BKG

Tawangsari., Arini Nur (2017) Komunitas Kelomang Di Kawasan Wisata Mangrove Desa Penunggul Kecamatan Nguling Pasuruan Jawa Timur. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Hutan mangrove adalah komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai, laguna, maupun muara sungai. Dengan demikian bentuk hutan mangrove dan keberadaannya karena adanya pengaruh darat dan laut. Salah satu fauna akuatik yang ada di hutan mangrove adalah kelomang. Kelomang adalah Krustasea Decapoda dari klass Malacostraca yang menggunakan cangkang kosong dari organisme lain sebagai rumah atau tempat tinggalnya dan melindungi diri dari serangan predator. Kelomang merupakan salah satu fauna yang ada di dalam hutan mangrove. Di dalam rantai makanan kelomang berfungsi sebagai pemakan segala.keberadaan kelomang dapat mrmpengaruhi keseimbangan ekosistem. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui komunitas kelomang yang ada di Kawasan Wisata Mangrove Desa Penunggul Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober- November 2016 di Kawasan Wisata Mangrove Desa Penunggul Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Pengujian tekstur tanah dan bahan organik dilakukan di Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Metode yang diggunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik pengambilan data berupa data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung di lapang, sedangkan data sekunder diperoleh dari studi pustaka. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelomang dan bahan organik tanah. Selain itu juga dilakukan analisis substrat untuk menentukan jenis tekstur tanah. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui kelomang yang ditemukan terdiri dari 4 spesies yaitu Clibanarius longitarsus, Clibanarius virescens, Calcinus laevimanus, dan Calcinus morgani. Hasil analisis kelimpahan kelomang di stasiun 1 pada spesies Clibanarius longitarsus sebesar 3625 ind/ha, Clibanarius virescens 875 ind/ha, Calcinus laevimanus 200 ind/ha, dan Calcinus morgani 125 ind/ha. Hasil analisis kelimpahan kelomang di stasiun 2 pada spesies Clibanarius longitarsus sebesar 1800 ind/ha, Clibanarius virescens 375 ind/ha, Calcinus laevimanus 125 ind/ha, dan Calcinus morgani 75 ind/ha. Hasil analisis kelimpahan kelomang di stasiun 3 pada spesies Clibanarius longitarsus sebesar 975 ind/ha, Clibanarius virescens 125 ind/ha, Calcinus laevimanus, dan Calcinus morgani tidak ditemukan pada stasiun tersebut. Kelimpahan relatif kelomang pada stasiun 1 untuk masing-masing spesies kelomang adalah sebagai berikut Clibanarius longitarsus sebesar 75,13%, Clibanarius virescens 18,13%, Calcinus lavimanus 4,14%, Calcius morgani 2,59%. Kelimpahan relatif kelomang pada stasiun 2 untuk masing-masing spesies kelomang adalah sebagai berikut Clibanarius longitarsus sebesar 75,79%, Clibanarius virescens 15,79%, Calcinus lavimanus 5,26%, Calcius morgani 3,16%. Kelimpahan relatif kelomang pada stasiun 3 untuk masing-masing spesies kelomang adalah sebagai berikut Clibanarius longitarsus sebesar 88,64%, Clibanarius virescens 11,36%. Indeks keanekaragaman kelomang di stasiun 1 adalah 0,74, stasiun 2 adalah 0,76, dan stasiun 3 adalah 0,35. Indeks dominasi kelomang pada stasiun 1 untuk masing-masing spesies kelomang adalah sebagai berikut Clibanarius longitarsus sebesar 0,75; Clibanarius virescens 0,18; Calcinus lavimanus 0,04; Calcius morgani 0,03. Indeks dominasi kelomang pada stasiun 2 untuk masingmasing spesies kelomang adalah sebagai berikut Clibanarius longitarsus sebesar 0,76; Clibanarius virescens 0,16; Calcinus lavimanus 0,05; Calcinus morgani 0,03. Indeks dominasi kelomang pada stasiun 3 untuk masing-masing spesies kelomang adalah sebagai berikut Clibanarius longitarsus sebesar 0,89; Clibanarius virescens 0,11. Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh nilai dari pola distribusi kelomang di stasiun satu untuk spesies Clibanarius longitarsus 1,42; Clibanarius virescens 1,03; Calcinus laevimanus 1,43; dan Calcinus morgani 1,00. Pada stasiun dua untuk spesies Clibanarius longitarsus 1,06; Clibanarius virescens 0,86; Calcinus laevimanus 2,00; dan Calcinus morgani 1,67. Stasiun tiga untuk spesies Clibanarius longitarsus 1,13; dan Clibanarius virescens 2,00. Hasil pengamatan secara keseluruhan menunjukkan bahwa spesies yang paling banyak ditemukan pada Kawasan Wisata Mangrove Desa Penunggul Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan Jawa Timur adalah Clibanarius longitarsus. Hal ini dikarenakan habitat spesies tersebut yaitu kawasan yang tekstur tanahnya lumpus berpasir atau di kawasan mangrove. Dan pola benyebaran secara keseluruhan kelomang adalah pola penyebaran mengelompok. Perlunya pengamatan lebih lanjut tentang kelomang di Tempat Wisata Mangrove Nguling, terutama tentang kandungan bahan organik pada wilayah pertumbuhan kelomang agar keseimbangan ekosistem pada kawasan mangrove tetap terjaga.

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FPR/2017/281/051704125
Subjects: 500 Natural sciences and mathematics > 595 Arthropoda > 595.3 Crustacea
Divisions: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan > Manajemen Sumberdaya Perairan
Depositing User: Sugiantoro
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/312
Text
Arini Nur Tawangsari.pdf

Download | Preview

Actions (login required)

View Item View Item