Prinsip Desain Aksesibilitas Ruang Luar bagi Tunanetra.

DeviFadhilaYuliwardhani (2009) Prinsip Desain Aksesibilitas Ruang Luar bagi Tunanetra. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Mata sebagai indra penglihatan adalah salah satu indra yang penting untuk mendapatkan informasi mengenai warna, bentuk, ukuran dan sebagainya. Namun tidak semua manusia dianugrahi indra penglihatan yang baik dan mampu menyerap informasi di sekitarnya. Seseorang yang memiliki gangguan ataupun kehilangan pada penglihatan disebut tunanetra. Penyandang ketunaan memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam memperoleh segala fasilitas seperti dijelaskan pada Undang-undang RI Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, Pasal 10 ayat 1. Dalam bidang arsitektur hal ini difasilitasi dengan konsep perancangan yang dapat mengoptimalkan mobilitas bagi tunanetra. Ruang luar sebagai transisi antara bangunan satu dengan bangunan yang lain memiliki kompleksitas tinggi untuk dapat dilalui oleh tunanetra. Sedangkan ruang luar sangat penting untuk dapat diakses secara mandiri oleh tunanetra baik melalui indra perasa, pendengar, maupun indra penciuman. Keterbatasan desain aksesibilitas ruang luar yang tidak dapat memberikan informasi kepada tunanetra melalui sisa indra yang dimilikinya dapat menghambat pencapaian tunanetra menuju sebuah tempat secara mandiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan prinsip desain aksesibilitas ruang luar bagi tunanetra. Penelitian ini merupakan penelitian induktif. Peneliti menggunakan metode kuasi eksperimen dengan menciptakan empat setting pada eksisting lokasi penelitian. Setiap setting memiliki variabel yang berbeda sehingga dapat dilihat interaksi perilaku tunanetra dengan desain aksesibilitas pada masingmasing setting. Selain itu kuasi eksperimen dilakukan pada pagi dan malam hari oleh sampel tunanetra yang memiliki kategori buta total dan penglihatan rendah. Interaksi perilaku tunanetra pada setting tempat, waktu dan kategori tunanetra yang berbeda menjadi bahan analisa untuk menentukan prinsip desain aksesibilitas ruang luar yang dibutuhkan tunanetra. Berdasarkan analisa pola perilaku tunanetra pada beberapa setting yang diciptakan oleh peneliti dapat diketahui bahwa tunanetra selalu membutuhkan penanda yang dapat menjadi acuan dalam bermobilitas. Label penelitian ini adalah keberlanjutan ruang dan antar ruang dalam bermobilitas. Kesimpulan dari penelitian ini berupa prinsip desain aksesibilitas ruang luar bagi tunanetra adalah sebagai berikut: Pada sebuah pedestrian diperlukan sebuah signage atau penandaan yang dapat dideteksi dengan tongkat dan indra peraba; Perancangan bentuk sirkulasi yang baik untuk tunanetra adalah sirkulasi dengan kontinuitas yang baik ( Cloosed loop ) dan sangat dihindari sirkulasi kuldesak ( dead end ) yang berujung buntu karena menyulitkan tunanetra; Desain aksesibilitas bagi tunanetra harus dapat memberikan informasi yang jelas, tidak bias, dan bersifat permanen; Prinsip desain aksesibilitas ruang luar bagi tunanetra buta total dan penglihatan rendah tidak memiliki banyak perbedaan, tunanetra penglihatan rendah dapat menggunakan prinsip desain aksesibilitas ruang luar bagi tunanetra buta total pada malam hari karena sisa penglihatan tunanetra penglihatan rendah semakin menurun pada malam hari.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FT/2009/396/050902823
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 690 Construction of buildings
Divisions: Fakultas Teknik > Arsitektur
Depositing User: Endang Susworini
Date Deposited: 28 Sep 2009 09:24
Last Modified: 28 Sep 2009 09:24
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/139985
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item