BKG

Devi, Astari Lutviana (2017) Analisis Pembangunan Ekonomi Kreatif Dan Pengembangannya Dalam Perspektif Model Penta Helix (Studi Pada Kota Malang). Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Penyelenggaraan Indonesian Creative Cities Conference 2016 telah menjadi langkah awal Pemerintah Kota Malang dalam mengembangkan potensi ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif (ekraf) kota Malang bergerak secara dinamis melalui aktivasi dari para pelaku kreatif yang terklasifikasi ke dalam 16 sub sektor dengan potensi terbesar terdapat pada tiga bidang yaitu kuliner, aplikasi dan game developer dan animasi. Permasalahan seperti minimya akses permodalan, sulitnya komersialisasi produk kreatif, hingga kolaborasi diantara para stakeholder yang kompleks membuat penelitian pembangunan ekonomi kreatif dan kolaborasi antar aktor (penta helix) menjadi relevan untuk dilakukan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teori dari pembangunan ekonomi Schumpeter serta kolaborasi model penta helix. Penelitian menggunakan jenis deskriptif kualitatif dengan dua fokus yaitu pembangunan ekonomi (kondisi sosial politik, pelaku inovasi, akses akumulasi modal, proses regenerasi dan ketersediaan sumberdaya inovatif, kenaikan output masyarakat) dan kolaborasi aktor melalui perspektif penta helix (akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah, media massa). Hasil penelitian menyebutkan bahwa kondisi sosial politik Kota Malang cukup kondusif bagi pembangunan ekraf. Entitas pelaku ekraf sebagai pelaku inovasi memicu tumbuhnya ekraf melalu inovasi usaha yang dijalankan. Sementara akses modal masih minim diberikan kepada pelaku ekraf, sektor ekraf di bidang digital kurang bankable. Regenerasi dan ketersediaan sumberdaya inovatif dilakukan melalui pelatihan-pelatihan kreatif. Sedangkan kenaikan output masyarakat terwujud melalui kemunculan peluang usaha yang lebih luas bagi masyarakat, penyerapan tenaga kerja dan kontribusi ekraf pada pendatan daerah Kota Malang. Sementara pada kolaborasi aktor penta helix terjalin melalui penyatuan peran diantara akademisi (konseptor pengembangan iptek dan sumberdaya manusia kreatif melalui riset). Selanjutnya pelaku bisnis yang terbagi menjadi pelaku ekraf serta swasta yang banyak berperan sebagai penggerak inovasi ekraf dan pengembangan ICT. Komunitas (akselerator) menjalankan peran edukasi skill, bisnis juga tempat mengembangakn networking bagi pelaku ekraf. Pemerintah berperan sebagai regulator dan fasilitator koordinasi, dalam hal ini pemerintah masih kurang tegas dalam menetukan arah pengembangan ekraf Kota Malang serta masih terjadi miskoordinasi kewenangan diantara beberapa OPD seperti Disperin dan Disbudpar dalam mengembangkan ekraf. Terakhir peran media massa yang masih minor, tidak dilibatkan secara aktif dalam kolaborasi dan hanya sebatas menjadi media patner yang mempublikasi event-event kreatif Malang.

English Abstract

Indonesian Creative Cities Conference 2016 has been the first stage for Malang City Government to develop potential of creative economy. Creative economy in Malang dynamically move through the activity of creative agents which is classified in 16 subsectors with the most potential sector in culinary, application game developer and animation. Problems such less capital acces and less commercialization of creative product also the collaboration among complex stakeholders make this research is relevant to do. This research used Schumpeter economy development theory and penta helix collaboration model. Reseach approach is used qualitative descriptive. It consist of two focus, that are economics development (social politics condition, innovative agent, capital acces, regeneration and availability of innovative resources, increased of people output) and collaboration among the actors in penta helix model (academia, bussines, community, government and mass media) The study found out that social politics condition was conducive enough for creative economy development. The entity of creative agents as inovatif actor trigger the growth of creative economy through innovative entreprises that was run by them. In the other side, capital modal still not much given to creative agents, digital creative moreover is not bankable. Regeneration and the availability of innovative resources is done by training activities. Beside that, the increased of people’s output inclined aim to increase of the wider bussines opportunities, employ labour and contribute for regional income. In addition, penta helix collaboration intertwind through the integration of roles among academia (as conceptor of reseach in development of knowledge and human resouces). Then, bussines that divided between creative agent and corporates take role as trigger for innovation dan develop ICT. Community (accelerator) run skill and bussines education also develop networking. Government take role as regulator and facilitator for coordination, in that case the government still not clearly enough to determined vision of creative economy development, and sometime happened miss-coordination among the government department. At the last, mass media not much involved in creative economy development, they just run as media publication for creative events in Malang.

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FIA/2017/614/051708344
Uncontrolled Keywords: Pembangunan Ekonomi, Ekonomi Kreatif, Model Penta Helix
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 650 Management and auxiliary services > 650.1 Personal success in business
Divisions: Fakultas Ilmu Administrasi > Ilmu Administrasi Publik / Negara
Depositing User: Kustati
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/3494
Text
ASTARI LUTVIANA DEVI.pdf

Download | Preview

Actions (login required)

View Item View Item