Pendugaan Potensi Sumberdaya Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) Berdasarkan Hasil Tangkapan yang di Daratkan di Perairan Kota Probolinggo Jawa Timur

Devi Nika Andriyani (2009) Pendugaan Potensi Sumberdaya Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) Berdasarkan Hasil Tangkapan yang di Daratkan di Perairan Kota Probolinggo Jawa Timur. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Sentra penangkapan ikan di Jawa Timur cukup banyak, di Kota Probolinggo yang merupakan penghasil terbesar penangkapan ikan di laut, hasil penangkapannya mencapai 26.322 ton (Regionalinvestment, 2008). Menurut Wiadnya (1993), wilayah pantai Jawa Timur untuk daerah Selat Madura didominasi oleh ikan tembang. Akan tetapi berdasarkan data statistik Perikanan dan Kelautan Propinsi Jawa Timur (2006), hasil tangkapan ikan lemuru untuk 10 tahun terakhir dari tahun 1997 hingga 2006 di Selat Madura mencapai 126.031,4 ton dimana hasil tangkapan ikan lemuru ini lebih dominan dibandingkan dengan ikan tembang yang hasil tangkapannya hanya sebesar 89.465,2 ton ton. Tidak hanya itu, hasil tangkapan ikan lemuru di Kota Probolinggo lebih unggul dibandingkan dengan kota/kabupaten lain yang ada di Selat Madura yakni sebesar 41.704,3 ton. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Probolinggo pada bulan Juli 2008. Dengan tujuan untuk mengetahui standarisasi alat tangkap perikanan lemuru berdasarkan hasil tangkapan yang di daratkan di perairan Kota Probolinggo. Untuk mengestimasi nilai potensi lestari perikanan lemuru berdasarkan hasil tangkapan yang di daratkan di perairan Kota Probolinggo Jawa Timur. Mengetahui kondisi status perikanan tangkap ikan lemuru berdasarkan hasil tangkapan yang di daratkan di perairan Kota Probolinggo Jawa Timur, melalui pendekatan model Schaefer, Fox dan Walter and Hilborn, apakah dalam keadaan under fishing, berimbang lestari (Maximum Sustainable Yield) atau over fishing. Dan menetapkan strategi perencanaan pengelolaan sumberdaya ikan lemuru di perairan Kota Probolinggo Jawa Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan cara metode tidak langsung. Data yang digunakan adalah Laporan Data Statistik Perikanan Kota Probolinggo, dan Laporan Data Statistik Perikanan dan Kelautan Jawa Timur. Dengan model pengelolaan surplus produksi yang digunakan untuk menduga ikan dengan memanfaatkan data time series hasil tangkapan dan upaya penangkapan ikan di tempat pendaratan ikan. Analisa data dilakukan dengan mengkonversi alat tangkap untuk mengetahui standarisasi alat tangkap yang sesuai dengan alat tangkap yang menangkap ikan lemuru. Dimana data dari jumlah hasil tangkapan (catch) dan jumlah alat tangkap (effort) diolah dengan mengkonversi alat tangkap terlebih dahulu untuk mengetahui standarisasi alat tangkap yang sesuai dengan alat tangkap yang menangkap ikan lemuru, setelah itu dihitung dengan model Schaefer, Fox dan Walter and Hilborn menggunakan program microsoft excel. Kemudian data yang diperoleh dapat dilihat dari hasil masing-masing model, apakah dalam kondisi underfishing, berimbang lestari (Maximum Sustainable Yield) atau overfishing. Dan untuk keberlanjutan perikanan lemuru di perairan Kota Probolinggo perlu menetapkan strategi perencanaan. i Hasil penelitian menunjukkan bahwa standarisasi alat tangkap yang sesuai dengan perikanan lemuru (Sardinella lemuru) yang ada di perairan Kota Probolinggo adalah alat tangkap purse seine. Pendugaan model Schaefer diperoleh Emsy 58,089 unit/tahun, nilai ini menunjukkan jumlah unit alat tangkap standar purse seine untuk tingkat produksi maksimum lestari (C msy) sebesar 12.525,502 ton/tahun. Untuk hasil tangkapan per unit berimbang lestari (Umsy) sebesar 215,625 ton/unit. Sehingga status perikanan lemuru di perairan Kota Probolinggo adalah underfishing. Pada model Fox diperoleh Emsy 37,211 unit/tahun, nilai ini menunjukkan jumlah unit alat tangkap standar purse seine untuk tingkat produksi maksimum lestari (Cmsy) sebesar 5.279,425 ton/tahun. Untuk hasil tangkapan per unit berimbang lestari (Umsy) sebesar 141,875 ton/unit. Sehingga status perikanan lemuru di perairan Kota Probolinggo adalah overfishing. Dan Pada model Walter and Hilborn diperoleh Emsy 90,363 unit/tahun, nilai ini menunjukkan jumlah unit alat tangkap standar purse seine untuk tingkat produksi maksimum lestari (Cmsy) sebesar 25.222,790 ton/tahun. Untuk hasil tangkapan per unit berimbang lestari (Umsy) sebesar 279,126 ton/unit. Sehingga status perikanan lemuru di perairan Kota Probolinggo adalah underfishing. Hasil analisa kondisi berimbang lestari (Maximum Sustainable Yield) dari ketiga model memiliki kekurangan dan kelebihan sehingga, tidak dapat dirata-rata begitu saja. Oleh karena itu, dapat disimpulkan dengan megambil dan mengacu pada model Fox bahwa kondisi perikanan lemuru di perairan Kota Probolinggo mengalami overfishing, meskipun terdapat dua model yang kondisinya underfishing. Karena bertujuan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk di perairan Kota Probolinggo. Overfishing kemungkinan dapat terjadi dalam pengeksploitasian ikan lemuru yang tidak hanya dari nelayan lokal saja tapi bisa juga dari nelayan andon yang berasal dari daerah lain yang letaknya tidak jauh dari perairan Kota Probolinggo. Sehingga dari sinilah perlu adanya tindakan untuk mengantispasi dari kemungkinan terburuk tersebut dengan pengurangan kuota hasil tangkapan sebesar 7.185,47435 ton.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FPR/2009/37/050901924
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 639 Hunting, fishing & conservation > 639.2 Commercial fishing, whaling, sealing
Divisions: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan > Teknologi Hasil Perikanan
Depositing User: Unnamed user with email repository.ub@ub.ac.id
Date Deposited: 08 Dec 2009 10:43
Last Modified: 30 Jun 2022 02:11
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/132592
[thumbnail of DEVI NIKA ANDRIYANI.pdf] Text
DEVI NIKA ANDRIYANI.pdf

Download (2MB)

Actions (login required)

View Item View Item