Tentang Hubungan Tutupan Karang ( coral reef percent cover ) Dengan Keanekaragaman Ikan Karang Pada Kedalaman Yang Berbeda Di Perairan Pulau Bawean Kabupaten Gresik Jawa Timur

DianWHandoko (2008) Tentang Hubungan Tutupan Karang ( coral reef percent cover ) Dengan Keanekaragaman Ikan Karang Pada Kedalaman Yang Berbeda Di Perairan Pulau Bawean Kabupaten Gresik Jawa Timur. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Terumbu karang dikenal sebagai ekosistem yang sangat kompleks dan produktif dengan keanekaragaman biota tinggi seperti moluska, crustacea dan ikan karang. Biota yang hidup di terumbu karang merupakan suatu komunitas yang meliputi kumpulan kelompok biota dari berbagai tingkat tropik, dimana masing-masing komponen dalam komunitas ini mempunyai ketergantungan yang erat satu sama lain (White, 1987). Pulau Bawean adalah pulau yang berada di laut jawa, terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan dan berjarak 80 mil sebelah utara dari kota Gresik. Pulau ini mempunyai panjang pantai kurang lebih 60 km dengan di kelilingi beberapa pulau-pulau kecil. Di sekitar pulau-pulau kecil tersebut terdapat ekosistem terumbu karang terutama tampak jelas di perairan Pulau Noko, Pulau Gili dan pulau-pulau yang lain karena dengan adanya kecerahan yang baik serta gelombang dan arus yang relatif kecil sehingga terumbu karang dapat bekembang. Terumbu karang yang terdapat di Pulau Bawean bertipe fringing reef yaitu bentuk terumbu karang yang berkembang dan mencapai kedalaman yang tidak lebih dari 40 meter. Menurut Vaughan dan Wells (1943) dalam Supriharyono (2000), terumbu karang disusun oleh karang-karang jenis anthozoa dari klas Scleractinia yang termasuk hermatypic coral atau jenis-jenis karang yang mampu membuat bangunan atau kerangka dari kalsium karbonat (CaCO 3). Disamping sebagai penunjang produksi perikanan, ekosistem terumbu karang juga mempunyai manfaat antara lain adalah sebagai sumber makanan, sumber keanekaragaman hayati, bahan obat-obatan, objek wisata bahari, ornamental dan aquarium ikan laut, bahan bangunan, penahan gelombang dan pelabuhan, tempat berlindung, tempat memijah ( spawning ground ) dan tempat asuhan ( nursery ground) . Ikan merupakan organisme yang jumlah biomassanya terbesar dan juga merupakan organisme besar yang mencolok dapat ditemui di dalam ekosistem terumbu karang. Kondisi fisik terumbu karang yang kompleks memberikan andil bagi keragaman dan produktivitas biologinya. Banyak celah dan lubang di terumbu karang memberikan tempat tinggal, perlindungan, tempat mencari makan dan berkembang biak bagi ikan dan hewan invertebrata yang berada disekitarnya (Nybakken, 1988). Springer (1982) dalam Sale (1991) mengemukakan bahwa diperkirakan 4000 spesies ikan hidup di daerah terumbu karang dan berasosiasi dengan habitat terumbu karang Indo Pasifik ini atau sekitar 18% dari total ikan yang ada. Interaksi antara ikan karang dan terumbu karang ini mempunyai hubungan yang sangat erat. Kehadiran ikan di sekitar terumbu karang dipengaruhi oleh perilaku ikan itu sendiri seperti mencari perlindungan, tempat mencari makan dan berkembangbiak (Supriharyono, 2000). Namun, saat ini terumbu karang secara terus menerus mendapat tekanan berat akibat berbagai aktivitas manusia baik di darat maupun di laut. Dari hasil penelitian P3O-LIPI (1998), kondisi terumbu karang di Indonesia hanya 6,41% dalam kondisi sangat baik; 24,3% dalam kondisi baik; 29,22% dalam kondisi sedang; dan 40,14% dalam kondisi rusak (Anonymous, 2001). Hal ini disebabkan oleh cara-cara pengambilan karang dan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan seperti penggunaan jaring dasar, bahan peledak (bom), serta bahan kimia beracun (potasium) yang masih banyak dijumpai di beberapa daerah di Indonesia. Demikian pula yang terjadi di Perairan Pulau Bawean banyak dijumpai kerusakan ekosistem terumbu karang yang disebabkan oleh aktivitas manusia seperti penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan dengan menggunakan bom dan potassium, limbah dan sampah dari pemukiman serta kegiatan pariwisata yang merusak ekosistem terumbu karang. Penelitian ini diharapkan dapat mengetahui kondisi tutupan karang dan keanekaragaman ikan karang di perairan Pulau Bawean, sehingga daerah-daerah yang mempunyai ekosistem terumbu karang di Perairan Pulau Bawean dapat terlindungi dan terjaga kelestariannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah kondisi tutupan karang mempunyai hubungan dengan keanekaragaman ikan karang yang terdapat pada tutupan karang tersebut. Penelitian ini dilakukan di wilayah perairan Pulau Bawean ( Pulau Gili, Pulau Cina dan Pulau Noko ) Kabupaten Gresik Jawa Timur dan dilaksanakan pada bulan November 2007. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu mengadakan penyelidikan terhadap suatu obyek untuk memperoleh fakta-fakta, gejala-gejala dan keterangan secara faktual tentang apa yang terjadi dengan obyek tersebut (Nazir, 1985). Sedangkan metode yang digunakan untuk pengambilan data yang meliputi data tutupan karang ( percent cover ) adalah menggunakan metode LIT ( Line Intercept Transect ) dan untuk mengambil data ikan karang yaitu menggunakan metode Coral Reef Visual Census . Menurut S. English., C. Wilkinson and V. Baker ( 1994). Data yang dihasilkan akan diolah masing-masing yaitu, menghitung presentase tutupan karang hidup dengan perhitungan total panjang tiap category lifeform dibagi panjang transek dikalikan 100%. Sedangkan untuk menghitung indeks keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi ikan karang yang paling umum digunakan adalah indeks Shannon-Weaver (Odum, 1992) Untuk menguji data secara statistik mengenai hubungan antara besar tutupan karang (coral reef percent cover) dengan keanekaragaman ikan karang di gunakan uji anova ( Analisis of Variance) menggunakan SPSS 13.0 . Hasil dari penelitian ini adalah status tutupan karang di perairan Pulau Bawean yang ditemukan di Pulau Gili, Pulau Noko dan Pulau Cina pada kedalaman 5 m dan 10 m yaitu lokasi 1 ( Pulau Gili ) pada kedalaman 5 m berada pada kondisi sangat baik ( 86,79% ) dan pada kedalaman 10 m berada pada kondisi sedang. Status tutupan karang di lokasi 2 ( Pulau Cina ) pada kedalaman 5 m berada pada kondisi baik ( 56,85 % ) dan pada kedalaman 10 m berada pada kondisi sedang ( 34,17 % ). Status tutupan karang di lokasi 3 ( Pulau Noko ) pada kedalaman 5 m berada pada kondisi rusak ( 24,27 % ) dan pada kedalaman 10 m berada pada kondisi sedang ( 45,08 % ). Ikan karang yang ditemukan di perairan pulau Bawean pada lokasi 1( Pulau Gili ) pada kedalaman 5 m terdiri dari 7 family dan 23 spesies dan jumlah total individu sebanyak 154 ikan. Sedangkan pada kedalaman 10 m terdapat 9 family dan 20 spesies dengan jumlah total individu sebanyak 97 ikan. Pada lokasi 2 ( Pulau Cina ) pada kedalaman 5 m terdiri dari 9 family dan 41 spesies dengan jumlah total individu sebanyak 448 ikan. Sedangkan pada kedalaman 10 m terdapat 11 family dan 54 spesies dengan jumlah total individu sebanyak 347 ikan. Pada lokasi 3 ( Pulau Noko ) pada kedalaman 5 m terdiri dari 11 family dan 59 spesies dengan jumlah total individu sebanyak 591 ikan. Sedangkan pada kedalaman 10 m terdapat 10 family dan 39 spesies dengan jumlah total individu sebanyak 392 ikan.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FPR/2008/115/050803724
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 639 Hunting, fishing & conservation > 639.2 Commercial fishing, whaling, sealing
Divisions: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan > Teknologi Hasil Perikanan
Depositing User: Unnamed user with email heriprayitno@ub.ac.id
Date Deposited: 24 Apr 2009 09:55
Last Modified: 20 Oct 2021 04:31
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/132421
[thumbnail of 050803724.pdf]
Preview
Text
050803724.pdf

Download (4MB) | Preview

Actions (login required)

View Item View Item