Potensi Jamur Beauveria Bassiana (Balsamo) Vuillemin (Hypocreales: Cordycipitaceae) Sebagai Jamur Endofit Dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan Pada Tanaman Kedelai (Glycine Max (L.) Merrill)

Kusuma, RamadhaniMahendra (2015) Potensi Jamur Beauveria Bassiana (Balsamo) Vuillemin (Hypocreales: Cordycipitaceae) Sebagai Jamur Endofit Dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan Pada Tanaman Kedelai (Glycine Max (L.) Merrill). Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Kedelai (Glicine max (L.) Merrill) memiliki peran penting di Indonesia sebagai sumber utama protein nabati. Konsumsi kedelai dalam negeri terus meningkat setiap tahun. Saat ini konsumsi kedelai per tahun mencapai 2,6 juta ton, sedangkan produksi kedelai nasional terus mengalami penurunan yang signifikan. Salah satu penyebab dari menurunnya produksi kedelai adalah serangan hama. Usaha pengendalian hama dapat dilakukan melalui peningkatan ketahanan tanaman. Peningkatan ketahanan tanaman oleh serangga, nematoda, atau patogen penyebab penyakit dapat melalui endofit. Endofit merupakan mikroorganisme (bakteri, jamur, atau aktinomisetes) yang hidup dan berkoloni di dalam jaringan inang tanpa menimbulkan efek negatif, bahkan banyak memberi keuntungan terhadap inangnya. Salah satu keuntungannya adalah sebagai agens pengendali hayati baik untuk serangga hama maupun patogen penyebab penyakit tanaman. Keuntungan endofit sebagai agens hayati adalah dapat mengurangi kerusakan tanaman oleh serangga, nematoda, atau patogen penyebab penyakit melalui induksi ketahanan tanaman. Jamur B. bassiana merupakan saprofit tanah, patogen serangga dan endofit tanaman. Beauveria bassiana sebagai endofit dapat diinisiasi baik melalui tanah, biji, radikel, rizom, batang, atau disemprotkan pada daun dan bunga. Beberapa peran lain jamur entomopatogen, diantaranya sebagai jamur endofit, jamur antagonis (penyakit tanaman), PGPF (Plant Growth Promoting Fungi), dan mampu berkoloni pada perakaran tanaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan jamur patogen serangga B. bassiana sebagai jamur endofit pada tanaman kedelai (G. max) dan membandingkan pengaruh metode inisiasi endofit jamur B. bassiana pada dua varietas tanaman kedelai (G. max) terhadap pertumbuhan tanaman serta jumlah koloni jamur B. bassiana pada bagian akar, batang, dan daun tanaman kedelai. Penelitian ini menggunakan dua jenis varietas tanaman kedelai yaitu Wilis dan Anjasmoro dengan rancangan acak kelompok (RAK) 6 perlakuan dan 3 ulangan sehingga diperoleh 18 satuan perlakuan setiap varietasnya. Persiapan penelitian meliputi pembuatan media ADK (Agar Dekstrosa Kentang) dan EKD (Ekstrak Kentang Dekstrosa), perbanyakan isolat B. bassiana, serta penanaman kedelai. Setelah tanaman kedelai berumur 12 hari setelah tanam, dilakukan inisiasi B. bassiana menggunakan 3 metode. Metode inisiasi yang digunakan yaitu perendaman benih, penyemprotan daun, dan pembasahan tanah. Kerapatan konidia B. bassiana yang digunakan pada setiap metode aplikasi yaitu 1x108 konidia/ml akuades dengan viabilitas lebih dari 80%. Evaluasi dilakukan 10 dan 20 hari setelah inisiasi (hsi) dengan cara mencabut tanaman lalu sampel tanaman dicuci menggunakan air mengalir, kemudian dilakukan pengukuran tinggi tanaman dan panjang akar serta perhitungan jumlah daun. Setiap tanaman kedelai diambil 1 helai sampel daun, 1 buah akar, dan 1 buah batang yang masing-masing dipotong 2 cm. Setiap sampel bagian tanaman disterilkan menggunakan NaOCl 1%, alkohol 70%, ii dan akuades steril. Setelah itu diisolasi dalam media ADK yang telah ditambahkan dengan antibiotik. Apabila hifa telah tumbuh pada tepi sampel bagian tanaman, maka dilakukan purifikasi. Jamur yang tumbuh diidentifikasi secara makroskopis dan mikroskopis. Kemudian dilakukan postulat Koch pada lava Tenebrio molitor L. (Coleoptera: Tenebrionidae). Hasil penelitian menunjukan bahwa jamur patogen serangga B. bassiana mampu berkolonisasi pada setiap bagian tanaman kedelai. B. bassiana yang ditemukan pada tanaman kedelai varietas Wilis mencapai 60% dari jumlah perlakuan sedangkan pada tanaman kedelai varietas Anjasmoro hanya 40% dari jumlah perlakuan. Hasil analisis ragam jumlah daun, tinggi tanaman, dan panjang akar menunjukkan bahwa inisiasi B. bassiana sebagai endofit pada tanaman kedelai tidak memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman pada masing-masing varietas 10 dan 20 hsi. Kerapatan konidia jamur B. bassiana yang diperoleh dari isolasi tanaman kedelai berkisar antara 1,01x106 sampai 19,07x106 konidia/ml akuades.

English Abstract

Soybean (Glicine max (L.) Merrill) has an important role in Indonesia as a major source of vegetable protein. Domestic soybean consumption was increases every year. The current consumption of soybean reach 2.6 million tonnes per year, while the national production of soybean continues to decreased significantly. Pest is a major caused of low national production of soybean in Indonesia. Pest control efforts can be done through increasing plant resistance. Improved plant resistance to insects, nematodes, or disease-causing pathogens can be through endophytic mechanism. Endophytic microorganisms (bacteria, fungi, or actinomycetes) were alive and colonize the host tissue without causing negative effects, even giving a lot of benefit to the host. One advantage is they can act as good as biological control agents for insect pests and plant disease (caused by pathogens). Endophyte benefit as biological agents are able to reduce of crop damage by insects, nematodes, or plant diseases through the induction of plant resistance. Fungus B. bassiana is a saprophyte soil, insects pathogens, and endophytic plant. Beauveria bassiana as endophyte can be initiated through the soil, seeds, radikel, rhizomes, stems, or sprayed on the leaves and flowers. Recently, it has been discovered that many of these entomopathogenic fungi play additional roles in nature. They are endophytes, antagonists of plant pathogens, associates with the rhizosphere, and possibly even plant growth promoting agents. The purpose of this reseach was developed an entomopathogenic fungus B. bassiana as endophytic fungi on soybean (G. max) and compared the effect of the initiation methods used two varieties of soybean (G. max) on plant growth and the number of B. bassiana colonies on the roots, stems, and leaves of soybean plants. This research used two varieties of soybean plants that Wilis and Anjasmoro. Preparation of research include media creation PDA (Potato Dextrose Agar) and PDB (Potato Dextrose Broth), cultures isolates of B. bassiana, as well as planting soybeans. After the soybean was 12 days after planting, the soybean was initiated with B. bassiana in one of three methods (by inoculating seeds, leaves, and soil). A suspension of 1x108 conidia ml-1 were used in the experiments. The germination exceeded 80%. Within each experiment, a randomized block design with six treatments (inoculation methods) and three replicates per treatment were used. Ten and twenty days after initiation, the plants were harvested and their leaves, stems and roots are sampled to evaluate endophytic fungal colonization. Before processing a plant, uproot carefully and wash thoroughly in running tap water, then measure and record its height, root length, and number of leaves from the base to the apical meristem. After that samples were individually surface sterilized by immersing them for three minutes in NaOCl 1%, 70% alcohol, and sterile distilled water, being cut into multiple sections, and incubated in potato dextrose agar media for 10 days. The media were inspected every day to observe fungal growth associated with plant sections and record the occurrence of B. bassiana to estimate iv the extent of its endophytic colonization. When the hyphae have grown at the edge of the sample parts of the plant, then do purification. The fungus that grown were identified macroscopically and microscopically. Kochs postulates were conducted using larvae of Tenebrio molitor L. (Coleoptera: Tenebrionidae). The results showed that B. bassiana was able to endophytically-colonize G. max in response to the demonstrated inoculation treatments. B. bassiana were found on Wilis varieties, reach 60% of the amount of treatment while on Anjasmoro varieties only 40% of the number of treatments. No differences were detected in their height, number of leaves and in their root length 10 and 20 days after initiations. Conidia concentration of B. bassiana derived from soybean crop isolation ranged 1,01x106 to 19,07x106 conidia/mL-1.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2015/731/ 051507724
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 632 Plant injuries, diseases, pests
Divisions: Fakultas Pertanian > Hama dan Penyakit Tanaman
Depositing User: Kustati
Date Deposited: 22 Oct 2015 09:46
Last Modified: 22 Oct 2015 09:46
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/130768
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item