BKG

Syahreza, Ersal (2017) Analisis Value Chain Pada Pengembangan Usaha Integrasi Lele Aquaponik Di Kabupaten Tuban. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Perikanan adalah semua kegiatan yang berhubugan dengan pengolahan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkunganya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan (Undang-Undang Perikanan No. 31 Tahun 2004). Sumberdaya Perikanan sangat kaya dan potensial, baik di Wilayah perairan tawar (darat), perairan pantai, maupun perairan laut,. Salah satu potensi sumberdaya perairan air tawar yaitu keanekaragaman jenis ikan yang dapat memberikan peluang besar dalam kegiatan bisnis perikanan air tawar, baik untuk usaha perikanan tangkap di perairan umum maupun usaha budidaya ikan di tambak, kolam dan sawah khusus bidang udidaya dapat dilaksanakan menjadi suatu rantai usaha bisnis perikanan yang menjanjikan. Jawa Timur sebagai salah satu penghasil sektor perikanan terbesar. Sektor perikanan tersebut di peroleh dari sektor penangkapan dan budidaya. Kabupaten Tuban menjadi salah satu daerah penyumbang hasil perikanan di jawa timur, dengan kontribusi sebagian besar sektor perikanan budidaya. Hasil perikanan budidaya Tersebut diantaranya yang cukup berpotensi adalah di budidaya lele. Menurut data statistik DKP Provinsi Jawa Timur tahun 2015 produksi Budidaya lele di Tuban mencapai 4.863,74 ton. Tuban merupakan Kabupaten dengan potensi budidaya lele yang cukup besar, tetapi masih belum bisa teroptimalkan dengan baik, melihat masih banyaknya pelaku-pelaku atau kelompok-kelompok khususnya di bidang pembesaran yang masih bingung ketika menjualkan produknya sehingga perlu adanya perhatian lebih khusus dibagian pemasaranya. Di Kabupaten Tuban juga terdapat kelompokkelompok usaha dibidang tersebut yang dibentuk dan digerakkan Dinas atas dasar program integrasi perikanan dan Holikultura sehingga membentuk budidaya lele dan sawi yang biasa disebut lele aqauponik. Output dari kelompok tersebut adalah lele dan sawi, lele sudah sedikit disinggung mengenai permasalahanya, yakni lebih pada pemasaranya dan secara teknis proses produksi masih berjalan lancar, sedangkan untuk sawi masih mengalami beberapa kendala khususnya di teknis budidaya, sehingga mengidentifikasi pemasaranya masih belum bisa dilakukan. Kemudian juga perlu dilakukan bentuk identifikasi-identifikasi lain untuk membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan diatas. Dari berbagai masalah-masalah diatas kami mencoba melakukan penelitian dengan judul “Analisis Value Chain Pada Usaha Pengembangan Integrasi Lele Aquaponik di Kabupaten Tuban” dengan tujuan-tujuan yang tentunya membantu mengatasi masalah-masalah sebelumnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Peta hubungan atar pelaku, skema alur rantai nilai, mengetahui juga margin nilai dan harga, kelayakan usaha dan terakhir menyusun strategi penguatan produksi. Tujuan-tujuan tersebut didekati dengan tiga analisis yang berbeda, pertama dengan Analaisis Value Chain yang berfungsi untuk memetakan pelaku dan melihat keberhasilan secara general diberbagai bidang, kedua menggunakan Analisis Finansiil dimana analisis tersebut berfungsi untuk melihat kelayakan suatu usaha, dan terakhir dianalisis kembali menggunakan analisis GSM untuk menyususn strategi pada aktifitas produksi disetiap bidang usaha masing-masing. Hasil dari Analisis Value Chain Menjawab tujuan pertama, kedua dan ketiga. Dimana diketahui peta hubungan antar pelaku dengan hasil bahwa ada tiga bidang usaha, satu pelaku utama dan beberapa pelaku penyedia input, ouput dan instansi/Lembaga terkait dimasing-masing bidang usaha. Diketahui juga alur dan kapasitas serapan input dan output lewat skema alur rantai nilai. Sedangkan Margin Harga dan Margin Nilai juga diketahui permasing-masing jenis saluran pemasaran. Dari analisis diatas telah diketahui pemetaan pelaku, kegiatan, alur, dan margin, Sehingga keberhasilan secara bersama mulai dari bidang usaha yang ada dihulu sampai hilir dapat diketahui. Penelitian ini tidak berhenti sampai disini selanjutnya di sambung dengan analisis berikutnya yakni analiisis finansiil. Didalam analisis finansiil dibahas mengenai hal-hal yang bersifat kuantitatif. Dari analisis jangka pendek yang dilakukan secara umum usaha tersebut dapat dibilang menguntungkan dengan melihat hasil-hasil perhitungan yang muncul seperti TC sebesar 40.083.500, TR sebesar 48.360.000, π sebesar 8.276.500, RC ratio sebesar 1,206, Rentabilitas sebesar 20,65 %, BEP (q) sebesar 1887, BEP (s) 29.252.886. Sedangkan dalam analisa jangka panjang yang dilakukan didapat hasil seperti IRR sebesar 25 %, Net B/C sebesar 1,40 dan NPV sebesar 10,02 sehingga dapat disimpulkan bahwa usaha tersebut layak. Setelah selesai dengan dua analisis tersebut, langkah selanjutnya adalah dengan menyusun strategi penguatan produksi yang didapat dari analisis Grand Strategy Matrix (GSM). Analisis terakhir adalah analisis GSM dimana keluaran dari analisis tersebut adalah berbentuk saran strategi, dianalisis rantai nilai sudah petakan pelaku utama dan aktifitas produksinya sehingga sangat memudahkan analisis GSM untuk membuat saran strategi dengan lebih detail permasing-masing aktifitas produksi disetiap bidang usaha masing-masing. Di analisis finansiil juga telah dihitung mengenai kelayakan usaha sehingga itu juga sangat memudahkan analisis GSM untuk menentukan strateginya dengan melihat kelayakanya terlebh dahulu. Keluaran saran dari analisis GSM berupa Divestasi, Integrasi, Diversifikasi dan pengembangan. Kemudian hasil saran tersebut dijadikan pertimbangan untuk menentukan kebijakan Dinas untuk mengatur usaha tersebut lebih bagus lagi. Dari berbagai usaha yang dilakukan jika kelembagaan terkait seperti dinas, kelompok dan pihak-pihak lain tidak satu tujuan maka usaha tersebut akan sia-sia. Karena yang menjadi point penting selanjutnya adalah sinergitas antara Dinas kelompok dan pihak-pihak lain untuk satu tujuan membangun usaha tersebut lebih besar lagi. Dengan pihak peneliti sebagai pemberi saran, dengan menjadikan hasil penelitian ini menjadi bahan rekomendasi untuk Dinas. Dan diilanjutkan dengan bentuk kebijakan. Terakhir adalah kelompok sebagai pelaku yang harus menjaga komunikasi agar selalu terintegrasi antara satu dengan yang lain.

English Abstract

This research aims to know and analyze the relationships between aquaponic catfish business. This research method use qualitative descriptive using value chain. This research show that there is 3 relationship maps between businessman which is nursery, enlargement and collecting business. For businessman need to optimize production with adding more input also using map and data to develop the business. For Tuban Fisheries and Marine Institution the maps and data that been produce can be use as reference for developing catfish in Tuban, spread the walfare and support for catfish business evenly.

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FPR/2017/533/051706988
Uncontrolled Keywords: lele aquaponik, value chain, GSM, pengembangan usaha, kesejahteraan bersama.
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 639 Hunting, fishing & conservation > 639.3 Culture of cold-blooded vertebrates > 639.31 Fish culture in fresh water
Divisions: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan > Sosial Ekonomi Agrobisnis Perikanan
Depositing User: Kustati
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/6338
Text
Bagian Depan.pdf
Restricted to Repository staff only

Download
Text
BAB I.pdf
Restricted to Repository staff only

Download
Text
BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only

Download
Text
BAB III.pdf
Restricted to Repository staff only

Download
Text
BAB IV.pdf
Restricted to Repository staff only

Download
Text
BAB V.pdf
Restricted to Repository staff only

Download
Text
BAB VI.pdf
Restricted to Repository staff only

Download
Text
Daftar Pustaka.pdf
Restricted to Repository staff only

Download

Actions (login required)

View Item View Item