Studi Komparasi Penggunaan pH Larutan Pencernaan Secara In Vitro Terhadap Struktur Mikroenkapsulat Dan Viabilitas Lactobacillus acidophilus Dengan Refined Carrageenan Eucheuma spinosum 4,5% Sebagai Pe

WawanYuhanto (2009) Studi Komparasi Penggunaan pH Larutan Pencernaan Secara In Vitro Terhadap Struktur Mikroenkapsulat Dan Viabilitas Lactobacillus acidophilus Dengan Refined Carrageenan Eucheuma spinosum 4,5% Sebagai Pe. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Probiotik adalah mikroba yang menguntungkan bagi hewan atau manusia dengan cara meningkatkan keseimbangan mikroba dalam usus. Probiotik memberikan efek kesehatan karena dapat mengurangi pertumbuhan bakteri jahat di dalam saluran usus, meningkatkan penyerapan laktosa pada orang-orang yang tidak toleran terhadap laktosa, mengurangi serum kolesterol, membantu proses pencernaan dan mengurangi jumlah racun dalam usus (Parvez et al ., 2006). Lactobacillus acidophilus adalah salah satu spesies bakteri probiotik yang termasuk dalam genus Lactobacillus yang ditemukan di dalam usus manusia dan hewan (Frece, 2004). Agar memberikan efek kesehatan, probiotik harus dapat mencapai ke dalam usus besar dalam keadaan hidup dan dalam jumlah cukup yaitu 106 – 107 Colony-Forming Unit (CFU)/ml produk. Jumlah probiotik yang tersedia dalam bahan pangan dapat menurun akibat faktor lingkungan, antara lain: suhu, pH dan kadar oksigen terlarut dalam udara. Lebih lanjut, bakteri ini akan dipengaruhi oleh adanya enzim hidrolitik, kondisi asam pada perut, dan asam empedu pada rongga pencernaan (Lo, 2007). Untuk menjaga agar bakteri probiotik dapat mencapai usus dalam jumlah yang memadai, maka diperlukan suatu lapisan yang mampu melindungi bakteri tersebut. Perlindungan bakteri probiotik dapat dilakukan dengan cara teknik mikroenkapsulasi. Bahan alami yang bisa digunakan atau secara potensial bermanfaat sebagai bahan enkapsulasi antara lain adalah selulose, gum arab, agar-agar, k -karaginan, alginat, kitosan, dan pektin Polimer-polimer tersebut kebanyakan akan membentuk gel pada kondisi yang spesifik, yang merupakan syarat sebagai bahan enkapsulasi. Karaginan adalah contoh bahan alami yang dapat menjadi bahan pengenkapsulat karena dalam bentuk yang umum, bereaksi dengan ion-ion potasium membentuk gel (King, 1995). Berdasarkan uraian diatas perlu dilakukan suatu penelitian lagi yaitu apakah refined carrageenan dari Eucheuma spinosum dengan konsentrasi tertentu bisa dijadikan sebagai pengenkapsulat yang efektif terhadap viabilitas Lactobacillus acidophilus pada pH 2 dan 7 Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biokimia Hasil Perikanan dan Ilmu Kelautan, Laboratorium Mikrobiologi Dasar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, dan Laboratorium Sentral Ilmu Hayati Universitas Brawijaya Malang, pada bulan Agustus 2008 - Februari 2009. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan viabilitas Lactobacillus acidophilus dan struktur mikroenkapsulat pada pH yang berbeda dari konsentrasi terbaik Refined Carrageenan Eucheuma spinosum sebagai pengenkapsulat. Penelitian ini dilakukan secara eksperimen dan dibagi menjadi dua tahap. Tahap pendahuluan adalah untuk mencari karakteristik refined carrageenan dari Eucheuma spinosum dan untuk menentukan konsentrasi terbaik refined carrageenan sebagai bahan ii pengenkapsulat. Tahap penelitian inti yaitu tentang studi perbandingan viabilitas dan struktur mikroenkapsulat pada pH 2 dan 7. Parameter uji dalam penelitian pendahuluan tahap pertama meliputi analisa fisiko kimia Refined carrageenan Eucheuma spinosum seperti kadar air, kadar abu, total Pb, total sulfat, viskositas, gelling point , melting point , kekuatan gel, dan FTIR ( Fourier Transform Infra Red ). Sedangkan parameter uji penelitian pendahuluan tahap kedua adalah uji viabilitas Lactobacillus acidophilus pada konsentrasi Refined carrageenan yang berbeda yang disusun dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dan parameter uji penelitian inti yaitu viabilitas Lactobacillus acidophilus dan struktur mikroenkapsulat pada pH 2 dan 7, dan kemudian data hasil pengamatan diolah dengan uji t dan uji struktur mikrokapsul dengan menggunakan Confocal Laser Scanning Microscopy (CLSM). Berdasarkan hasil analisa fisiko kimia sampel Refined carrageenan didapatkan nilai kadar air 11,04%, kadar abu 19,6%, Total Pb 6,84 mg/kg, Total sulfat 25,77%, viskositas 210 mPas, gelling point 25,5oC, melting point 80oC, kekuatan gel 1124 g/cm2. Data analisa FTIR menunjukan bahwa karaginan yang dibuat adalah jenis iota karaginan hal ini ditunjukan dengan adanya dua gugus D-galaktosa 4 sulfat pada puncak serapan 849,58 cm-1 dan gugus 3,6 anhidrogalaktosa 2 sulfat pada serapan 804,26 cm-1. Hasil uji viabilitas Lactobacillus acidophilus pada pH 2 diperoleh jumlah koloni sebesar 1,6.102 CFU/ml dan pada pH 7 tidak terdapat koloni bakteri yang hidup. Struktur mikroenkapsulat mengalami penurunan ukuran diameter setelah mengalami perlakuan pada pH yang berbeda.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FPR/2009/58/050903019
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 639 Hunting, fishing & conservation > 639.2 Commercial fishing, whaling, sealing
Divisions: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan > Teknologi Hasil Perikanan
Depositing User: Unnamed user with email heriprayitno@ub.ac.id
Date Deposited: 15 Dec 2009 10:08
Last Modified: 21 Oct 2021 04:21
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/132612
[thumbnail of 050903019.pdf]
Preview
Text
050903019.pdf

Download (3MB) | Preview

Actions (login required)

View Item View Item