Pengaruh Paparan Berulang 0,2 ppm Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Berformalin Secara Oral Selama 1 Bulan Terhadap Perubahan Fisiologi Mencit (Mus musculus) Betina Turunan Pertama (F1) dari Induk yang Terpapar Selama 3 Bulan

MaschayunLaili (2007) Pengaruh Paparan Berulang 0,2 ppm Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Berformalin Secara Oral Selama 1 Bulan Terhadap Perubahan Fisiologi Mencit (Mus musculus) Betina Turunan Pertama (F1) dari Induk yang Terpapar Selama 3 Bulan. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Penelitian Skripsi dilaksanakan di Laboratorium Biomolekuler Fakultas MIPA Universitas Brawijaya Malang pada bulan Desember 2006-Januari 2007. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh paparan berulang 0,2 ppm ikan nila berformalin terhadap perubahan fisiologi mencit betina dari induk yang terpapar selama 3 bulan. Ikan nila adalah suatu komoditas budidaya yang memiliki prospek pasar yang cukup tinggi. Selain mempunyai spesifik rasa, padat dagingnya, mudah disajikan dalam berbagai menu, harganya juga relatif murah sehingga terjangkau oleh masyarakat luas. Terlebih kini fillet nila merupakan komoditas ekspor yang mulai diminati oleh negara-negara importir khususnya Amerika Serikat, sebagai alternatif sumber protein non-kelesterol (DKP, 2005). Formalin telah banyak digunakan dalam pengawetan ikan. Formalin adalah larutan formaldehid dalam air yang mengandung 37-40%. Biasanya ditambahkan methanol 15% untuk mencegah polimerisasi (Wacanamitra, 2006). Mekanisme formalin sebagai pengawet adalah jika formaldehid bereaksi dengan protein sehingga membentuk rangkaian-rangkaian antara protein yang berdekatan. Akibat dari reaksi tersebut, protein mengeras dan tidak dapat larut (Standen, 1996 dalam Herdiantini, 2003 dalam Cahyadi, 2006). Saat formalin dipakai mengawetkan makanan, secara spontan bereaksi dengan protein-protein dalam makanan. Jika semua formaldehid habis bereaksi, sifat racun formalin hilang. Formalin yang telah bereaksi dengan protein tidak akan beracun. Makanan berformalin akan beracun jika di dalamnya mengandung sisa formaldehid bebas (yang tidak bereaksi) hampir selalu ada dan sulit dikendalikan. Itulah sebabnya, formalin untuk pengawetan makanan tidak dianjurkan (Nurachman, 2005). Di dalam tubuh, formaldehida dapat menimbulkan terikatnya DNA oleh protein (cross-link) sehingga mengganggu ekspresi genetik yang normal (Depkes, 2007). Formaldehid akan bereaksi dengan DNA atau RNA sehingga data informasi genetika menjadi kacau. Akibatnya, penyakit-penyakit genetik baru mungkin akan muncul. Bila gen-gen rusak itu diwariskan, maka akan terlahir generasi dengan cacat gen. Sifat merusak ini terletak pada gugus CO atau aldehid. Gugus ini bereaksi dengan gugus amina, pada protein (Nurachman, 2005). Dari hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan fisiologi. Hal ini diperlihatkan adanya gejala klinis yaitu 11,11% badan gemetar, 50% rambut berdiri, 11,11% badan tak seimbang dan 16,67% tumor. Prosentase kematiannya sebesar 27,78%. Hasil analisa kuantitatif menunjukkan perbedaan nyata (P<0.05) terhadap kadar SGOT, albumin, formaldehid dalam darah. Namun tidak memberikan perbedaan yang nyata (P>0.05) terhadap berat lambung, usus, hati dan ginjal serta kadar SGPT, globulin dan kreatinin.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FPR/2007/88/050803126
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 639 Hunting, fishing & conservation > 639.2 Commercial fishing, whaling, sealing
Divisions: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan > Teknologi Hasil Perikanan
Depositing User: Unnamed user with email heriprayitno@ub.ac.id
Date Deposited: 20 Oct 2008 09:52
Last Modified: 20 Oct 2021 04:01
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/132388
[thumbnail of 050803126.pdf]
Preview
Text
050803126.pdf

Download (3MB) | Preview

Actions (login required)

View Item View Item