Studi Kondisi Sungai Torong Di Kota Batu Propinsi Jawa Timur Berdasarkan Alga Bentik (Epilithic)

VivinEndahRismayanti (2007) Studi Kondisi Sungai Torong Di Kota Batu Propinsi Jawa Timur Berdasarkan Alga Bentik (Epilithic). Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Sungai adalah ekosistem perairan yang bersifat terbuka, artinya mudah mendapat pengaruh dari daerah sekitarnya baik secara alami maupun oleh berbagai kegiatan manusia. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di lapangan, banyak aktifitas manusia yang dilakukan dekat dengan Sungai Torong ini yang dapat mempengaruhi ekosistem perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi dan kepadatan alga bentik (epilithic) yang ada di Sungai Torong, serta untuk menentukan kondisi Sungai Torong di Kota Batu berdasarkan alga bentik (epilithic) nya. Tempat penelitian dilaksanakan di Sungai Torong Kota Batu, Jawa Timur dan waktu pengambilan sampel pertama pada tanggal 7 Mei 2006 untuk stasiun 1 sampai stasiun 9, sedangkan pengambilan kedua pada tanggal 13 Mei 2006 untuk stasiun 10 sampai stasiun 16. Materi pada penelitian ini berupa data primer yaitu komposisi dan kepadatan alga periphyton (epilithic), air dan batu di Sungai Torong. Data sekunder diperoleh dari instansi terkait. Pengambilan sampel dilakukan pada 16 stasiun sebanyak satu kali pengambilan sampel. Stasiun pengambilan sampel ditentukan berdasarkan tata guna lahan yang ada di sepanjang Sungai Torong. Stasiun 1 merupakan daerah dekat dengan sumber air, Stasiun 2 merupakan daerah setelah ada aktivitas dari kolam ikan, Stasiun 3 merupakan daerah padang rumput dan pertanian, Stasiun 4 merupakan daerah padang rumput dan budidaya selada air, Stasiun 5 merupakan daerah persawahan dan budidaya selada air, Stasiun 6 merupakan daerah persawahan, Stasiun 7 merupakan daerah budidaya selada air, Stasiun 8 merupakan daerah pepohonan bambu dan budidaya selada air, Stasiun 9 merupakan daerah setelah adanya masukan limbah pabrik tahu, Stasiun 10 merupakan daerah setelah adanya masukan limbah rumah tangga dan potong ayam, Stasiun 11 merupakan daerah setelah adanya masukan limbah MCK dan ternak kambing, Stasiun 12 merupakan daerah aliran Sungai Lesti sebelum masuk ke aliran Sungai Torong, Stasiun 13 merupakan daerah setelah pertemuan dengan Sungai Lesti, Stasiun 14 merupakan daerah adanya masukan dari aktivitas pemandian umum, Stasiun 15 merupakan daerah setelah adanya masukan limbah MCK dan ternak kambing dan Stasiun 16 merupakan daerah hilir Sungai Torong. Setiap stasiun diambil 5 titik sampel dan diulang sebanyak tiga kali. Batu yang diambil dikikis dengan sikat pada luasan 4 cm2. Luasan tersebut didapat dengan menggunakan pola dari mika seluas 4 cm2. Sampel diberi preservasi (formalin) sebanyak 4% dari volume botol sampel yaitu sebesar 1,2 ml. Parameter fisika dan kimia yang diukur meliputi kecepatan arus, suhu, kecerahan, pH, CO2, nitrat dan ortofosfat. Metode Analisis data menggunakan analisis statistik multivariate PCA (Principal Component Analysis). Hasil penelitian didapatkan 3 phylum alga yaitu Chrysophyta, Chlorophyta dan Cyanophyta dengan 51 genus yang sebagian besar bersifat tidak predominan. Kepadatan total terendah terdapat pada stasiun 10 sebesar 117.757 ind/mm2. Sedangkan kepadatan tertinggi terdapat pada stasiun 15 sebesar 3.116.636 ind/mm2.Indeks keanekaragaman didapatkan nilai antara 1,85851 – 3,98589 yang menunjukkan keanekaragaman sedang sampai tinggi. Hasil uji stastistik multivariate PCA (Principal Component Analysis), Sungai Torong terbagi menjadi 2 kelompok yaitu Kelompok A yang terdiri dari Stasiun 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 dan 12, sedangkan Kelompok B terdiri dari Stasiun 9, 10, 11, 13, 14, 15 dan 16. Pada Kelompok A organisme yang mewakili yaitu Achnanthes, Achnanthidium, Amphora, Bacillaria, Closterium, Cocconeis, Cosmarium, Diatoma, Diploneis, Docidium, Eunotia, Fragilaria, Gomphoneis, Gomphonema, Gyrosigma, Melosira, Microcystis, Phormidium, Pinnularia, Pleurosigma, Sellaphora, Stauroneis, Stigeoclonium, Synedra, Tribonema dan Zygnema dengan kepadatan rata-rata tertinggi adalah Pinnularia sebesar 25.939 ind/mm2 (6,53%) menunjukkan bahwa perairan sudah tercemar ringan. Sedangkan pada Kelompok B organisme yang mewakili yaitu Cyclotella, Cymbella, Encyonema, Epithemia, Lyngbya, Navicula, Nitzschia, Oscillatoria dan Surirella dengan kepadatan rata-rata tertinggi adalah Nitzschia sebesar 350.348 ind/mm2 (36,71%) menunjukkan bahwa perairan sudah tercemar sedang. Berdasarkan parameter fisika dan kimia di Sungai Torong didapatkan kecepatan arus berkisar antara 4 – 13,6 cm/detik, suhu antara 22 – 24 °C, kecerahan 0 m (100%), pH berkisar antara 7 – 8, CO2 berkisar antara 5,45 – 21,79 mg/l, nitrat berkisar antara 0,1 – 0,4 mg/l dan ortofosfat berkisar antara 1 – 3,3 mg/l. Sungai Torong menunjukkan sudah mulai terganggu, oleh karena itu perlu diadakan penyuluhan pembuatan IPAL untuk mengurangi perusakan ekosistem Sungai Torong terutama pada stasiun yang telah mendapatkan masukan limbah industri dan limbah rumah tangga (antara stasiun 9 sampai stasiun 16) serta pemberian penyuluhan bagi masyarakat sekitarnya akan pentingnya perairan sungai ini untuk kehidupan manusia.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FPR/2007/147/050803192
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 639 Hunting, fishing & conservation > 639.2 Commercial fishing, whaling, sealing
Divisions: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan > Teknologi Hasil Perikanan
Depositing User: Unnamed user with email heriprayitno@ub.ac.id
Date Deposited: 23 Oct 2008 15:25
Last Modified: 19 Oct 2021 16:36
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/132275
[thumbnail of 050803192.pdf]
Preview
Text
050803192.pdf

Download (3MB) | Preview

Actions (login required)

View Item View Item