Petik laut merupakan budaya lokal yang merupakan selamatan dan syukuran nelayan atas apa yang sudah diperoleh selama ini. Mulai dari terhindar dari musibah, marabahaya, rejeki berlimpah dan keselamatan yang diperoleh selama melaut. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis sejarah petik laut masyarakat pesisir tanjung papuma, sinkretisme Jawa dan Islam daram tradisi petik laut, peran dan upaya masyarakat dalam tradisi petik laut serta manfaat secara umum eksistensi petik laut terhadap masyarakat dan ekologinya. Sinkretisme merupakan pertemuan budaya lokal dan agama, hal ini menyebabkan muslim terpecah menjadi dua kelompok besar yaitu Islam abangan dan Islam santri. Islam abangan adalam kelompok yang kurang taat pada syariat agama karena masih bersikap sinkretis dengan menyatukan unsur pra-Hindu, Hindu, Budha dan Islam. Islam santri merupakan kelompok yang lebih taat dalam menjalankan syariat agama, meskipun tidak sekuat Islam abangan, kelompok Islam santri juga masih terpengaruh animism-dinamisme dan HinduBudha. Penelitian tentang sinkretisme pada petik laut merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder. Sasaran wawancara meliputi Kepala Desa Sumberjo, Tokoh Masyarakat Pesisir, Tokoh Agama, Ketua Pelaksana, Pemilik Kapal, Masyarakat Pesisir Pantai, Masyarakat Umum dan Aparat Desa Sumberjo. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan teknik pengumpulan data secara wawancara, observasi dan dokumentasi pada saat penelitian berlangsung. Metode analisis data yang dilakukan dengan cara deskriptif kualitatif untuk menganalisis hasil wawancara dan pengamatan data yang sudah terkumpul. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah petik laut merupakan upacara adat tahunan yang selalu diselenggarakan oleh para nelayan setempat mulai sejak zaman nenek moyang dan tidak ada yang tahu persis kapan awal upacara adat tersebut berlangsung. Petik laut sangat erat kaitannya dengan perlengkapan upacara berupa sajen. Tujuan upacara petik laut adalah untuk meminta keselamatan dan hasil tangkapan yang melimpah pada Allah SWT. Fungsi lain dari petik laut adalah melestarikan budaya bahari agar tidak hilang termakan zaman. Prosesi upacara petik laut dimulai dengan kataman Al-Qur‟an, tasyakuran, pelarungan sajen dan hiburan masyarakat. Sinkretisme membentuk suatu budaya yang menarik untuk diteliti, karena dalam prosesnya sinkretisme masih menjadi perdebatan antara Islam abanganvi dan Islam santri. Kelompok Islam santri masih menganggap sinkretisme budaya dan agama menjadi hal yang tidak boleh dilakukan karena kentalnya pengaruh animism-dinamisme dan Hindu-Budha. Namun sinkretisme muncul dari metode penyebaran Islam oleh walisongo yang merupakan metode paling elastis dan akomodatif terhadap unsur-unsur budaya lokal. Peleburan budaya dan agama dinilai paling aman diterima oleh masyarakat dengan tidak menghapuskan kepercayaan awal tapi semakin menggeser kepercayaan ke arah yang lebih keIslaman. Peran uapaya masyarakat dalam hal petik laut adalah pelestarian budaya, regenerasi penerus serta keterlibatan masyarakat dalam rangkaian acara petik laut. Petik laut sendiri memiliki manfaat budaya lestari bidang bahari, sosial ekonomi masyarakat meningkat, konservasi dan ekologi serta yang utama adalah meningkatnya nilai religiulitas dan kedekatan dengan Allah SWT, sebab petik laut menghadirkan kataman dan tasyakuran sesuai Agama Islam. Kesimpulan dari penelitian ini adalah petik laut merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang, namun tidak ada yang tau dengan jelas kapan pertama kali petik laut dilaksanakan. Tujuan utama petik laut yaitu meminta keselamatan dan sebagai bentuk rasa syukur nelayan atas rezeki yang diperoleh dari hasil melaut. Sinkretisme merupakan pertemuan antara budaya kejawen dan agama. Petik laut mengalami perkembangan dari segi antusiasme masyarakat, hiburan rakyat sera beberapa peraturan yang mulai berubah. Peran masyarakat sangat diperlukan untuk kelestarian budaya bahari petiki laut. Selain itu manfaat lain yang dapat diperoleh adalah dari segi konservasi, ekologi, sosial ekonomi, serta religiusitas masyarakat pada Allah SWT selaku pemilik hidup setiap umatnya.

English Abstract

-

Other obstract

-

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FPIK/2019/95/051903134
Subjects: 100 Philosophy, parapsychology and occultism, psychology > 148 Dogmatism, eclecticism, liberalism, syncretism, traditionalism
Divisions: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan > Sosial Ekonomi Agrobisnis Perikanan
Depositing User: Nur Cholis
Date Deposited: 04 Oct 2020 06:34
Last Modified: 22 Oct 2021 06:15
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/169957
[thumbnail of RERA RIZKIKA (2).pdf]
Preview
Text
RERA RIZKIKA (2).pdf

Download (2MB) | Preview

Actions (login required)

View Item View Item