Pengaruh Penginfeksian (White Spot Syndrome Virus) WSSV Dengan Dosis Yang Berbeda-beda Terhadap Waktu Kematian Udang vannamei (Litapenaeus Vannamei) Di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepa

EmmaAzizaTunnisa (2007) Pengaruh Penginfeksian (White Spot Syndrome Virus) WSSV Dengan Dosis Yang Berbeda-beda Terhadap Waktu Kematian Udang vannamei (Litapenaeus Vannamei) Di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepa. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Kehadiran varietas udang vannamei tidak hanya menambah pilihan bagi petambak tetapi juga menopang kebangkitan usaha pertambakan udang di Indonesia. Komoditas udang pernah menjadi pimadona perikanan budidaya, tetapi sekarang keadaan tersebut sulit untuk dipertahankan. Bahkan keadaan tersebut bertambah parah dengan adanya krisis multidimensi, gangguan lingkungan dan ancaman penyakit (Haliman dan Adijaya, 2006). Dalam sejarah perkembangan budidaya udang vannamei di Indonesia dijumpai banyak kendala yang mengakibatkan produksi udang berfluktuasi. Kendala itu adalah berjangkitnya wabah penyakit yang berakibat pada kematian udang secara massal di tambak. Diantara jenis penyakit yang menyerang udang vannamei, penyakit viral adalah penyakit yang paling ganas dan mengakibatkan kerugian paling besar. Tercatat wabah penyakit bercak putih telah melanda pertambakan Indonesia dan mengakibatkan kematian udang berumur antara 1 - 2 bulan (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2003). Penyakit ( White Spot Syndrome Virus) WSSV sampai saat ini merupakan penyakit virus yang paling berbahaya dalam budidaya udang. Serangan dari virus WSSV bersifat akut dengan tingkat kematian 100% dalam waktu seminggu Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mengetahui perubahan perubahan tingkah laku akibat serangan virus WSSV dan seberapa besar tingkat kematian udang vannamei ( Litapennaeus vannamei ) dengan dosis serangan yang berbeda-beda. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara, Jawa Tengah pada bulan Februari – Maret 2008. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen yaitu cara melakukan percobaan-percobaan untuk menguji hipotesa serta menemukan hubungan kausal antara variable-variabel yang diselidiki. Sedangkan pengambilan data denga cara observasi langsung, yaitu pengamatan dan pencatatan secara sistematis fenomena-fenomena yang diselidiki. Penelitian menggunakan 4 perlakuan, dan 5 kali ulangan dimana pada masing-masing perlakuan ditebar 5 ekor udang, sebagai perlakuan adalah konsentrasi penginfeksian WSSV yang berbeda yaitu Kontrol (konsentrasi 0 ml); perlakuan A (konsentrasi 0,1 ml); perlakuan B (konsentrasi 0,05 ml); perlakuan C (konsentrasi 0,025 ml). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan didapatkan dengan pemberian dosis virus WSSV yang berbeda-beda memberikan pengaruh terhadap perubahan tingkah laku udang vannamei. Pada penginfeksian virus WSSV dengan dosis 0,025 ml perubahan tingkah laku yang terjadi berupa gerakan yang lambat, tidak aktif bergerak dan respon terhadap rangsangan sangat rendah. Pada penginfeksian dengan dosis virus 0,05 ml perubahan tingkah laku yang terjadi berenang miring ke permukaan dan tampak lemah. Pada penginfeksian dengan dosis 0,1 ml Tidak aktif bergerak (lambat) berdiam diri didasar kolam dan respon sangat rendah, pakan yang diberikan masih utuh, tubuh, ekor, kaki jalan, kaki renang berwarna kemerahan, udang berenang ke permukaan dan sangat lemah kemudian tergelepar ke dasar kolam, udang dalam keadaan lemas dan mengalami kematian Serangan virus WSSV menyebabkan terjadinya kematian yang tinggi, dengan perlakuan pemberian dosis yang berbeda-beda meberikan pengaruh yang berbeda terhadap waktu kematian udang vannamei. Semakin tinggi dosis maka waktu kematian udang semakin cepat yaitu pada pemberian dosis (0,1 ml) kematian terjadi pada 2070 menit pasca penginfeksian, sedangkan pada pemberian dosis virus (0,025 ml) atau dosis terendah kematian terjadi pada 3480 menit pasca penginfeksian Parameter kualitas air selama penelitian pada media pemeliharaan masih dalam kisaran layak untuk kehidupan udang vannamei ( Litapenaeus vannamei ) dengan kisaran suhu antara 27,06 – 29,23 °C; salinitas berkisar 19,6 – 20,6 ppt ; oksigen terlarut berkisar antara 4,88 – 5,16 mg/L; pH berkisar 7,06 –7,23 ; amonia berada pada kisaran 0,018 – 0,04 ppm; serta alkalinitas berkisar antara 108 – 122 ppm CaCO 3. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan bahwa dalam budidaya udang khususnya udang vannamei kualitas air harus selalu dikontrol dalam kisaran optimal supaya tidak menjadi pemicu timbulnya virus yang dapat mematikan udang.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FPR/2007/194/050901117
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 639 Hunting, fishing & conservation > 639.2 Commercial fishing, whaling, sealing
Divisions: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan > Teknologi Hasil Perikanan
Depositing User: Unnamed user with email heriprayitno@ub.ac.id
Date Deposited: 04 May 2009 09:32
Last Modified: 19 Oct 2021 17:07
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/132321
[thumbnail of 050901117.pdf]
Preview
Text
050901117.pdf

Download (2MB) | Preview

Actions (login required)

View Item View Item