Analisis Perilaku Pasar Benih Kentang Di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan

Ridayati, - (2018) Analisis Perilaku Pasar Benih Kentang Di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan sumber karbohidrat yang mendukung kebijakan pemerintah untuk diversifikasi pangan. Konsumsi kentang dalam rumah tangga rata-rata meningkat 1,76 kg/kapita/tahun dari tahun 2002- 2012 (Pusat Data Informasi Pertanian, 2013). Peningkatan konsumsi kentang juga diikuti dengan peningkatan produksi kentang dari tahun 2012 sampai tahun 2014. Peningkatan produksi kentang di dukung peningkatan ketersedian benih kentang. Benih kentang yang di produksi oleh produsen benih kentang di Kecamatan Tosari terbagi menjadi dua kategori yaitu benih yang bersertifikat dan benih tidak bersertifikat. Produsen benih kentang yang memproduksi benih kentang berjumlah 8 produsen terdiri dari 4 produsen benih bersertifikat dan 4 produsen benih tidak bersertifikat. Penelitian perilaku pasar penting dilakukan untuk menganalisis tindakan produsen dalam menghadapi dan menyesuaikan dengan situasi pasar. Setiap tindakan yang dilakukan akan menentukan produsen dapat menjaga eksistensi produsen benih kentang atau menanggung konsekuensi kemungkinan keluar dari pasar. Penelitian terkait analisis perilaku pasar benih kentang bertujuan untuk menganalisis tindakan produsen dalam metode penetapan harga, praktik jual beli, dan promosi penjualan yang dilakukan produsen benih kentang di Kecamatan Tosari untuk mempertahankan eksistensi atau keberadaan produsen benih kentang di Kecamatan Tosari. Metode penentuan lokasi dilakukan secara purposive dengan pertimbangan lokasi penelitian yaitu Kecamatan Tosari merupakan sentra produksi kentang di Kabupaten Pasuruan, dan juga berdasarkan keberadaan produsen benih kentang di Kecamatan Tosari. Metode penentuan responden dilakukan secara sensus. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi, sedangkan metode analisis data menggunakan statistik deskriptif untuk menganalisis metode penentuan harga, praktik jual beli, dan promosi penjualan yang selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel pada hasil pembahasan. Hasil penelitian perilaku pasar benih kentang di Kecamatan Tosari terdapat perbedaan perilaku produsen benih bersertifikat dan produsen benih tidak bersertifikat dalam metode penetapan harga, praktik jual beli, dan promosi penjualan. Penetapan harga yang dilakukan produsen tidak bersertifikat yaitu 50% bertujuan mempertahankan pangsa pasar. Pertimbangan penetapan harga produsen tidak bersertifikat yaitu harga produsen lainnya sebesar 37,5%, dan 12,5% secara negosiasi secara individu. Hal tersebut menunjukan produsen benih bersertifikat lebih memperhatikan dan menyesuaikan harga dengan harga yang diberlakukan oleh produsen bersertifikat, agar dapat bertahan di pasar karena benih yang diproduksi tidak mempunyai label benih. Sedangkan 50% produsen benih bersertifikat dalam menetapkan harga tidak memperhatikan harga produsen lainnya. Penetapan harga yang dilakukan oleh produsen bersertifikat berdasarkan pertimbangan biaya produksi sebesar 25% dan harga yang telah disepakati sebesar 25%.ii Praktik jual beli yang dilakukan oleh produsen tidak bersertifikat dalam sistem pembayaran penjualan yaitu hanya menerapkan 2 sistem pembayaran yaitu 2 produsen hanya menerapkan pembayaran tunai, sedangkan 2 produsen lainnya menerapkan pembayaran tunai dan setelah konsumen panen. Sedangkan produsen bersertifikat menerapkan 3 sistem pembayaran penjualan yaitu 1 produsen hanya menerapkan pembayaran tunai, sedangkan 3 produsen lainnya menerapkan pembayaran tunai, pembayaran dimuka, dan pembayaran setelah panen. Pembayaran dimuka tidak diterapkan produsen tidak bersertifikat karena produksi benih lebih kecil dibandingkan produsen benih bersertifikat, sehingga tidak dapat memastikan ketersediaan benih yang dipesan konsumen terlebih dahulu. Produsen juga melakukan berbagai cara pendekatan dengan konsumen yaitu 50% melakukan kontroling perkembangan benih yang ditanam konsumen, 12,5% menerima keluhan konsumen, dan 37,5% mempertahankan kualitas benih. Pihak yang terlibat dalam praktik jual beli 100% dilakukan sendiri oleh produsen benih kentang, hal tersebut untuk menjaga kepercayaan konsumen terhadap benih yang dipasarkan. Promosi penjualan mulut ke mulut dilakukan oleh semua produsen tidak bersertifikat. Sementara produsen bersertifikat melakukan beragam promosi penjualan yaitu 12,5% hanya mulut ke mulut, 12,5% sampel dan mulut ke mulut, 12,5% media sosial, dan 12,5% sosialisasi serta demonstrasi plot. Kegiatan promosi yang dilakukan oleh produsen benih bersertifikat 50% bertujuan untuk meningkatkan volume penjualan dengan memperkenalkan produk tidak hanya di Kecamatan Tosari namun juga di luar Kecamatan Tosari. Sementara produsen benih kentang tidak bersertifikat melakukan kegiatan promosi untuk membujuk dan mempengaruhi konsumen untuk melakukan pembelian benih kentang. Kesimpulan dari penelitian terkait perilaku pasar benih kentang di Kecamatan Tosari yaitu terdapat perbedaan perilaku produsen benih bersertifkat dan tidak bersertifikat yaitu produsen tidak besertifikat penetapan harga lebih besar berdasarkan harga produsen lainnya yaitu 37,5% dengan tujuan mempertahankan pangsa pasar dan produsen bersertifikat menetapkan harga berdasarkan biaya produksi dan kesepakatan harga dengan masing-masing persentase 25%. Produsen benih kentang menerapkan sistem pembayaran berdasarkan kemampuan konsumen untuk meningkatkan volume penjualan. 37,5% produsen bersertifikat menerapkan sistem pembayaran tunai, pembayaran dimuka dan pembayaran setelah konsumen panen, sedangkan 25% produsen tidak besertifikat hanya menerapkan tunai dan setelah konsumen panen. Selain itu semua produsen juga melakukan pendekatan dan tidak ada perantara dalam transaksi untuk menjaga hubungan jangka panjang dengan konsumen. Promosi penjualan yang dilakukan produsen tidak bersertifikat yaitu 50% dari mulut kemulut dengan tujuan memperoleh konsumen sedangkan produsen bersertifikat melakukan kegiatan promosi yaitu mulut kemulut, sampel, demonstrasi plot, sosialisasi, dan media sosial untuk meningkatkan volume penjualan. Saran dari penelitian ini produsen benih kentang tidak bersertifikat agar melakukan sertifikasi untuk dapat memperluas daerah pemasaran dan tidak terkendala peredaran benih kentang ke luar Kabupaten Pasuruan. Produsen benih pada praktik jual beli agar membuat perjanjian tertulis yang disaksikan penjual dan pembeli sehingga tidak dirugikan oleh konsumen yang tidak membayar. Bagi peneliti selanjutnya agar mengkaji lebih dalam lagi penentuan harga berdasarkan kesepatakan harga karena juga berpengaruh terhadap keputusan penetapan harga.

English Abstract

Potatoes (Solanum tuberosum L.) are a source of carbohydrates that support government policies for food diversification. Potato consumption in households averaged 1.76 kg / capita / year from 2002-2012 (Agricultural Information Data Center, 2013). The increase in potato consumption was also followed by an increase in potato production from 2012 to 2014. Increased potato production was supported by an increase in the availability of potato seeds. Potato seeds produced by potato seed producers in Tosari District are divided into two categories: certified seeds and non-certified seeds. Potato seed producers that produce potato seeds are 8 producers consisting of 4 certified seed producers and 4 non-certified seed producers. Market behavior research is important to analyze the actions of producers in dealing with and adjusting to the market situation. Every action taken will determine which producers can maintain the existence of potato seed producers or bear the consequences of possible exit from the market. Research related to behavior analysis of potato seed market aims to analyze producer actions in the method of pricing, buying and selling practices, and sales promotion by potato seed producers in Tosari District to maintain the existence or presence of potato seed producers in Tosari District. The method of determining the location was done purposively by considering the location of the study, Tosari Subdistrict was the center of potato production in Pasuruan Regency, and also based on the presence of potato seed producers in Tosari District. The method of determining respondents was conducted by census. Data collection method uses interviews and documentation, while the method of data analysis uses descriptive statistics to analyze the pricing method, the practice of buying and selling, and sales promotions which are then presented in the form of tables in the results of the discussion. The results of the research on the behavior of potato seed markets in Tosari District are differences in the behavior of certified seed producers and noncertified seed producers in pricing methods, practice of buying and selling, and sales promotion. Pricing by 50% non-certified producers aims to maintain market share. The consideration of pricing of non-certified producers is the price of other producers by 37.5%, and 12.5% by individual negotiations. This shows that certified seed producers pay more attention and adjust prices to prices imposed by certified producers, so they can survive in the market because the seeds produced do not have seed labels. While 50% of certified seed producers in setting prices do not pay attention to the prices of other producers. Pricing is carried out by certified producers based on a consideration of production costs of 25% and the agreed price of 25%. The practice of buying and selling carried out by non-certified producers in the sales payment system is that they only apply 2 payment systems, namely 2 producers only apply cash payments and 2 producers apply cash payments and after consumers harvest. Whereas certified producers apply 3 sales payment systems, namely 1 producer only applies cash payments, and 3 producers applyiv cash payments, upfront payments, and payments after harvest. Upfront payments are not applied to non-certified producers because seed production is smaller than certified seed producers, so they cannot ensure the availability of seeds ordered by consumers first. The producer also made various approaches to the consumer, namely 50% controlling the development of seeds grown by consumers, 12.5% receiving consumer complaints, and 37.5% maintaining the quality of seeds. The parties involved in the practice of buying and selling 100% are carried out by the potato seed producers themselves, this is to maintain consumer confidence in the seeds being marketed. Mouth-to-mouth sales promotion is carried out by all noncertified producers. While certified producers conduct a variety of sales promotions, namely 12.5% only mouth to mouth, 12.5% sample and mouth to mouth, 12.5% social media and 12.5% socialization and demonstration plots. Promotional activities carried out by 50% certified seed producers aim to increase sales volume by introducing products not only in Tosari District but also outside Tosari District. While non-certified potato seed producers conduct promotional activities to persuade and influence consumers to purchase potato seeds. Conclusions from the research related to the behavior of potato seed market in Tosari District, namely there are differences in the behavior of certified and non-certified seed producers, namely non-certified producers with greater price fixing based on other producer prices, namely 37.5% with the aim of maintaining market share and certified producers setting prices based on cost production and price agreements with a percentage of 25%. Potato seed producers implement a payment system based on the ability of consumers to increase sales volume. 37,5% certified producers apply a cash payment system, upfront payment and payment after the consumer harvests, while 25% non-certified producers only apply cash and after the consumer harvests. In addition, all producers also approached and there were no intermediaries in transactions to maintain long-term relationships with consumers. Sales promotions made by non-certified producers are 50% of mouth mouth with the aim of obtaining consumers while certified producers conduct promotional activities namely mouth mouth, sample, demonstration plot, socialization, and social media to increase sales volume. Suggestion from this research is that the potato seed producer is not certified in order to certify to be able to expand the marketing area and is not constrained by the circulation of potato seeds outside Pasuruan Regency. Seed producers in the practice of buying and selling to make written agreements witnessed by sellers and buyers so that they are not harmed by consumers who do not pay. For the next researcher, to further examine the price determination based on price agreement because it also affects the pricing decision.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2018/841/051811228
Uncontrolled Keywords: Kentang, Solanum tuberosum L, Jual Beli, Harga, Promosi Penjualan, Perilaku Pasar
Subjects: 300 Social sciences > 381 Commerce (Trade) > 381.4 Specific products and services > 381.41 Product of agriculture > 381.415 21 Specific products (Potatoes)
Divisions: Fakultas Pertanian > Agribisnis
Depositing User: Nur Cholis
Date Deposited: 21 Feb 2019 01:44
Last Modified: 19 Oct 2021 16:47
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/14076
[thumbnail of RIDAYATI.pdf]
Preview
Text
RIDAYATI.pdf

Download (20MB) | Preview

Actions (login required)

View Item View Item