Pengaruh Perubahan Penutup Lahan Terhadap Daya Resap Airtanah (Studi Kasus Mata Air Sumberbrantas)

Pangastuti, Dini (2011) Pengaruh Perubahan Penutup Lahan Terhadap Daya Resap Airtanah (Studi Kasus Mata Air Sumberbrantas). Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Daerah sekitar mata air yang berfungsi sebagai zona resapan mata air memerlukan pengelolaan dan pemanfaatan khusus. Deforestasi maupun degradasi lahan di zona resapan mata air mengakibatkan terganggunya proses hidrologis, termasuk penurunan daya resap airtanah sehingga megakibatkan penurunan debit mata air. Semakin banyak vegetasi yang menutup lahan maka daya resap airtanah semakin cepat. Mata Air Sumberbrantas merupakan salah satu mata air di Kota Batu yang menjadi termasuk dalam kawasan hulu DAS Brantas, dimana lokasinya berbatasan dengan Kawasan Tahura R. Soerjo Kota Batu. Pada tahun 1998 hingga tahun 2003, kawasan Tahura R. Soerjo Kota Batu terjadi deforestasi lahan sehingga berpengaruh terhadap proses hidrologis, termasuk terhadap debit mata air Sumberbrantas yang akhirnya mengalami penurunan. Akibatnya terjadi longsor pada tahun 2004 yang tak hanya menelan korban jiwa juga merusak keanekaragaman hayati di kawasan hutan yang menjadi zona resapan mata air. Namun saat ini kawasan Tahura R. Soerjo Kota Batu telah mendapatkan reboisasi namun adanya perubahan penutup lahan dari hutan primer menjadi hutan sekunder atau hasil reboisasi dapat mengakibatkan terjadinya perubahan daya resap airtanah. Studi ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penutup lahan yang dominan terhadap daya resap airtanah di zona resapan Mata Air Sumberbrantas. Sebelum diketahui jenis dan luasan penutup lahan, terlebih dahulu diketahui zona resapan mata air Sumberbrantas. Kemudian dilakukan perhitungan daya resap airtanah dan selanjutnya dilakukan analisis pengaruh perubahan penutup lahan terhadap daya resap airtanah untuk mengetahui seberapa besar penggunaan lahan yang dominan terhadap besaran daya resap airtanah di zona resapan mata air Sumberbrantas. Pendekatan yang digunakan dalam studi ini menggunakan pendekatan before after, dimana periode terbagi dalam tiga decade yaitu sebelum perambahan hutan yang diketahui dari tahun 1997. Periode saat perambahan hutan yang diketahui dari tahun 2000-2003, kemudian periode setelah perambahan hutan yang diketahui terdapat dua kejadian yaitu terjadi longsor pada tahun 2004 dan reboisasi pada tahun 2010. Analisis yang digunakan adalah adalah analisis zona resapan mata air Sumberbrantas untuk mengetahui lokasi zona resapan mata air Sumbebrantas, kemudian diketahui luas dan jenis penutup lahan. Setelah itu dihitung daya resap airtanah yang dilanjutkan dengan analisis pengaruh perubahan penutup lahan dengan daya resap airtanah melalui uji statistic. Hasil studi menunjukkan bahwa saat periode perambahan hutan yaitu dari tahun 2000-2003 diketahui bahwa terjadi penurunan lahan hutan primer di kemiringan 5-10% sebesar 1,2%, penurunan lahan hutan primer di kemiringan 10-30% sebesar 10,2% dan lahan hutan dikemiringan >30% sebesar 9,34% dapat mempengaruhi besarnya daya resap airtanah yang juga mengalami penurunan sebesar 17%. Pada tahun 2004 yang termasuk kategori setelah perambahan hutan namun akibat curah hujan yang tinggi mengakibatkan terjadinya longsor maka hutan yang mengalami penurunan luasan antara lain hutan primer dikemiringan 10-30% sebesar 2,7%, hutan primer dikemiringan >30% sebesar 2% dan hutan sekunder sebesar 13,9% sehingga mempengaruhi daya resap airtanah yang juga mengalami penurunan sebesar 3.4%. Pada tahun 2006 yang termasuk kategori setelah perambahan hutan dimana telah dilakukan reboisasi dengan luasan hutan primer di kemiringan 10-30% serta >30% tetap sedangkan lahan hutan di kemiringan 0-5% dan 5-10% telah menjadi hutan sekunder. Untuk hutan sekunder di kemiringan 10-30% mengalami peningkatan sebesar 47% begitujuga dengan hutan sekunder dikemiringan >30% mengalami peningkatan sebesar 19,4% sehingga dapat mempengaruhi besarnya daya resap airtanah yang juga mengalami peningkatan sebesar 29,3%. Sedangkan pada tahun 2010 terjadi peningkatan hutan sekunder di kemiringan 10-30% sebesar 39,04%, begitujuga dengan hutan sekunder dikemiringan >30% sebesar 41,6% sehingga dapat meningkatkan daya resap airtanah sebesar 29,3%. Berdasarkan hasil uji statistic diketahui bahwa penutup lahan yang dominan terhadap daya resap airtanah adalah hutan primer dan sekunder di kemiringan 10-30% dengan pengaruh sebesar 92,1%. Selain itu juga dapat diketahui bahwa setiap penambahan 1 m² hutan sekunder di kemiringan 10-30% maka memberikan distribusi sebesar 4,674 m³/ tahun. Begitujuga dengan setiap penambahan 1 m² hutan primer di kemiringan 10-30% maka memberikan kontribusi sebesar 0,278 m³/ tahun. Apabila di hutan primer dan sekunder di kemiringan 10-30% mengalami perambahan hutan maka juga mempengaruhi besaran daya resap airtanah meskipun masih terdapat sisa daya resap airtanah dari penutup lahan yang lainnya. Hal ini tentu mempengaruhi debit mata ai dimana juga akan mengalami penurunan sehingga dapat kebutuhan air juga mengalami penurunan. Oleh karena itu terlebih dahulu diketahui pemanfaatan mata air Sumberbrantas dimana berdasarkan kondisi eksisting berfungsi sebagai kebutuhan irigasi dan dialirkan ke Bendungan Sutami. Secara keseluruhan kebutuhan irigasi di Desa Sumberbrantas sebesar 4,627 m 3 /detik/hari, namun ketersediaan air dari

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FT/2011/614/ 051105324
Subjects: 300 Social sciences > 307 Communities > 307.1 Planning and development > 307.121 6 City planning
Divisions: Fakultas Teknik > Teknik Perencanaa Wilayah dan Kota
Depositing User: Endang Susworini
Date Deposited: 03 Feb 2012 11:22
Last Modified: 03 Feb 2012 11:22
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/141116
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item