BKG

Farisi, Haidar Alief Al (2019) Konflik Dan Solidaritas Masyarakat Pesisir Dalam Ritual Petik Laut Di Sendangbiru, Jawa Timur. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Mengutip data dari Potensi Desa (PODES) (2014), sekitar 12.827 dari 82.190 desa di Indonesia merupakan desa pesisir. Masyarakat pesisir bukan sekedar suatu kelompok sub komunitas desa, namun juga merupakan sub etnis seperti desa – desa nelayan Bugis, Makasar, dan Madura di daerah pesisir. Masyarakat pesisir yang memiliki latar belakang berkaitan dengan laut, mewujudkan tradisinya melalui ritual yang menunjukkan rasa syukur. Dusun Sendangbiru merupakan desa nelayan yang ditinggali oleh berbagai etnis masyarakat. Adanya perbedaan ini membuat timbulnya konflik horizontal. Kegiatan ritual petik laut di Dusun Sendangbiru merupakan suatu produk budaya dalam menyelesaikan salah satu konflik masyarakat yang besar pada saat itu. Namun saat ini muncul adanya ketidaksukaan masyarakat terhadap kegiatan ini. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi konflik dan solidaritas yang terjadi di Dusun Sendangbiru serta mengidentifikasi solidaritas dalam petik laut di Dusun Sendangbiru. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2019 di Dusun Sendangbiru, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yaitu dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sumber data yang digunakan terdiri dari data primer dan data sekunder. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan nonprobability sampling dengan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Analisis data menggunakan model Miles and Huberman yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification . Dusun Sendangbiru merupakan dusun yang baru dibuka pada awal 1970- an. Pada awalnya, masyarakat Sendangbiru bertempat tinggal di Desa Kalitimbang yang merupakan kampung awal masyarakat sekitar tahun 1960 – 1970 an. Profesi masyarakat pada awalnya adalah petani, hal ini dapat diamati dari sejarah sukuran dusun yang terlebih dulu ada dibanding sukuran nelayan dan petik laut. Sukuran dusun ini diadakan sejak berdirinya dusun dan diadakan setiap bulan 6 oleh para pendiri dusun. Waktu ini dipilih dikarenakan bulan 6 merupakan waktu panen padi / panen raya. Pada tahun 1970-an, masyarakat setempat bersama salah seorang pendeta bernama STY membuka jalan menuju pesisir Sendangbiru dengan cara membabat hutan dikarenakan akses transportasi pada saat itu terhalang oleh hutan lebat. Pada awalnya, nelayan Sendangbiru menggunakan perahu kunting pada awal 70 hingga 80 an dan diketuai oleh Mbah NYT yang memimpin sekitar 60 orang nelayan. Hingga saat ini, Dusun Sendangbiru disebut oleh penduduknya sebagai Indonesia kecil dikarenakan banyaknya pendatang dari berbagai suku. Nelayan pendatang diantaranya datang dari Pasuruan, Jember, Madura, Puger, Lumajang, Banyuwangi, bahkan dari luar Pulau Jawa seperti nelayan Bugis, Sumatera, dan Kalimantan.vi Dusun Sendangbiru yang memiliki penduduk dari berbagai daerah, suku, dan budaya membuat masyarakat mengalami konflik yang beragam. Selain itu, konflik juga muncul disebabkan adanya persaingan antar nelayan. Kebersamaan masyarakat Sendangbiru dapat ditemui dalam kehidupan sehari – hari maupun dalam acara – acara besar. Solidaritas masyarakat Sendangbiru juga dapat ditemui dalam lingkungan kerja maupun lingkungan masyarakat. Petik laut di Sendangbiru bukanlah budaya asli masyarakat Sendangbiru, melainkan budaya adaptasi dari nelayan puger untuk membuat acara sukuran nelayan di Sendangbiru menjadi lebih meriah dan dilakukan tiap tahunnya. Pelaksanaan petik laut di Sendangbiru mengalami berbedaan pandangan, ada yang setuju dan ada yang tidak. Namun saat ini masih banyak masyarakat yang setuju akan pelaksanaan petik laut terutama yang masih memegang erat budaya Sendangbiru dan yang masih percaya akan hal mistik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah masyarakat Sendangbiru berisikan penduduk dari berbagai macam daerah dan latar belakang. Banyaknya perbedaan yang dimiliki oleh tiap kelompok masyarakat, berperan dalam berbagai konflik yang dihadapi oleh masyarakat Sendangbiru. Solidaritas yang ada dalam masyarakat Sendangbiru terbentuk dalam ranah kerja dan ranah kehidupan sehari – hari, sedangkan Petik Laut di Sendangbiru adalah suatu produk solidaritas masyarakat Sendangbiru dalam menciptakan budayanya sendiri. Saran yang dapat diberikan yaitu diharapkan masyarakat dan stakeholder terkait bekerjasama dalam menyelesaikan berbagai konflik yang terjadi serta membangun solidaritas antar masyarakat Sendangbiru.

English Abstract

-

Other Language Abstract

-

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FPIK/2019/940/0520000043
Subjects: 500 Natural sciences and mathematics > 577 Ecology > 577.5 Ecology of miscellaneous environments > 577.51 Coastal Ecology
Divisions: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan > Sosial Ekonomi Agrobisnis Perikanan
Depositing User: Nur Cholis
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/177853
Text
HAIDAR ALIEF AL FARISI (2).pdf

Download | Preview

Actions (login required)

View Item View Item