BKG

Vita, Fidca Fitria Aning (2020) Uji Kualitas Limbah Minyak Goreng Rumah Makan Sebagai Pakan Suplemen Ditinjau Dari Berat Jenis, Kadar Air, Dan Energi. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia sebagai bahan penggorengan bahan-bahan makanan. Minyak goreng berasal dari minyak nabati dan hewani berupa senyawa gliserida. Limbah minyak goreng masih jarang atau belum sepenuhnya dimanfaatkan dan seringkali hanya dibuang sebagai limbah yang dapat mencemari lingkungan, limbah minyak goreng sisa penggorengan baik industri maupun rumah tangga masih mengandung asam lemak yang cukup tinggi. Penelitian dilakukan dengan metode survei dan pengambilan sampel di 4 rumah makan yang lokasinya dekat dengan universitas di sekitar kota Malang pada hari yang berbeda. Selanjutnya dilakukan analisis laboratorium di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang, dan di Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Waktu penelitian dilakukan pada tanggal 10 Desember 2019 - 23 Maret 2020. Materi penelitian ini adalah minyak goreng baru dan limbah minyak goreng sisa penggorengan di empat rumah makan yang lokasinya berbeda, pengambilan minyak dilakukan selama 3 kali pada hari yang berbeda yang digunakan sebagai ulangan. Sampel minyak goreng baru dan limbah minyak goreng dari masing-masing rumah makan selanjutnya diuji kualitasnya berdasarkan berat jenis, kadar air, dan energi. Data yang diperoleh ditabulasi dan dianalisis ragam sesuai Rancangan Acak Kelompok (RAK) 4 perlakuan yaitu empat rumah makan yang lokasinya disekitar Universitas Brawijaya Malang dan 3 ulangan menggunakan Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis minyak goreng yang digunakan yaitu minyak goreng cap kuda dan minyak goreng curah.Minyakdibelidaritoko kelontong. Pada restoran P1, P2, dan P4 menggunakan minyak goreng cap kuda yang memiliki nilai berat jenis: 0,90 kg/liter, kadar air: 0,28%, dan energi: 9.302,06 kkal/kg, sedangkan pada restoran P3 menggunakan minyak goreng jenis curah yang memiliki nilai berat jenis: 0,93 kg/liter, kadar air: 0,71%, dan energi: 9.210,96 kkal/kg. Minyak goreng tersebut digunakan untuk menggoreng ayam dan ikan, setiap hari limbah yang dihasilkan setiap restoran berbeda-beda sesuai dengan banyak atau tidaknya pelanggan, pada restoran P1 menghasilkan sekitar 2 liter limbah, P2 1,5 liter limbah, P3 0,5 liter limbah, sedangkan P4 menghasilkan sekitar 0,25 liter limbah minyak goreng. Pemanfaatan limbah yang dihasilkan disetiap restoran berbeda-beda pada P1 limbah biasa digunakan sebagai adonan sambal atau dibuang begitu saja di saluran pembuangan, P2 limbah diambil oleh pengepul yang kemudian digunakan sebagai bahan biosolar, P3 limbah dibuang begitu saja disaluran pembuangan air, sedangkan pada P4 limbah digunakan sebagai adonan sambel. Berdasarkan analisis ragam dari 4restoran tersebut diperoleh hasil bahwa berat jenis, kadar air, dan energi minyak jelantah di keempat restoran tersebuttidak berbedanyata (P>0,05). Nilai rataan berat jenis berkisar antara 0,95±0,012 sampai 0,96±0,029 kg/liter, kadar air berkisar antara 0,13±0,199 sampai 0,39±0,301 %, dan energi berkisar antara 9.255,66±66,51 sampai 9.532,47±188,58 kkal/kg. Kesimpulan dari penelitian ini adalah karakteristik minyak goreng limbah (Berat Jenis, Kadar Air, dan Energi) tidak berbeda dengan minyak goreng baru, dan sesuai dengan syarat minyak goreng menurut SNI 01-3741-2002. Sehingga limbah minyak goreng memiliki potensi sebagai pakan suplemen pada ternak yang lebih murah dibandingkan dengan minyak goreng baru.

English Abstract

The purpose of this study was to determine the potential of restaurant cooking oil waste as animal feed suplement. The research materials were cooking oil and cooking oil waste from 4 fast food restaurants, the oil was taken at 3 times of different days for the test replication. The quality from all samples were tested based on specific gravity, water, and energy content. The results showed that the types of cooking oil were cap kuda cooking oil and bulk cooking oil. Restaurants P1, P2 and P4 used cap kuda cooking oil which has a specific gravity value: 0,90 kg/liter, water content: 0,28%, and energy content: 9.302,06 kcal/kg, while the P3 restaurant used bulk cooking oil which has a specific gravity value: 0.93 kg/liter, water content: 0,71%, and energy content: 9.210,96 kcal/kg. Based on the analysis of the variance from 4 treatments, there was found that the treatments did not give significant effect (P>0.05) of specific gravity, water, and energy content. The average value of specific gravity ranged from 0,95 ± 0,012 to 0,96 ± 0,029 kg/liter, water content ranged from 0,13 ± 0,199 to 0,39 ± 0,301%, and energy content ranged from 9.255,66 ± 66,51 to 9.532,47 ± 188,58 kcal/kg. The conclusion of this research is the characteristics of cooking oil waste (specific gravity, water, and energy content) did not change the new cooking oil consistency, therefore cooking oil waste has the potential as a livestock feed suplement. Using the restaurant waste oil can reduce costs more than using the new cooking oil, because cooking oil waste price is the cheaper than new cooking oil.

Other Language Abstract

-

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: 0520050141
Uncontrolled Keywords: Cooking oil, cooking oil waste, and energy
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 641 Food and drink > 641.3 Food > 641.337 4 Specific food from plant crops (Cacao) > 641. 338 3 Specific food from plant crops (Ginger) > 641.338 5 Specific food from plant crops (Cooking oils )
Divisions: Fakultas Peternakan > Peternakan
Depositing User: Budi Wahyono
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/182790
Text
Fidca Fitria Aning Vita.pdf

Download | Preview

Actions (login required)

View Item View Item