Pengaruh Lama Perendaman (Dipping) Pada Perlakuan kejutan panas (Heat shock) Terhadap Perkembangan Embrio Dan Penetasan Telur Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus).

HadidArmansyah (2008) Pengaruh Lama Perendaman (Dipping) Pada Perlakuan kejutan panas (Heat shock) Terhadap Perkembangan Embrio Dan Penetasan Telur Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus). Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Salah satu yang dapat mempercepat pertumbuhan ikan adalah dengan perlakuan kejutan suhu panas yang telah dilakukan pada beberapa penelitian seperti pada ikan patin ( Pangasius pangasius ), Lobster Air Tawar ( Cherax quadricariatus ) dan bahkan dilakukan pada berudu katak lembu ( Rana catesheiana Shaw ). Selain itu di dalam manipulasi kromosom dilakukan kejutan suhu panas ( heat shock ) dengan tujuan yang berbeda yaitu dengan memanipulasi pergerakan kromosom seperti androgenesis, gynogenesis, polyploidy (triploidy dan tetraploidy)., tetapi effect telur sendiri yang di shocking tidak pernah diteliti, mengacu pada penelitian dua hal diatas maka dalam penelitian ini ingin diketahui bagaimana pengaruh perlakuan kejutan suhu panas ( heat shock ) terhadap perkembangan telur ( embriogenesis ), penetasan telur, dan pertumbuhan larva. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perlakuan kejutan suhu panas ( heat shock ) dengan lama perendaman yang berbeda terhadap perkembangan telur ( embrogenesis ), penetasan telur, dan pertumbuhan larva ikan lele ( Clarias gariepinus ).. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi dan Reproduksi Perikanan Fakultas perikanan Universitas Brawiijaya. Malang Pada bulan Mei – Juni 2007. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Penelitian yang dikenakan adalah pemberian kejutan suhu panas 40 °C dengan perlakuan lama perendaman yang berbeda yaitu 1, 2, 3, 4, menit pada telur fase Blastula awal, Dan memakai dua kontrol sebagai kontrol lepas : K1 (Tanpa sperma) dan K2 (Memakai sperma) tanpa perlakuan kejutan suhu panas ( heat shock ). Dari hasil penelitian didapatkan memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata pada pembelahan sel fase gastrula, berbeda nyata pada saat penetasan ( 2 jam dari penetasan pertama), berbeda sangat nyata pada tingkat penetasan, berbeda sangat nyata pada tingkat kelulushidupan (SR) I, berbeda nyata pada tingkat kelulushidupan (SR) II, berbeda sangat nyata pada laju pertumbuhan (SGR) I, dan berbeda nyata pada laju pertumbuhan (SGR) II. Pada fase Gastrula didapatkan analisis regresi yaitu Y= 24.049 + 9.4603x dan (R2) = 0.9081, dan Y=6.3183+21.293x dan (R2) = 0.66 pada penetasan (2 jam setelah penetasan pertama) dan berbanding terbalik dengan derajat penetasan, dimana semakin lama perendaman yang diberikan maka derajat penetasan yang dihasilkan semakin rendah. Hasil analisis regresi didapat respon berpola linear dengan persamaan Y= 61.637-2.2842x dan (R2) = 0,802. Tingkat kelulushidupan I tertinggi terdapat pada perlakuan A(83.87 %), diikuti perlakuan B (83.01 %), lalu perlakuan C (74.89 %), perlakuan D (51.50%) sedangkan kontrol (K2) (79.67%). Hasil analisis regresi Y = 75.997-6.6209x dan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,7123. Tingkat kelulushidupan II tertinggi terdapat pada perlakuan A(86 %), diikuti perlakuan B (74 %), lalu perlakuan C (68 %), perlakuan D (58%) dan kontrol (K2) (74.33%). Hasil analisis regresi diperoleh respon berpola linear dengan persamaan Y = 74.018-6.206 dan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,6105. Laju pertumbuhan I tertinggi diperoleh pada perlakuan D (4.22), diikuti perlakuan C (3.90), kemudian perlakuan B (3.14), terakhir perlakuan A (2.72) dan kontrol (3.04). Hasil analisis regresi didapatkan respon berpola linear dengan persamaan Y = 0.5273X + 2.176 dan (R2) = 0,676. Laju pertumbuhan II tertinggi diperoleh pada perlakuan D (4.17), diikuti perlakuan C (4.73), kemudian perlakuan B (3.63), terakhir perlakuan A (3.56) dan kontrol (2.89). Hasil analisis regresi didapatkan respon berpola linear dengan persamaan Y = 0.4551X + 3.0223 dan (R2) = 0,6887. Kualitas air selama penelitian untuk suhu 25-280C pada masa inkubasi telur, pH 7.18 – 7.24 dan oksigen terlarut 3.4 – 4.5 ppm masih layak untuk perkembangan embrio ikan lele dumbo. Sedangkan masa pemeliharaan larva diperoleh suhu 24 - 28ºC, pH 7.11 – 7.41 dan kandungan oksigen 5.6 – 6.8 ppm. Dari penelitian dapat disarankan pemeliharaan larva yang lebih lama sehingga diketahui pertumbuhannya dan bukan hanya laju pertumbuhan sesaat.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FPR/2008/22/050803005
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 639 Hunting, fishing & conservation > 639.2 Commercial fishing, whaling, sealing
Divisions: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan > Teknologi Hasil Perikanan
Depositing User: Unnamed user with email heriprayitno@ub.ac.id
Date Deposited: 16 Oct 2008 09:03
Last Modified: 20 Oct 2021 05:31
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/132486
[thumbnail of 050803005.pdf]
Preview
Text
050803005.pdf

Download (3MB) | Preview

Actions (login required)

View Item View Item