BKG

Putra, Septian Adi (2017) Analisis Daya Saing Dan Spesialisasi Perdagangan Tembakau Indonesia Di Pasar Internasional. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Perdagangan Internasional memiliki peranan yang penting bagi Indonesia khususnya melalui kegiatan ekspor dan impor (Tambunan, 2001). Menurut Pasaribu (2013) peningkatan strategi manajemen guna meningkatkan daya saing adalah salah satu jalan yang dapat ditempuh suatu negara untuk mengikuti arus perekonomian global. Tembakau merupakan salah satu komoditas diunggulkan untuk diekspor, namun dalam kenyataannya tembakau Indonesia memiliki permasalahan, seperti produktivitas dan volume ekspor yang masih rendah, yang menyebabkan melemahnya daya saing tembakau Indonesia di pasar dunia. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mengidentifikasi bentuk persaingan antara negara Indonesia dengan negara pesaing lainnya (Cina, India dan Malawi) dalam perdagangan tembakau di pasar Jerman. (2) Menganalisis keunggulan komparatif tembakau Indonesia. (3) Menganalisis spesialisasi perdagangan tembakau Indonesia di pasar internasional. Adapun metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) Elastisitas substitusi impor untuk mengetahui bentuk persaingan antara Indonesia dengan negara pesaing (Cina, India dan Malawi). (2) Revealed Comparative Advantage (RCA) untuk menganalisis keunggulan komparatif komoditas tembakau Indonesia. (3) Indeks Spesialisasi Perdagangan untuk menganalisis spesialisasi perdagangan tembakau Indonesia dan negara pesaing cenderung sebagai eksportir atau importir. Hasil analisis elasitisitas substitusi impor menunjukkan bahwa Indonesia bersaing secara substitusi hanya dengan negara Malawi dipasar tembakau Jerman, hal ini ditunjukkan dengan koefisien regresi bernilai negatif (-) yakni sebesar -0,351, sedangkan persaingan dengan Cina dan India di pasar tembakau Jerman bersifat komplementer, hal ini ditujukkan dengan koefisien regresi bernilai positif (+) yakni sebesar 0,009 dengan Cina dan 0,489 dengan India. Hasil analisis keunggulan komparatif tembakau dengan menggunakan Revealed Comparative Advantage (RCA) menunjukkan bahwa Indonesia, India dan Malawi memiliki keunggulan komparatif dengan rata-rata nilai RCA masing-masing sebesar 1,56 (Indonesia), 3,96 (India) dan 757,56 (Malawi). Sedangkan Cina memiliki keunggulan komparatif yang lemah dengan nilai RCA kurang dari 1, yakni sebesar 0,68. Hasil analisis spesialisasi perdagangan menggunakan Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) menunjukkan bahwa Indonesia dan Cina memiliki spesialisasi ii perdagangan sebagai importir tembakau yang berada pada tahap substansi impor, dengan rata-rata nilai ISP masing-masing sebesar -0,26 (Indonesia) dan -0,17 (Cina). Sementara itu India dan Malawi memiliki spesialisasi perdagangan sebagai eksportir tembakau yang berada pada tahap kematangan, dengan rata-rata nilai ISP masing-masing sebesar 0,96 (India) dan 0,87 (Malawi). Berdasarkan hasil penelitian, maka untuk meningkatkan daya saing dan spesialisasi perdagangan tembakau Indonesia perlu perhatian lebih dari pemerintah. Adapun jalan yang dapat ditempuh pemeritah antara lain dengan mengadakan riset dan pengembangan teknologi, pembinaan petani, pemberian subsidi, kebijakan harga yang memihak kepada petani, serta melakukan promosi ekspor tembakau Indonesia di pasar dunia. Selain itu, peningkatan mutu tembakau Indonesia juga penting untuk dilakukan untuk meningkatkan daya saing. Untuk meningkatkan spesialisasi perdagangan dapat dilakukan dengan meningkatakan produktivitas atau menekan jumlah impor tembakau melalui gerakan pengurangan konsumsi tembakau dengan menandatangani Frame Convention on Tobacco Control (FCTC).

English Abstract

International trade has an important role for Indonesia, especially through export and import activities (Tambunan, 2001). According to Pasaribu (2013), improvement of management strategies to improve competitiveness is one way that can be taken by a country to follow the flow of the global economy. Tobacco is one of the superior commodities to be exported, but in reality, Indonesian tobacco still has problems, such as low productivity and export volume, which causes the weakening of Indonesia's tobacco competitiveness in the world market. The objectives of this research are: (1) To identify the competition between Indonesia and the competitor countries (China, India and Malawi) in tobacco trade in German market. (2) To analyze the comparative advantage of Indonesian tobacco. (3) To analyze Indonesian tobacco trade specialization in international market. The data analysis method used in this research are (1) Import substitution elasticity to know the type of competition between Indonesia and the competitor countries (China, India and Malawi). (2) To analyze the comparative advantages of Indonesian tobacco commodities used Revealed Comparative Advantage (RCA). (3) To analyze the tobacco trade specialization of Indonesia and the competing countries tend to be exporters or importers used Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP). The result of import substitution elasticity analysis shows that Indonesia competes substitutionally only with Malawi in German tobacco market, this is indicated by the value of regression coeficient is negative (-) that is -0.351, while competition with China and India in German tobacco market is complementary, This is indicated by the value of regression coefficient is positive (+), that is 0.009 with China and 0.489 with India. The analysis of comparative advantage of tobacco using Revealed Comparative Advantage (RCA) shows that Indonesia, India and Malawi have comparative advantages with average of RCA values is 1.56 (Indonesia), 3.96 (India) and 757.56 (Malawi). While China has a weak comparative advantage with RCA value less than 1, which is 0.68. The analysis of trade specialization using Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) indicates that Indonesia and China have specialized trade as tobacco importers who are in the import substance stage, with an average of ISP value is -0.26 (Indonesia) and -0, 17 (China). Meanwhile, India and Malawi have trade specializations as tobacco iv exporters in maturity stage, with the average of ISP value is 0.96 (India) and 0.87 (Malawi). Based on the results of the research, to improve the competitiveness and specialization of Indonesian tobacco trade needs more attention from the government. The government can take the path, such as, by conducting research and technology development, farmers development, subsidies, pricing policies that favor the farmers, and promoting the export of Indonesian tobacco in the world market. In addition, improving the quality of Indonesian tobacco is also important to improve the competitiveness of Indonesian tobacco. To increase trade specialization can be done by increasing productivity or decreasing the number of tobacco imports through the movement of tobacco consumption reduction by signing Frame Convention on Tobacco Control (FCTC).

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2017/809/051711026
Subjects: 300 Social sciences > 338 Production > 338.1 Agriculture > 338.17 Products > 338.173 71 Products (Tobacco industry)
Divisions: Fakultas Pertanian > Sosial Ekonomi Pertanian
Depositing User: Yusuf Dwi N.
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/7228
Text
Putra, Septian Adi.pdf

Download | Preview

Actions (login required)

View Item View Item