Karakteristik Sapi Madura Betina Berdasarkan Ketinggian Tempat Di Kecamatan Galis Dan Kadur Kabupaten Pamekasan

Pradana, AnggaPutraIsmu (2016) Karakteristik Sapi Madura Betina Berdasarkan Ketinggian Tempat Di Kecamatan Galis Dan Kadur Kabupaten Pamekasan. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Penelitian dilakukan di Kecamatan Galis dan Kadur, Kabupaten Pamekasan pada tanggal 6 April sampai dengan 6 Mei 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sapi Madura betina yang dipelihara di ketinggian tempat yang berbeda di Kabupaten Pamekasan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sapi Madura betina umur kurang dari 1 sampai 1,5 tahun sebanyak 12 ekor pada dataran rendah, 21 ekor pada dataran tinggi dan sapi Madura betina umur lebih dari 1,5 sampai 2 tahun sebanyak 28 ekor pada dataran rendah, 19 ekor pada dataran tinggi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dan pengukuran secara langsung di lapang. Teknik pengambilan data penelitian dilakukan dengan cara purposive sampling. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah bobot badan, lingkar dada, panjang badan, tinggi badan, suhu rektal dan frekuensi pernapasan. Data hasil penelitian diperoleh dari perhitungan menggunakan analisis rancangan acak pola tersarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sapi Madura betina pada umur yang berbeda dan pada ketinggian tempat yang berbeda memiliki sifat kualitatif yang sama yakni warna viii dominan tubuh merah kecoklatan, memiliki tanduk, memiliki warna putih pada kaki, memiliki garis punggung, serta memiliki warna hitam di bagian bawah telinga dan ujung ekor berwarna hitam. Berdasarkan hasil penelitian rataan lingkar dada di dataran tinggi lebih tinggi yaitu 141,1±7,8 cm dibanding dengan rataan lingkar dada di dataran rendah yakni 133,6±10,4 cm. Rataan panjang badan di dataran tinggi lebih tinggi yaitu 116,7±7,1 cm dibanding dengan rataan panjang badan di dataran rendah yakni 111,1±6,6 cm. Rataan tinggi badan di dataran tinggi lebih tinggi yaitu 114,0±3,8 cm dibanding dengan rataan tinggi badan di dataran rendah yakni 112,1±5,4 cm. Rataan bobot badan di dataran tinggi lebih tinggi yaitu 212,8±26,8 kg dibanding dengan rataan bobot badan di dataran rendah yakni 154,0±36,8 kg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu rektal di dataran tinggi lebih rendah yaitu 37,9±0,6oC dibanding dengan rataan suhu rektal di dataran rendah yakni 38,0±0,5oC. Rataan frekuensi pernapasan di dataran tinggi lebih rendah yaitu 28,7±2,8/menit dibanding dengan rataan frekuensi pernapasan di dataran rendah yakni 30,7±1,9/menit. Rataan HTC di dataran tinggi lebih rendah yaitu 2,2±0,1 dibanding dengan rataan HTC di dataran rendah yakni 2,3±0,1. Disimpulkan bahwa Sapi Madura betina pada ketinggian tempat dan umur yang berbeda memiliki sifat kualitatif yang sama yaitu warna dominan tubuh coklat tua, memiliki tanduk, memiliki warna putih pada kaki, memiliki garis punggung, memiliki warna hitam pada bawah telinga, memiliki ujung ekor berwarna hitam. Sapi Madura betina di dataran tinggi memiliki ukuran statistik vital seperti lingkar dada, panjang badan, tinggi badan dan bobot badan lebih besar dibanding dengan sapi Madura betina di dataran rendah kecuali tinggi badan, sedangkan umur terhadap statistik vital dan bobot badan tidak berpengaruh. HTC sapi Madura betina di dataran tinggi lebih rendah dibanding dengan HTC sapi Madura di dataran rendah, sedangkan umur tidak berpengaruh.

English Abstract

This research was conducted at Galis Sub-district as lowland (5 m above sea level) and Kadur sub-district as highland (264 m above sea level). The aim of the research was to find out the influence of the elevation on Madura cows based on the qualitative and quantitative characters. Methods used in this study were survey and directly measurement in the field. Qualitative characters were body color, horn, white color in the bottom of the feet, dark line on back, black color at ear, black color at the tail. Quantitative characters are body weight (BW), chest girth (CG), body length (BL), body height (BH), rectal temperature, and respiration rate. The result of this research showed that age factor of cows in the different altitude give influence in different average for body weight (BW), chest girth (CG), body length (BL), body height (BH). Age of cows in the different altitude gave the influence in different average for respiration rate, rectal temperatures of cows, but age factor of cows in different altitude did not give the influence in average for and HTC. The qualitative traits of Madura cows in different altitude have dominant color which their body is red brown, have horn, have white color on feet, have dark line on the back, also have black color in their ears and black at the tail. The vi qualitative traits of Madura heifer was the same in different age. The age difference and altitude affect the quantitative traits of Madura cows including body weight (BW), chest girth (CG), body length (BL), body height (BH). Meanwhile, rectal temperature, respiration rate, and HTC were influenced by age and elevation of the location.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FPT/2016/288/ 051610216
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 636 Animal husbandry
Divisions: Fakultas Peternakan > Peternakan
Depositing User: Kustati
Date Deposited: 10 Oct 2016 14:42
Last Modified: 10 Oct 2016 14:42
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/137907
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item