Analisis kebutuhan dan ketersediaan air wilayah sungai Citarum

AsepTejaSampurna (2007) Analisis kebutuhan dan ketersediaan air wilayah sungai Citarum. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Kecenderungan kebutuhan masyarakat modern di waktu mendatang dituntut untuk memperhatikan berbagai keterbatasan, salah satu dari keterbatasan tersebut adalah keterbatasan tersedianya air sebagai sumberdaya alami. Aliran Sungai di WS Citarum yang terukur di beberapa titik pengukuran menunjukkan kesenjangan yang cukup besar antara musim hujan dan musim kemarau hingga mencapai angka debit maksimum sebesar 6,61 kali debit minimum. Kondisi seperti ini mengindikasikan adanya ancaman banjir di musim penghujan dan ancaman kekeringan di musim kemarau. Kecepatan pertumbuhan penduduk di WS Citarum mencapai 4,48 % per tahun (2000 – 2004 ), yang dapat berdampak langsung kepada peningkatan kebutuhan air domestik. Berkaitan dengan permasalahan di atas diperlukan adanya sebuah kajian kuantitatif tentang keseimbangan air yang mencakup kebutuhan dan ketersediaan air, dengan wilayah sungai sebagai unit analisis. Dalam penelitian ini analisis kebutuhan air meliputi: kebutuhan air domestik, pertanian, dan industri yang dibatasi pada kecamatan yang masuk di dalam SWS, sedangkan analisis ketersediaan air meliputi analisis ketersediaan air hujan, ketersediaan aliran sungai, ketersediaan air dari mata air, ketersediaan tampungan air permukaan (waduk dan situ/telaga), dan potensi ketersediaan airtanah. Kebutuhan air domestik dihitung berdasarkan jumlah penduduk dan standar kebutuhan air tiap wilayah administratif, kebutuhan air pertanian (irigasi, perikanan, peternakan) didapat berdasarkan jumlah usaha di sektor pertanian. Kebutuhan air industri didapat berdasarkan ijin penggunaan air baik air permukaan atau air bawah tanah. Untuk menduga ketersediaan air hujan digunakan Metode Poligon Thiessen dengan memakai 20 stasiun hujan, ketersediaan aliran sungai diduga dari analisis peluang dengan menggunakan Metode Weilbull, ketersediaan air dari mata air dan ketersediaan air tampungan diperoleh berdasarkan data dari Balai PSDA WS Citarum, dan pendugaan ketersediaan airtanah dilakukan berdasarkan peta cekungan air tanah yang dioverlay dengan peta batas SWS. Perhitungan evapotraspirasi menggunakan pendekatan Blaney – Criddle , serta penyelesaian seluruh perhitungan dengan bantuan program Excel. Neraca air dengan unit analisis SWS dianalisis berdasarkan model keseimbangan air yang dikemukakan Baumgartner dan Reichal (1975), dimana hujan sama dengan total penjumlahan dari evapotranspirasi, aliran sungai, tampungan, dan penggunaan konsumtif. Total Kebutuhan air untuk domestik, industri dan pertanian di seluruh WS Citarum adalah sebesar 5.220,16 juta m3/tahun. Proyeksi kebutuhan air sampai dengan tahun 2055 di WS Citarum dilakukan dengan 4 skenario. Hasil proyeksi sampai dengan tahun 2055 adalah untuk skenario-1 = 6.708,65 juta m3/tahun, untuk skenario-2 = 5.772,06 juta m3/tahun, untuk skenario-3 = 7.308,59 juta m3/tahun, dan untuk skenario-4 = 6.372,01juta m3/tahun. Ketersediaan air hujan rata-rata adalah 26.348,92 juta m3/tahun dan ketersediaan tampungan air sebesar 3.868,71 juta m3/tahun. Ketersediaan airtanah sebesar 3963,00 juta m3/tahun untuk airtanah bebas dan 229,37 juta m3/tahun untuk air tanah tertekan, sedangkan besarnya debit aliran sungai rata-rata di outlet SWS adalah 11.281,04 juta m3/tahun. Dari total air yang masuk ke dalam WS Citarum (curah hujan sebagai satu-satunya input di dalam sistem hidrologi) 42,81 % terbuang melalui outlet SWS. Sebagai rekomendasi untuk memanfaatkan aliran yang terbuang ini, dapat dengan meningkatkan volume tampungan air di WS Citarum yaitu membangun waduk sesuai kebutuhan serta dapat juga dengan melakukan pengelolaan WS Citarum, dengan cara mengatur penggunaan lahan dan melakukan tindakan konservasi tanah dan air sehingga dapat menahan aliran air yang terbuang. Sementara itu, dari potensi airtanah di WS Citarum sebesar 4.192,37 juta m3/tahun dimanfaatkan sebesar 19,32 %. Dengan demikian dapat direkomendasikan bahwa masih terdapat 3.424,22 juta m3/tahun (81,68 %) potensi airtanah yang belum termanfaatkan, untuk itu potensi airtanah ini dapat dikembangkan lebih lanjut di masa mendatang, dengan tetap memperhatikan prinsip konservasi tanah dan air yang ada.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FT/2007/050701159
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 621 Applied physics > 621.3 Electrical, magnetic, optical, communications, computer engineering; electronics, lighting
Divisions: Fakultas Teknik > Teknik Elektro
Depositing User: Unnamed user with email heriprayitno@ub.ac.id
Date Deposited: 07 Jun 2007 00:00
Last Modified: 21 Oct 2021 07:25
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/138330
[thumbnail of 050701159.pdf]
Preview
Text
050701159.pdf

Download (5MB) | Preview

Actions (login required)

View Item View Item