Pengaruh Pemotongan Paruh Dan Bentuk Fisik Pakan Terhadap Kualitas Eksternal Dan Internal Telur Burung Puyuh (Coturnix Coturnix Japonica)

Manzil, LiizaDiana (2016) Pengaruh Pemotongan Paruh Dan Bentuk Fisik Pakan Terhadap Kualitas Eksternal Dan Internal Telur Burung Puyuh (Coturnix Coturnix Japonica). Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Burung puyuh merupakan salah satu ternak potensial yang dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Telur burung puyuh memiliki kandungan nutrisi yang baik dan rasa yang gurih. Burung puyuh pertama kali bertelur pada umur 41 hari dengan produksi telur 200-300 butir/ekor/tahun. Kanibal merupakan salah satu sifat burung puyuh yang sangat merugikan karena dapat menyebabkan stres dan mempengaruhi kualitas telur burung puyuh. Kanibal dapat diatasi dengan pemotongan paruh. Pemotongan paruh selain untuk mengatasi kanibal juga dapat meningkatkan konsumsi pakan. Tercecernya pakan akan mengurangi tingkat konsumsi dan efisiensi pakan. Modifikasi bentuk fisik pakan dapat menjadi solusi. Kualitas telur dipengaruhi oleh jumlah nutrien yang dikonsumsi, sehingga penigkatan konsumsi pakan pada burung puyuh perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas telur burung puyuh. Salah satu caranya yaitu dengan pemotongan paruh dan pemberian pakan dengan bentuk fisik yang berbeda. Penelitian dilakukan mulai 19 Oktober 2015-26 Januari 2016 serta pengambilan data dilaksanakan selama 7 hari yaitu mulai tanggal 19 sampai dengan 25 januari viii 2016 di Laboratorium Lapang Sumber Sekar Universitas Brawijaya di Dusun Semanding, Desa Sumber Sekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 168 ekor burung puyuh betina berjenis Coturnix coturnix japonica berumur 92 hari. Sampel berupa telur burung puyuh yang dikoleksi setiap pagi sebanyak 4 butir per plot. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemotongan paruh dan bentuk fisik pakan terhadap kualitas internal dan eksternal telur burung puyuh. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi kajian dan referensi serta sebagai pertimbangan dalam kemajuan usaha peternakan burung puyuh. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola factorial dengan menggunakan dua factor (2x2) yaitu pemotongan paruh dan bentuk fisik pakan yang berbeda. Faktor pemotongan paruh yaitu tanpa pemotongan paruh dan dilakukan pemotongan paruh, sedangan bentuk fisik pakan yang berbeda yaitu bentuk fisik mash dan crumble. Variable yang diamati terdiri dari berat telur, indeks bentuk telur, berat kerabang, tebal kerabang, haugh unit (HU)dan indeks kuning telur (IKT). Analisa data menggunakan analisa keragaman, jika terjadi perbedaan pengaruh perlakuan dilanjutkan dengan Uji Duncan’s. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemotongan paruh tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap kualitas internal dan kualitas eksternal telur burung puyuh. Nilai tertinggi yang didapatkan pada perlakuan pemotongan paruh terhadap berat telur adalah (A1) 71,74±5,72 g/ekor atau 10,25 g/butir, indeks bentuk telur (A1) 553,88±1,31 atau 79,13 /butir, tebal kerabang (A1) 1,032±0,02 mm atau 0,147 mm/butir, berat kerabang (A2) 5,53±1,88 g/ekor atau 0,79 g/butir), HU (A1) ix 497,27±47,57 atau 71,04/butir) dan IKT (A1) 2,768±0,054 atau 0,395 /butir. Hasil lain menunjukkan perlakuan pemberian bentuk fisik pakan yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap kualitas internal dan kualitas eksternal telur burung puyuh. Nilai tertinggi yang didapatkan pada perlakuan pemberian bentuk fisik pakan yang berbeda terhadap berat telur adalah (B2) 72,33±0,09 g/ekor atau 10,34 g/butir, indeks bentuk telur (B1) 554,79±9,03 atau 79,26 /butir, tebal kerabang (B1) 1,033±0,01 mm atau 0,148 mm/butir, berat kerabang (B2) 5,54±1,88 g/ekor atau 0,79 g/butir, IKT (B2) 2,733±0,35 atau 0,390 /butir, HU (B1) 494,02±81,33 atau 70,67/butir. Tidak ada interaksi yang terjadi antara pemotongan paruh dan bentuk fisik pakan terhadap kualitas internal dan eksternalNilai tertinggi yang didapatkan pada interaksi antara pemotongan paruh dan pemberian bentuk fisik pakan yang berbeda terhadap berat telur adalah (A1B2)10,34 g/butir, indeks bentuk telur (A2B1) 79,41 /butir, tebal kerabang A1B1 (0,148±0.04 mm), berat kerabang A2B2) 0,82 g/butir, indek kuning telur (A1B2) 0,40/butir, (HU A1B1) 72,06 /butir. Kesimpulan penelitian ini yaitu pemotongan paruh memberikan pengaruh yang sama terhadap kualitas internal dan eksternal telur burung puyuh. Bentuk fisik pakan memberikan pengaruh yang sama terhadap kualitas internal dan eksternal telur burung puyuh. Perlakuan interaksi antara pemotongan paruh dan pemberian bentuk fisik pakan yang berbeda memberikan efek sama terhadap kualitas internal dan eksternal telur burung puyuh.Perlakuan interaksi antara pemotongan paruh dan pemberian bentuk fisik pakan yang berbeda memberikan efek sama terhadap kualitas internal dan eksternal telur burung puyuh Disarankan dalam pemeliharaan burung puyuh secara intensif, dapat dilakukan potong paruh dan x tidak dipotong paruh, serta dapat menggunakan pakan berbentuk crumble maupun mash. Serta untuk kedepannya perlu dilakukan penelitian mengenai pemotongan paruh dan pemberian pakan dengan bentuk fisik yang berbeda terhadap tingkat kanibalisme burung puyuh.

English Abstract

This experiment was intended to evaluatethe effects of debeaking, physical form of feed and treatment combination of debeaking and physical form of feed. The materials that used in this research were 168 female quails (Coturnixcoturnix japonica) at the age of 92 days, data were collected for 7 days. The variabels were internal quality (egg yolk index and haugh unit) and eksternal quality (egg wheight, egg shape index, wheight shell and shell thickness). The method that used in this research was Completely Randomize Design by faktorial design (2x2). The treatment consisted 2 combination faktors. The first faktor was debeaking consist of A1 (debeaking) and A2 (undebeaking). The second faktor was physical form of feed consist of B1 (mash) and B2 (crumble). The data were analized by ANOVA and continued by Duncan’s Multiple Range Test. The result showed that the all treatment debeaking, physical form of feed and interaction of debeaking and physical form of feed were not significan (P>0.05) on internal quality (egg yolk index and haugh vi unit) and eksternal quality (egg wheight, egg shape index, wheight shell and shell thickness).

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FPT/2016/336/ 051610263
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 636 Animal husbandry
Divisions: Fakultas Peternakan > Peternakan
Depositing User: Kustati
Date Deposited: 14 Oct 2016 10:44
Last Modified: 14 Oct 2016 10:44
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/137963
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item