BKG

Widagdo, Titis Bayu (2017) Analisis Ginem Werkudara Dalam Lakon Dewa Ruci Oleh Ki Nartosabdo (Tinjauan Etnopuitika). Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Wayang merupakan hasil budaya yang masih terjaga eksistensinya sampai sekarang. Eksistensi tersebut tidak terlepas dari penggunaan ragam bahasa yang indah pada setiap pementasannya. Ragam bahasa indah pada disetiap pementasan tersebut dibagi menjadi tiga bagian, yaitu ginem, kandha, dan suluk. Ginem atau dialog merupakan aktivitas interaksi interpersonal. Dialog memiliki ciri khas yang membedakan dengan kedua bagian yang telah dijelaskan, yaitu kandha dan suluk. Perbedaan tersebut terletak pada segi kreativitas dalang dalam membuat dialog sangat menonjol. Hal tersebut dikarenakan ginem tidak diikat secara erat oleh pakem. Sehingga ragam bahasa yang digunakan akan berbeda setiap pementasannya. Dari penjelasan tersebut, penelitian ini memfokuskan kajian pada penggunaan ragam bahasa dalam dialog Werkudara dalam lakon Dewa Ruci 1984 oleh Ki Nartosabdo. Analisis ini menggunakan metode deskriptif kualitatif serta pangambilan data dilakukan dengan simak catat. Dengan metode deskriptif yang dikombinaskan dengan metode padan dan agih dapat menghubungkan kajian bahasa dengan bahasa itu sendiri dan aspek luar bahasa, sehingga hasil penelitian ini dapat secara lengkap dipaparkan. Tokoh Werkudara dipilih menjadi kajian utama karena peran sentralnya. Kemudian Werkudara memiliki keunikan ragam bahasa yang digunakan dalam unda-usuk atau tingkat tutur. Terdapat dua pola pakem yang dapat ditemukan dalam dialog WR (1) pola ragam ngoko yang digunakan Werkudara ketika berdialog dengan sesama manusia, dan (2) pola ragam krama yang digunakan Werkudara ketika berdialog dengan Dewa. Selain, keunikan tersebut, hal lain yang dikaji dalam penelitian ini adalah keindahan bahasa dan keluhuran nilai kearifan lokalnya. Keindahan bahasa akan dikaji dalam aspek mikrolinguistik, yaitu pemilihan bahasa dari segi afiksasi Jawa Kuno dan dwipurwa yang memiliki misi sebagai aspektualitas makna, serta aspek makrolinguistik pada kajian purwakanthi dan pengungkapan (rasa, tempat, dan nasihat) memiliki misi keindahan dan pengkaburan makna. Terakhir, adalah pembahasan tentang nilai kearifan lokal, yaitu teladan yang dapat kita ambil dari tokoh WR dari lugu dan apadaannya sampai keberaniannya. Kemudian ajaran Dewa Ruci yang menyadarkan kita terhadap mistisme Jawa, ilmu kesempurnaan, dan asal-usul manusia.

English Abstract

Wayang is a form of culture that still exist and maintained until today. The existence is inseparable from the use of beautiful variety of language on each staging of Wayang. Those language is divided into three kinds, namely ginem, kandha, and suluk. Ginem or dialogue is an interpersonal interaction activity. Dialogue have distinctive features that distinguish the two parts that have been described, namely kandha and suluk. The difference lies in the creativity of dalang in making dialogues that stands out. This is because ginem is not bind with pakem, so the language used in each staging will be different. From those explanation, this study focuses on the use of language in Werkudara dialogue in Dewa Ruci play 1984 by Ki Nartosabdo. The data were analyzed using descriptive qualitative method, and data retrieval was done by observation and note taking. By using descriptive method that combined with padan and agih method, the study of a language can be connected with the language itself and other aspects outside the language, making the result of this study able to be fully described. Werkudara was chosen in this study because of his central role. He also has the uniqueness of the variety of languages used in unda-usuk or level of speech. There are two pakem patterns that can be found in WR’s dialogue: (1) the ngoko pattern used by Werkudara during dialogue with another human being, and (2) krama pattern used by Werkudara during dialogue with Gods. In addition to the uniqueness, other things discussed in this study is the beauty of the language and nobility of the value of local wisdom. The beauty of the language was examined using microlinguistic aspect, which is the process of choosing language in terms of the affixation of Old Javanese, and dwipurwa whose mission as aspectuality of meaning as well as the macrolinguistic aspect of the study of purwakanthi and disclosure (taste, place, and counsel) that has a mission of beauty and meaninglessness. Finally, the discussion of the value of local wisdom, which can be taken from the characteristics of WR from his innocence to his courage. Then the teachings of Dewa Ruci that introduced us to Javanese mysticism, the science of perfection, and the origin of human.

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FBS/2017/745/051707526
Uncontrolled Keywords: Ginem atau dialog, tindak tutur, afiksasi Jawa kuno, dwipurwa, purwakanthi, ungkapan, nilai kearifan lokal.
Subjects: 700 The Arts > 791 Public performances > 791.5 Puppetry and toy theaters
Divisions: Fakultas Ilmu Budaya > Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Depositing User: Kustati
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/1905
Text
TITIS BAYU WIDAGDO.pdf

Download | Preview

Actions (login required)

View Item View Item