BKG

Aziz, Achmad Fadhli (2017) Pemanfaatan Air Kelapa Tua Berbeda Varietas Sebagai Pengencer Terhadap Kualitas Semen Kambing Boer Pada Penyimpanan 3-50c. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Upaya untuk pemenuhan kebutuhan daging dapat dilakukan dengan peningkatan produktivitas kambing Boer, salah satunya dengan teknologi Inseminasi Buatan (IB). Inseminasi buatan dilakukan dengan melalui proses pengenceran semen. Bahan pengencer yang biasa digunakan yakni tris aminomethane, namun pengencer ini masih dinilai cukup mahal karena memanfaatkan bahan kimia yang masih impor, sehingga dibutuhkan pengencer yang lebih murah, sederhana dan praktis. Air kelapa merupakan pengencer alternatif yang memenuhi syarat tersebut dengan kandungan gula yang mampu menjadi sumber nutrisi bagi spermatozoa. Pemanfaatan air kelapa sebagai pengencer ini juga merupakan upaya untuk memafaatkan potensi lokal. Air kelapa yang umum digunakan sebagai pengencer adalah air kelapa muda, sedangkan air kelapa tua yang terbuang akan menimbulkan polusi asam asetat yang merugikan. Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan penelitian dengan memanfaatkan air kelapa tua sebagai pengencer alternatif. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 11 Desember 2016 - 31 Januari 2017 di laboratorium lapang Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui perbedaan penggunaan air kelapa tua varietas kelapa merah (Cocos rubescens) dan kelapa hijau (Cocos viridis) sebagai pengencer terhadap motilitas, viabilitas dan abnormalitas spermatozoa kambing Boer selama penyimpanan 3-50C. Materi Penelitian yang digunakan adalah semen segar kambing Boer sebanyak 3 ekor dari laboratorium lapang Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya yang ditampung setiap seminggu dua kali menggunakan metode vagina buatan. Persyaratan semen segar yang digunakan dalam penelitian ini yaitu semen dengan motilitas massa ≥ ++ dan motilitas individu ≥ 70%. Kuning telur yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuning telur ayam ras petelur (layer) dengan umur telur < 3 hari dan diperoleh langsung dari peternak di sekitar Sumber Sekar. Kelapa yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelapa tua dengan jenis kelapa merah (C. Rubescens) dan kelapa hijau (C. viridis) yang diperoleh dari perkebunan kelapa Sekolah Tinggi Teknologi Pertanian (STTP), Malang. Pengencer tris aminomethane kuning telur yang digunakan dibuat langsung di laboratorium reproduksi Fakultas Brawijaya, Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen laboratorium dengan 3 perlakuan dan 10 ulangan. Perlakuan penelitian ini yaitu P0 (Tris+ 20% Kuning Telur); P1 (Air Kelapa Merah (C. Rubescens) + 20% Kuning Telur); P2 (Air Kelapa Hijau (C. viridis) + 20% Kuning Telur). Data yang diperoleh dianalisa degan Rancangan Acak Kelompok (RAK), selanjutnya apabila terdapat perbedaan yang nyata atau sangat nyata, akan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air kelapa mampu bertahan selama 2 hari dalam mempertahankan kualitas spermatozoa dengan hasil motilitas individu spermatozoa setelah peyimpanan pada suhu 3-50C selama 2 hari terbaik pada P0 (74±3,9 %) dan berbeda nyata (P<0,05) dengan P1 (51±27,5 %) serta P2 (61±19,3 %). Nilai viabilitas pada hari ke-2 P0 (71,67±7,80 %) menunjukkan nilai terbaik dan berbeda nyata (P<0,05) dengan P2 (67,14±17,99 %) serta P1 (55,37±10,66). Persentase abormalitas pada hari ke-2 terbaik pada P2 (1,23±1,02 %) dimana nilai tersebut tidak berbeda nyata (P>0,05) P0 (1,57±0,71 %) dan P1 (1,70±0,99 %). Disimpulkan bahwa air kelapa tua belum mampu setara dengan tris aminomethan dalam mempertahankan motilitas individu dan viabilitas kecuali abnormalitas spermatozoa. Air kelapa tua varietas hijau (C. viridis) lebih baik dari air kelapa merah (C. rubescens) dalam mempertahankan kualitas spermatozoa selama penyimpanan 3-50C, sehingga disarankan pemanfaatan air kelapa tua sebagai pengencer menggunakan varietas air kelapa hijau (C.viridis).

English Abstract

The Purpose of this research was to determine differences of old coconut water varieties of red (Cocos rubescens) and green (Cocos viridis) as diluent Boer goat semen, based on motility, viability and sperms abnormalities during storage at 3-50C. The materials used for this research was Boer goat fresh semen as much as 3 heads were collected 2 times a week, egg yolk, and old coconut water. The treatment were devided into three groups, there were: P0 (Tris+ 20% egg yolk); P1 (old coconut water varieties red + 20% egg yolk); P2 (old coconut water varieties green + 20% egg yolk). The data were analyzed by randomized block design, if the result are different or significantly different then continued to be tested with Duncan's multiple range test. The result showed that during storage until days 2, P0 has the best result on motility (74±3.9 %) and viability (71.67±7.80 %), then P2 for abnormality (1.23±1.02 %). Old coconut water varieties green has better result than varieties red to kept quality of spermatozoa during storage at temperature 3-50C until days 2.

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FPT/2017/410/051710007
Uncontrolled Keywords: liquid semen, tris aminomethan, cocos rubescens, cocos viridis.
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 636 Animal husbandry > 636.3 sheep and goats > 636.39 Goats > 636.390 82 Goats--Breeding > 636.390 824 Goats--Reproduction > 636.390 824 5 Goats--Artificial insemination
Divisions: Fakultas Peternakan > Peternakan
Depositing User: Nur Cholis
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/4781
Text
Achmad Fadhli Aziz.pdf

Download | Preview

Actions (login required)

View Item View Item