BKG

Siswoyo, Doni Andri (2020) Pengaruh Penambahan Ekstrak Daun Cincau Hitam (Mesona Palustris B.) Dalam Pengencer Tris Aminomethan Kuning Telur Terhadap Kualitas Semen Beku Dua Ekor Kambing Boer. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Salah satu usaha untuk mempercepat populasi kambing Boer dan meningkatkan mutu genetik ternak kambing di Indonesia yaitu dengan teknologi Inseminasi Buatan (IB). Keberhasilan program IB dapat ditentukan oleh kualitas semen, perlakuan terhadap semen, transportasi semen dan pelaksanaan dalam inseminasi. Semen yang dibutuhkan setiap saat dalam program IB harus tetap dalam keadaan baik dan layak untuk di inseminasikan sehingga diperlukan semen beku. Semen beku membutuhkan bahan pengencer yang mengandung zat-zat makanan berupa sumber energi bagi spermatozoa, tidak bersifat racun bagi spermatozoa, dapat melindungi spermatozoa dari kejut dingin (cold shock), menghambat pertumbuhan mikroba dan bersifat penyangga. Pengencer tris aminomethan kuning telur mengandung fruktosa, laktosa, rafinosa, asam-asam amino, vitamin, antibiotik dan kuning telur yang dapat mempertahankan daya hidup spermatozoa. Tris aminomethan digunakan sebagai media buffer di dalam pengenceran semen, karena mampu mencegah perubahan pH akibat asam laktat hasil dari metabolisme spermatozoa. Selain itu, bahan pengencer yang digunakan dalam pembuatan semen beku juga perlu ditambahkan bahan lain seperti antioksidan. Daun cincau hitam mengandung flavonoid, fenol dan tanin dengan kapasitas antioksidan cukup tinggi sehingga tergolong sebagai antioksidan yang kuat. Antioksidan merupakan senyawa yang mampu penghambat dan menekan resiko kerusakan spermatozoa selama pembekuan dengan mengurangi reaksi berbahaya dari ROS (reactive oxygen species). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak daun cincau hitam (Mesona palustris B.) dengan konsentrasi yang berbeda dalam pengencer tris aminomethan kuning telur terhadap kualitas semen beku dua ekor kambing Boer. Materi penelitian yang digunakan adalah semen segar yang berasal dari dua ekor kambing Boer berumur 3,5 – 4 tahun dengan bobot badan sekitar 60-70 kg yang dipelihara di Laboratorium Lapang Sumbersekar. Penampungan semen dari dua ekor kambing Boer dilakukan 2 kali dalam seminggu dengan metode vagina buatan. Semen yang digunakan mempunyai motilitas massa minimal 2+ dan motilitas individu minimal 70%. Semen diencerkan menggunakan pengencer tris aminomethan kuning telur dan ekstrak daun cincau hitam. Pengencer tris aminomethan didapatkan dari Laboratorium Reproduksi Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Daun cincau hitam didapatkan dari Magetan dan pembuatan ekstrak daun cincau hitam dilakukan di UPT Materia Medica Batu Malang. Kuning telur ayam ras berumur 1 hari yang didapatkan dari peternak ayam petelur di Desa Sumbersekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental laboratorium dengan dengan 4 perlakuan yaitu P0 (80% tris aminomethan + 20% kuning telur + 0% ekstrak daun cincau hitam), P1 (80% tris aminomethan + 20% kuning telur + 2% ekstrak daun cincau hitam), P2 (80% tris aminomethan + 20% kuning telur + 4% ekstrak daun cincau hitam) dan P3 (80% tris aminomethan + 20% kuning telur + 6% ekstrak daun cincau hitam). Masing-masing perlakuan dicobakan sebanyak 10 ulangan dan semua diamati pada Before Freezing dan post thawing. Variabel yang diamati meliputi motilitas individu, viabilitas, abnormalitas dan integritas membran spermatozoa. Data hasil pengamatan yang didapatkan dianalisis dengan uji t berpasangan. Hasil dari analisis uji t berpasangan yang membedakan antara perlakuan kontrol P0 dengan perlakuan P1, P2 dan P3 menunjukkan bahwa perlakuan P0 dengan P1, P2 dan P3 memberikan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) terhadap motilitas individu spermatozoa dua ekor kambing Boer pada saat post thawing. Perlakuan P0 dengan P1 dan P3 memberikan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) dan perlakuan P0 dengan P2 memberikan perbedaan yang nyata (P<0,05) terhadap viabilitas spermatozoa dua ekor kambing Boer pada saat post thawing. Perlakuan P0 dengan P1, P2 dan P3 memberikan perbedaan yang nyata (P<0,05) terhadap abnormalitas spermatozoa dua ekor kambing Boer pada saat post thawing dan perlakuan P0 dengan P1 memberikan perbedaan yang tidak nyata (P>0.05) dan perlakuan P0 dengan P2 dan P3 memberikan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) terhadap integritas membran spermatozoa dua ekor kambing Boer pada saat post thawing. Hasil Rataan persentase motilitas individu spermatozoa pada post thawing adalah P0 (33,50±4,74%), P1 (37,50±4,86%), P2 (24,50±5,50%) dan P3 (14,50±4,97%). Rataan persentase viabilitas spermatozoa pada post thawing adalah P0 (55,56±3,30%), P1 (59,88±5,58%), P2 (48,96±5,15%) dan P3 (37,97±3,26%). Rataan persentase abnormalitas spermatozoa pada post thawing adalah P0 (6,09±1,66%), P1 (4,11±1,28%), P2 (4,38±1,11%) dan P3 (4,48±0,88%). Rataan persentase integritas membran spermatozoa pada post thawing adalah P0 (50,73±3,09%), P1 (52,43±4,11%), P2 (36,18±5,80%) dan P3 (25,68±7,33%). Berdasarkan hasil uji t berpasangan dan hasil rataan diatas dapat disimpulkan bahwa perlakuan P1 dengan penambahan ekstrak daun cincau hitam sebesar 2% mampu mempertahankan kualitas semen beku dua ekor kambing Boer lebih baik dibandingkan dengan perlakuan kontrol P0 atau tanpa penambahan ekstrak daun cincau hitam. Disarankan untuk penelitian selanjutnya dalam melakukan penambahan ekstrak daun cincau hitam dengan konsentrasi ≤ 2% kedalam pengencer tris aminomethan kuning telur.

English Abstract

This study was aimed to determine the effect of black grass jelly leaves (Mesona palustris B.) extract with different concentrations in tris aminomethane egg yolk diluent to the quality of two Boer goats frozen semen. The study was conducted at the Reproduction Laboratory and Sumbersekar Laboratory of Animal Science Faculty, University of Brawijaya, Malang. The semen was collected using an artificial vagina twice a week from two Boer goats aged 3,5-4 years with a bodyweight of around 60-70 kg. The minimum standard of fresh semen is 2+ motility and 70% individual motility. The study was conducted with four treatments; P0 (80% tris aminomethane + 20% egg yolk + 0% Mesona palustris extract), P1 (80% tris aminomethane + 20% egg yolk + 2% Mesona palustris B. extract), P2 (80% tris aminomethane + 20% egg yolk + 4% Mesona palustris B. extract) and P3 (80% tris aminomethane + 20% egg yolk + 6% Mesona palustris B. extract) with ten replications and observed before freezing and post thawing. Variables observed in this study were individual motility, viability, abnormality, and plasm membrane’s integrity and data were analyzed with Paired T Test. P1 (2% Mesona palustris extract) treatment showed the highest percentage of individual motility, viability, and plasm membrane’s integrity and had the lowest percentage of abnormality at before freezing and post thawing. The conclusion of this study was the addition of black grass jelly leaves extract 2% in tris aminomethane egg yolk diluent is able to maitain the quality of two Boer goats frozen semen.

Other Language Abstract

-

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: 0520050043
Uncontrolled Keywords: Boer goats, semen, tris aminomethane, black grass jelly leaves extract
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 636 Animal husbandry > 636.3 Sheep and goats > 636.39 Goats > 636.390 82 Goats (Breeding) > 636.390 824 Goats (Breeding and reproduction methods) > 636.390 824 5 Goats (Artificial insemination)
Divisions: Fakultas Peternakan > Peternakan
Depositing User: Budi Wahyono
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/182086
Text
Doni Andri Siswoyo.pdf

Download | Preview

Actions (login required)

View Item View Item