Pengaruh Berbagai Jenis Perangkap Dengan Ketinggian Yang Berbeda Terhadap Hasil Tangkapan Ngengat Penggerek Pucuk Tebu Scirpophaga Excerptalis Lewvanich (Lepidoptera: Pyralidae)

Arifin, Muhammad (2015) Pengaruh Berbagai Jenis Perangkap Dengan Ketinggian Yang Berbeda Terhadap Hasil Tangkapan Ngengat Penggerek Pucuk Tebu Scirpophaga Excerptalis Lewvanich (Lepidoptera: Pyralidae). Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Tebu merupakan tanaman penghasil gula terbesar. Salah satu kendala produktivitas tanaman tebu adalah adanya serangan hama penggerek pucuk tebu S. excerptalis. Serangan hama ini menyebabkan kematian titik tumbuh (mati puser) yang berkisar antara 0,12-5,3 % per baris tanaman sepanjang 10 m. Monitoring populasi hama penggerek diperlukan untuk menentukan tindakan pengendalian. Salah satu cara monitoring yang efektif adalah penggunaan perangkap feromon seks sintetis. Namun demikian penggunaan perangkap sangat tergantung dari jenis ngengat. Setiap jenis ngengat tertarik pada jenis perangkap yang berbeda. Perangkap sebaiknya dari bahan yang mudah didapat, mudah dibuat, mudah dirawat, dan mampu menarik ngengat walau dalam populasi rendah. Selain jenis perangkap, penempatan perangkap juga akan mempengaruhi kemampuannya untuk menangkap. Oleh karena itu percobaan ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas jenis perangkap dan pengaruh ketinggian perangkap terhadap ngengat jantan penggerek pucuk tebu yang tertangkap. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI), Pasuruan, mulai bulan Mei sampai dengan Juni 2015. Penelitian melalui dua tahap yaitu: tahap pertama meneliti pengaruh jenis perangkap dan yang kedua pengaruh ketinggian perangkap. Pada percobaan pertama terdapat 6 perlakuan perangkap yaitu perangkap air, perangkap funnel, perangkap sayap, perangkap botol, perangkap vane, dan perangkap delta terbuka. Adapun pada ketinggian perangkap terdapat lima perlakuan yaitu 50 cm dibawah kanopi, 25 cm dibawah kanopi, sejajar kanopi, 25 cm diatas kanopi, dan 50 cm diatas kanopi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan lima ulangan pada jenis perangkap dan empat ulangan pada tinggi perangkap. Data yang diperoleh dianilisis menggunakan nonparametric Kruskal Wallis dengan taraf kepercayaan 95% (α = 0,05). Apabila terdapat perbedaan diatara perlakuan dilanjukkan dengan uji lanjut Mann-Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkap air mampu menangkap ngengat jantan S. excerptalis lebih baik dibandingkan perangkap lain. Adanya air dapat menjaga suhu disekitar perangkap lebihl embab, sehingga lebih menarik bagi ngengat penggerek pucuk tebu yang menyukai kondisi lingkungan yang lembab untuk melakukan kopulasi. Penempatan perangkap dengan ketinggian 25 cm diatas kanopi mampu menangkap lebih baik dari yang lain. Penempatan perangkap 25 cm diatas kanopi berada pada lingkungan yang bebas dari halangan sehingga feromon dapat menyebar bebas. Posisi tersebut juga dekat dengan pucuk tanaman yang membuat kelembaban masih terjaga karena adanya penguapan, dan bau dari feromon seks sintetis dapat memotong bau feromon alami yang dikeluarkan betina dari dalam vegetasi.

English Abstract

Sugar cane is the biggest plants to produce white sugar. One of the problems to increase sugar cane productivity is sugarcane top borer S. excerptalis damaged. This pest causes 0,12-5,3 % dead heart in 10 m row’s lenght. Monitoring of borer population is needed to determine control measures. The use of synthetic sex pheromone trap is the effective way for pest monitoring. However the traps design to catch male moth depends onthe type of the moths. Each moth is attracted to the different trap types. Traps should be easy to be made and maintained, the materials easy to be found and could catch male moth although in the low population.In addition to the types of traps, trap placement will also affect its ability to capture. Therefore, this experiment aimed to determine the effectiveness of the trap types and the effects of the trap height placement to caught sugarcane top borer male moths. This experiment was conducted at experimental station of Indonesian Sugar Research Institute (ISRI) Pasuruan, and started from May until June 2015. The trial consisted of two phases, the first was about the type traps and the second was about height of trap. For the first experiment there were 6 types of pheromone trap :water trap, funnel trap, wing trap, bottle trap, vane trap, and open delta trap. For the second experiment,therewere five treatments: placing the traps 50 cm and 25 cm below canopy, in line with the canopy, 25 cm and 50 cm above canopy. They used Randomized Complete Block Design (RCBD) with five replication for the first experiment and four replication for the second ones. Data obtained was analyzed by nonparametric Kruskal Wallis with trust level 95 = 0,05). The difference between treatments were continued analyzed with Mann-Whitney U test. The result showed that the water trap can catch male moth of S. excerptalis better than the other traps. The water in this trap keeps the temperature and the moisture around the trap, so that more suitable for the moths to copulate. In the second experiment, placement the water trap 25 cm above canopy was better. This placement made the pheromone freely spread and closed enough to the canopy that made the male moth easier to recognized the synthetic pheromone than the natural pheromone.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2015/878/ 051509700
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 632 Plant injuries, diseases, pests
Divisions: Fakultas Pertanian > Hama dan Penyakit Tanaman
Depositing User: Kustati
Date Deposited: 29 Jan 2016 10:36
Last Modified: 29 Jan 2016 10:36
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/130922
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item