BKG

Supriyogi, Nur Annisa (2019) Nilai Tambah Produk Sate Kelinci Di Rumah Makan “Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono” Kota Batu. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Rumah makan “Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono” merupakan usaha yang menjual makanan olahan daging kelinci seperti sate kelinci, rica-rica kelinci, dan gulai kelinci. Produksi sate kelinci dalam usaha ini tentunya terdiri dari beberapa kegiatan dari karkas kelinci masuk, proses pengolahan, hingga menjadi sate kelinci yang siap disajikan ke konsumen. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui nilai tambah produk sate kelinci dan bagaimana rantai nilai produk sate kelinci yang terjadi di “Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono”.Penelitian dilakukan di rumah makan “Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono” yang beralamat di Jl. Ir. Soekarno Ruko Beji, Junrejo, Kota Batu. Penelitian ini dilakukan selama 31 hari yang dimulai pada 29 Maret hingga 28 April 2019. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus yaitu kejadian nyata yang berkaitan dengan nilai tambah sate kelinci. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik purposive sampling yaitu pengambilan sampel dilakukan secara sengaja denganiv bertimbangan bahwa usaha tersebut mengolah dan menjual sate kelinci secara mandiri. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dan observasi. Data yang diambil adalah data primer berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data yang termasuk kuantitatif yaitu data biaya produksi sate kelinci, jumlah sate kelinci yang diproduksi, dan satuan harga sate kelinci yang ditetapkan. Sedangkan data yang termasuk kuantitatif yaitu proses pengolahan sate kelinci dari hulu, processing, hingga hilir beserta pemasarannya. Analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif untuk menjelaskan rantai nilai produk sate kelinci dan analisis ekonomi untuk menjelaskan biaya produksi dan nilai tambah sate kelinci. Rumah makan “Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono” didirikan oleh Bapak Sudjiono bersama istrinya Ibu Nurwati. Usaha ini telah didirikan sejak tahun 2009 dengan bermodalkan 10-15 juta rupiah. Tujuan didirikannya usaha ini adalah sebagai mata pencarian untuk keluarga pemilik usaha. Menu makanan yang ada hingga saat ini berjumlah 15 macam dan menu minuman sebanyak 8 macam. Jenis tenaga kerja yang digunakanadalah tenaga kerja dalam keluarga. Pengolahan sate kelinci selama waktu penelitian membutuhkan waktu sekitar 16 hari dengan jam kerja sekitar 4 jam/ hari. Usaha ini dapat menjual sate kelinci sekitar 4000- 5000 tusuk dengan pendapatan sate kelinci menyumbang sekitar 45% dari total pendapatan usaha ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya produksi yang dibutuhkan untuk mengolah 100 kg karkas kelinci menjadi 4550 tusuk sate kelinci adalah Rp 10.937.209,38/ bulan. Biaya produksi ini terdiri dari biaya penyusutan alat, penyusutan bangunan, karkas kelinci, bumbu, lemak sapi,v tusuk sate, arang, pemakaian listrik dan jasa pemasaran GrabFood. Hasil analisis rantai nilai produk sate kelinci di “Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono”terdapat pelaku yang berperan yaitu peternak di sektor hulu; supplier karkas kelinci dan “Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono” di sektor processing; serta GrabFooddan konsumen di sektor hilir. Aliran produk yang terjadi mengalir dari sektor hulu menuju hilir berupa ternak kelinci kemudian karkas kelinci dan produk akhirnya adalah sate kelinci yang diterima konsumen. Aliran finansial yang terjadi mengalir dari hilir ke hulu yang terdiri dari proses transaksi, pinjaman modal dan layanan transaksi. Konsumen mendapatkan kemudahan transaksi yang didapatkan dari jasa GrabFood berupa jenis pembayaran tunai maupun e-money. Transaksi yang terjadi antara “Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono” – supplier karkas kelinci – peternak berupa sistem pembayaran tunai maupun transfer. Pinjaman modal ini dilakukan oleh supplier karkas kelinci kepada peternak yang sudah dianggap loyal dan selalu melakukan transaksi jual-beli ternak kelinci. Pinjaman modal yang dilakukan adalah dengan pemberian modal untuk indukan baru, bibit baru, maupun perluasan kandang. Aliran informasi yang terjadi mengalir secara dua arah baik dari hulu ke hilir maupun hilir ke hulu. Aliran informasi yang terjadi dalam rantai ini berkaitan dengan ketersediaan barang. Aliran mengalir secara vertikal artinya terdapat koordinasi pada mata rantai yang berbeda yaitu antara peternak, supplier,“Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono”, jasa GrabFood, dan konsumen sedangkan aliran secara horizontal artinya terdapat koordinasi pada sesama anggota mata rantai. Hasil analisis nilai tambah produk sate kelinci di “Warung Sate Kelinciadalah Rp 1.712.790,62 atau setara dengan Rp 3.764,37/ porsi (12,54%). Nilai tambahvi secara sosial yang dihasilkan “Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono” berupa penggunaan teknologi dalam transaksi, meningkatkan peluang kerja, dan menambah keterampilan pekerja dalam proses pengolahan. Penggunaan teknologi seperti metode pembayaran transfer rekening antara supplier karkas kelinci dengan “Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono” mempermudah dan mempersingkat waktu transaksi jual-beli karkas kelinci. Adanya “Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono” juga meningkatkan peluang kerja untuk warga setempat beserta dengan keterampilan pekerja dalam proses pengolahan sate kelinci. Kesimpulan dari penelitian ini adalah nilai tambah produk sate kelinci di “Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono” secara ekonomi adalah Rp 1.712.790,62 atau Rp 3.764,37/ porsi dan persentase sebesar 12,34%. Nilai tambah secara sosial di “Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono” adalah meningkatkan peluang kerja untuk warga setempat beserta dengan keterampilan pekerja dalam proses pengolahan sate kelinci.Rantai nilai produk sate kelinci di “Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono” terdiri dari beberapa lembaga yaitu peternak kelinci di sektor hulu; supplier karkas kelinci dan usaha “Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono” di sektor processing; serta GrabFood dan konsumen di sektor hilir. Aliran barang yang terjadi berupa karkas kelinci dan produk akhirnya yaitu sate kelinci. Aliran finansial yang terjadi memiliki kemudahan pembayaran melalui transfer. Kerjasama antara “Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono” dengan supplier karkas kelinci memberikan “Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono” keuntungan berupa harga karkas yang stabil disisi lain timbul ketergantungan terhadap supplier tersebut. Aliran informasi yang terjadi berupa akses informasi ketersediaanvii karkas kelinci yang dapat dilakukan melalui telepon seluler tanpa harus bertemu langsung.Pemilik “Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono”dapat mengolah daging kelinci menjadi olahan lain untuk meningkatkan nilai tambah dan disarankan mengurangi ketergantungan terhadap satu supplierdengan cara bekerjasama dengan peternak kelinci lain dalam pemenuhan bahan baku karkas kelinci

English Abstract

This study aimstodeterminetheaddedvalueofrabbitsatayandhowtherabbitsa tayvaluechainthatoccursat“Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono”. The study wasconductedfor 31 daysandused a case study method. The sampling methodusedwaspurposive sampling technique. The data takenisprimary data thatisquantitative data andqualitative data. Analysisofthe data usedisdescriptiveanalysisandeconomicanalysis. The resultsshowedthattherabbitsatayproductvaluechainat“Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono”consistedofseveralactorsnamelybreeders, rabbitcarcasssupplier, “Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono”, GrabFood, andconsumers. The productflowstartsfromlivecattle, rabbitcarcassesandthe final productisrabbitsatay. Financial flowsthatoccurconsistof sale-ii purchasetransactions, capitalloansandtransactionservices. Collaborationbetween“Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono”andsupplierofrabbitcarcassgives“Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono”anadvantagethatisstablecarcassprices, butontheotherhandarisesdependenceonthesesupplier. The verticalflowofinformationoccursthroughcoordinationbetweenb reeders, supplier, “Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono”, GrabFoodservices, andconsumerswhile horizontal flowmeansthatthereiscoordinationamongfellowmembersofothe rbreedersgroups. The addedvalueofrabbitsatayproductsproducedat“Warung Sate Kelinci Pak Sudjiono”is IDR 1.712.790,62 or IDR 3.764,37/ portion(12.54%). The socialaddedvalueobtainedistheuseoftechnology in transactions, increasingemploymentopportunities, andincreasingtheskillsofworkers in therabbitsatayprocessing. Ownerscanincreasetheaddedvaluebyprocessingmeatintomeatba lls, nuggets, orshreddedmeatand are advisedtoreducedependenceononesupplierbyworkingwithother rabbitbreeders.

Other Language Abstract

-

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FAPET/2019/4/051909770
Uncontrolled Keywords: rabbit satay, added value, rabbit carcass
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 641 Food and drink > 641.6 Cooking specific materials > 641.669 322 Cooking (Rabbit meat)
Divisions: Fakultas Peternakan > Peternakan
Depositing User: Nur Cholis
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/176169
Text
Nur Annisa Supriyogi (2).pdf

Download | Preview

Actions (login required)

View Item View Item