Profil Protein Dan Evaluasi Insulin-Like Growth Factor-1 Teripang Pasir Holothuria Scabra Yang Diberi Formula Pakan Berbahan Tepung Cacing Sutera Tubifex Sp

Pattinasarany, MaureenMercy (2015) Profil Protein Dan Evaluasi Insulin-Like Growth Factor-1 Teripang Pasir Holothuria Scabra Yang Diberi Formula Pakan Berbahan Tepung Cacing Sutera Tubifex Sp. Doctor thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Pengembangan budidaya teripang pasir untuk memenuhi kebutuhan protein masyarakat maupun untuk menjamin kesinambungan produksi teripang merupakan tantangan di masa yang akan datang. Usaha budidaya teripang pasir secara teknis dan ekonomis memungkinkan untuk dikembangkan secara massal Kendala utama yang dihadapi budidaya teripang adalah pertumbuhan teripang pasir yang lambat serta belum tersedianya pakan yang diformulasikan secara khusus untuk menunjang pertumbuhan. Pengaruh utama pada pertumbuhan adalah pakan dan fungsi hormonal terutama oleh Insulin-like Growth Factor-1 (IGF-1). IGF-1 diklaim sebagai indikator pertumbuhan maupun status nutrisi organisme budidaya. Namun, informasi mengenai penggunaan IGF-1 pada budidaya teripang pasir belum banyak digali. Cacing sutera Tubifex sp diketahui telah lama digunakan sebagai pakan beberapa jenis ikan. Cacing ini dipublikasikan dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis ikan. Oleh karenanya perlu dilakukan peneltian untuk mengevaluasi penggunaan IGF-1 sebagai penanda pertumbuhan dan pengembangan formula pakan teripang pasir Holothuria scabra berbahan cacing sutera Tubifex sp serta profil protein yang dihasilkan. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji sintesis IGF-1 sebagai respons teripang pasir terhadap kebutuhan protein dalam formula pakan, mengkaji hubungan sintesis IGF-1 dan pertumbuhan teripang pasir. mengkaji sintesis IGF-1 sebagai respons penggunaan tepung cacing sutera dalam formula pakan untuk mendukung pertumbuhan teripang pasir serta untuk mengetahui ada tidaknya perubahan profil protein teripang pasir sebagai akibat substitusi sejumlah tertentu dosis tepung cacing sutera dalam formula pakan. Penelitian ini terdiri dari 2 eksperimen, yaitu 1) penentuan dosis optimum protein dalam formula pakan dan 2) evaluasi protein pada formula pakan teripang pasir yang disubstitusi dengan cacing sutera Evaluasi kebutuhan protein optimum dalam pakan untuk pertumbuhan teripang pasir dilakukan dengan memberikan satu dari 7 isoenergi pakan beda dosis protein (Protein: 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, 30% dan 35%; ~3,6 kkal/g pakan) dengan serta kontrol yaitu pemeliharaan tanpa pemberian pakan atau 0% selama 42 hari. Teripang pasir yang digunakan berbobot basah rata-rata 21,5 ± 2,5 g. Peubah yang diamati adalah kelulushidupan, laju pertumbuhan spesifik dan juga pertumbuhan mutlak, rasio konversi pakan dan kadar IGF-1. Dosis protein yang memberikan pertumbuhan terbaik digunakan sebagai patokan untuk pembuatan pakan formula pada eksperimen 2. Evaluasi bahan baku pakan untuk mendukung pertumbuhan teripang pasir dilakukan dengan mensubstitusi tepung ikan dengan tepung cacing sutera Tubifex sp sebagai sumber protein. Perbandingan persentase tepung cacing dan tepung ikan dalam pakan uji adalah 0%:1,0%, 0,5%:9,5% 1,0%:9,0%, 1,5%:8,5%, 2,0%:8%, 2,5%:7,5% dan 3,0%:7,0%. Pemberian pakan dilakukan 1 kali sehari pada teripang pasir yang berbobot basah rata-rata 23,4 ± 1,6 g selama 42 hari. Peubah yang diamati adalah kelulushidupan, pertumbuhan mutlak, rasio konversi pakan (FCR), rasio efisiensi protein (PER) dan sintesis IGF-1. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah 1) kadar IGF-1 baik plasma maupun dinding tubuh IGF-1 dapat digunakan untuk evaluasi kebutuhan protein dalam formula pakan. Teripang pasir membutuhkan 10% protein dalam pakan untuk mendukung pertumbuhannya, 2) Kadar IGF-1 baik plasma maupun dinding tubuh IGF-1 dapat digunakan evaluasi pertumbuhan teripang pasir, 3) Kadar IGF-1 dapat digunakan untuk evaluasi performa bahan baku pakan formula seperti tepung cacing sutera Tubifex sp yang diberikan bagi teripang pasir. 4) Substitusi sejumlah tertentu cacing sutera menyebabkan perubahan pada profil protein dan asam amino teripang pasir. Meskipun tidak diidentifikasi, dinding tubuh teripang pasir didominasi oleh 2 protein dengan berat molekul 38,6 kDa dan 15 kDa. Kebaruan penelitian ini adalah bahwa ditemukan pita protein dengan berat molekul 38,6 kDa dan 15 kDa pada teripang pasir yang diduga mampu menginduksi IGF-1 teripang pasir IGF-1 diketahui berikatan dengan IGF-1R dan mengakibatkan adanya signaling transduksi yang berimbas pada respon pertumbuhan. Penelitian ini juga menemukan dosis kebutuhan protein dan bahan baku pakan berbasis cacing sutera yang dapat memicu pertumbuhan teripang pasir dapat dideteksi secara cepat dan sensitf dengan menggunakan IGF-1. Pertumbuhan yang dipicu oleh adanya substitusi cacing sutera menyebabkan perubahan profil protein meskipun dalam penelitian ini tidak dilakukan identifikasi jenis protein. Berdasarkan penelitian ini dapat disarankan bahwa untuk mendukung pertumbuhan direkomendasikan penggunaan pakan dengan dosis 10% protein dengan substitusi tepung ikan dengan tepung cacing sutera sebesar 1%. Perlu dilakukan penelitian tentang: 1) Waktu yang akurat untuk pengambilan cairan coelomic untuk pengukuran IGF-1 sebagai indikator pertumbuhan dan efisiensi pakan. Hal ini guna menghindari stress yang akan mengakibatkan eviscerated pada teripang yang berujung pada perlambatan pertumbuhan teripang. 2) Protein yang mendominasi dinding tubuh teripang dan kemungkinan penggunaannya untuk kepentingan lainnya seperti bioaktif maupun obat-obatan.

Item Type: Thesis (Doctor)
Identification Number: DIS/593.96/PAT/p/2015/061505562
Subjects: 500 Natural sciences and mathematics > 593 Miscellaneous marine and seashore invertebrates > 593.9 Echinodermata and Hemichordata
Divisions: S2/S3 > Doktor Ilmu Perikanan dan Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Depositing User: Sugiantoro
Date Deposited: 27 Aug 2015 11:16
Last Modified: 27 Aug 2015 11:16
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/160508
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item