BKG

Fatmila, Dian Tria (2020) Pengaruh Penambahan Ekstrak Daun Cincau Hitam (Mesona Palustris B.) Dalam Pengencer Cep-3 Kuning Telur Terhadap Kualitas Semen Beku Kambing Boer. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Inseminasi Buatan (IB) merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu genetik dan produktivitas ternak kambing lokal, selain itu IB juga dapat mempercepat program persilangan apalagi dengan jumlah kambing pejantan Boer yang terbatas di Indonesia. Keberhasilan IB dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu kualitas semen. Rendahnya kualitas semen beku yang digunakan untuk IB dapat disebabkan oleh penanganan semen yang kurang tepat mulai dari penampungan, pengenceran, ekuilibrasi, dan pembekuan semen. Selain itu, penurunan kualitas semen terjadi karena adanya peningkatan aktivitas metabolisme yang meningkatkan konsentrasi radikal bebas yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup spermatozoa. Penggunaan pengencer merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan kualitas spermatozoa dan kelangsungan hidupnya. CEP-3 merupakan pengencer semen hasil modifikasi dari pengencer CEP-2 di mana salah satu komponen pengencer CEP-2 yaitu BSA (Bovine Serum Albumin) digantikan dengan putih telur (Salim, Yekti, Kuswati dan Susilawati, 2018). Penambahan bahan alami yang memiliki aktivitas antioksidan juga diperlukan untuk menekan radikal bebas yang terbentuk selama proses metabolisme. Daun cincau hitam (Mesona palustris B.) merupakan tanaman yang memiliki aktivitas antioksidan tinggi, sehingga dapat menangkal radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penambahan ekstrak daun cincau hitam (Mesona palustris B.) dengan konsentrasi yang berbeda terhadap kualitas semen beku kambing Boer. Materi yang digunakan pada penelitian ini yaitu semen kambing Boer dari Laboratorium Lapang Sumber Sekar Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Penelitian dilaksanakan pada 16 September 2019 sampai dengan 5 Februari 2020. Penampungan semen dan proses pembekuan semen dilaksanakan di Laboratorium Lapang Sumber Sekar Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Penampungan semen dilakukan dengan menggunakan vagina buatan. Semen segar yang telah ditampung memiliki persyaratan untuk dapat diproses menjadi semen beku. Persyaratan semen segar antara lain semen harus memiliki motilitas massa minimal 2+ dan motilitas individu minimal 70%. Kuning telur yang digunakan sebagai salah satu bahan pengencer merupakan kuning telur dari telur segar dengan umur telur maksimal 3 hari yang berasal dari Peternakan Di jalan Melati, Dusun Banjartengah, Desa Sumber Sekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Pengencer yang digunakan pada penelitian ini yaitu CEP-3 kuning telur. Metode yang digunakan dalam pada penelitian ini yaitu percobaan laboratorium menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan antara lain P0 (90% CEP-3 + 10% Kuning Telur (KT) + 0,4% Putih Telur (PT)), P1 (90% CEP-3 + 10 KT + 0,4% PT dan 1% Ekstrak Daun Cincau Hitam (EDCH)), P2 (90% CEP-3 + 10 KT + 0,4% PT dan 2% EDCH), P3 (90% CEP-3 + 10 KT + 0,4% PT dan 3% EDCH) dan masing-masing 10 kali ulangan. Selanjutnya apabila diantara perlakuan tersebut menunjukkan perbedaan pengaruh yang nyata atau sangat nyata terhadap variabel penelitian, maka akan dilakukan Uji Jarak Berganda Duncan (Duncan’s Multiple Range Test). Variabel yang diamati meliputi persentase motilitas individu, persentase viabilitas, persentase abnormalitas, dan persentase integritas membran plasma sebelum dan setelah pembekuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak daun cincau hitam pada konsentrasi yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap persentase motilitas individu, viabilitas, dan integritas membran plasma saat pengamatan before freezing dan post thawing. Persentase rataan motilitas individu before freezing pada masing-masing perlakuan secara berurutan dari yang tertinggi ke terendah yaitu P1 (57,50 ± 5,40%), P0 (56,00 ± 5,68%), P2 (46,50 ± 4,74%), dan P3 (42,00 ± 5,37%). Persentase rataan viabilitas before freezing pada masing-masing perlakuan secara berurutan dari yang tertinggi ke terendah yaitu P1 (64,69 ± 5,73%), P0 (61,68 ± 5,36%), P2 (60,19 ± 5,94%), dan P3 (54,46 ± 4,59%). Persentase rataan integritas membran plasma before freezing pada masing-masing perlakuan secara berurutan dari yang tertinggi ke terendah yaitu P1 (57,67 ± 6,20%), P0 (55,49 ± 4,75%), P2 (52,64 ± 6,17%), dan P3 (48,10 ± 4,76%), sedangkan penambahan ekstrak daun cincau hitam pada konsentrasi yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap persentase abnormalitas. Berikut persentase rataan abnormalitas before freezing pada masing-masing perlakuan yaitu P0 (2,67 ± 0,69%), P1 (2,71 ± 0,90%), P2 (2,62 ± 0,74%), dan P3 (2,78 ± 0,64%). Persentase rataan motilitas individu post thawing pada masing-masing perlakuan secara berurutan dari yang tertinggi ke terendah yaitu P1 (38,00 ± 5,37%), P0 (34,50 ± 5,99%), P2 (27,50 ± 5,89%), dan P3 (19,00 ± 6,15%). Persentase rataan viabilitas post thawing pada masing-masing perlakuan secara berurutan dari yang tertinggi ke terendah yaitu P1 (46,81 ± 3,67%), P0 (43,19 ± 2,52%), P2 (42,72 ± 3,21%), dan P3 (39,40 ± 2,66%). Persentase rataan integritas membran plasma post thawing pada masing-masing perlakuan secara berurutan dari yang tertinggi ke terendah yaitu P1 (41,71 ± 1,67%), P0 (39,11 ± 2,45%), P2 (38,38 ± 2,96%), dan P3 (35,99 ± 2,11%), sedangkan penambahan ekstrak daun cincau hitam pada konsentrasi yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap persentase abnormalitas. Berikut persentase rataan abnormalitas post thawing pada masing-masing perlakuan yaitu P0 (3,09 ± 1,20%), P1 (2,65 ± 0,50%), P2 (2,60 ± 0,78%), dan P3 (2,77± 0,57%). Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penambahan ekstrak daun cincau hitam ke dalam pengencer CEP-3 kuning telur memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kualitas semen beku kambing Boer. Penambahan ekstrak daun cincau hitam sebanyak 1% merupakan konsentrasi optimum yang dapat ditambahkan dalam pengencer CEP-3 kuning telur, sehingga mampu mempertahankan kualitas semen beku kambing Boer. Saran dari penelitian ini yaitu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengaplikasikan semen beku dengan penambahan ekstrak daun cincau pada IB dan dilakukannya evaluasi keberhasilan IB dengan semen tersebut. Selain itu, dapat dilakukan pengujian menggunakan in vitro fertilization technology untuk mengetahui fertilitas semen beku yang diencerkan dengan pengencer CEP-3 kuning telur yang ditambahkan ekstrak daun cincau hitam.

English Abstract

The purpose of this research was to determine the addition of black grass jelly extract (Mesona palustris B.) with different concentrations on the quality of frozen semen of Boer goats. The material used is Boer goat semen which is collected using an artificial vagina. The diluent used in this research is CEP-3 egg yolk. The method used in this research was a laboratory experiment using a randomized block design (RBD) with 4 treatments including P0 (90% CEP-3 + 10% Egg Yolk (EY) and 0.4% Albumin), P1 (90% CEP-3 + 10% EY + 0.4% Albumin and 1% Black Grass Jelly Extract (BGJE)), P2 (90% CEP-3 + 10 EY + 0.4% Albumin and 2% BGJE), P3 (90% CEP-3 + 10 EY + 0.4% Albumin and 3% BGJE) with 10 replications. The observed variables included the percentage of individual motility, viability, abnormality, and plasma membrane integrity before and after freezing. The data obtained were analyzed by Analysis of Variance (ANOVA) based on Randomized Block Design. Furthermore, if among these treatments show differences in a significant or highly significant effect on research variables, then tested by Duncan's Multiple Range Test (DMRT). The results showed that the addition of black grass jelly extract had a highly significant effect (P<0.01) on the percentage of individual motility, viability, and plasma membrane integrity, while the addition of black grass jelly extract at different concentrations had no significant effect (P>0.05) to the percentage of abnormality. P1 is the best treatment compared to P0, P2, and P3 on the percentage of individual motility, viability, and plasma membrane integrity on post thawing observations. The conclusion of the research was the addition of 1% (P1) black grass jelly leaf extract in egg yolk CEP-3 extender was able to maintain the quality of frozen semen of Boer goats during frozen storage.

Other Language Abstract

-

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: 0520050039
Uncontrolled Keywords: CEP-3 Egg Yolk, Black Grass Jelly Leaves Extract, Frozen Semen
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 636 Animal husbandry > 636.3 Sheep and goats > 636.39 Goats > 636.390 82 Goats (Breeding) > 636.390 824 Goats (Breeding and reproduction methods) > 636.390 824 5 Goats (Artificial insemination)
Divisions: Fakultas Peternakan > Peternakan
Depositing User: Budi Wahyono
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/182060
Text
Dian Tria Fatmila.pdf

Download | Preview

Actions (login required)

View Item View Item