BKG

Eline, Merina (2019) Saat Tanam Dan Populasi Tanaman Bawang Daun (Allium Porrum L.) Pada Pola Tanam Tumpang Sari Dengan Tanaman Wortel (Daucus Carota L.). Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Wortel (Daucus carota L.) adalah tanaman sayuran yang di ambil umbinya. Bawang Daun merupakan tanaman yang sangat banyak diminati masyarakat terutama untuk campuran masakan. Salah satu untuk meningkatkan hasil produksi wortel dan bawang daun yaitu menggunakan pola tanam atau jarak tanam yang tepat. Pola tanam atau jarak tanam yang mempengaruhi pertumbuhan yaitu menggunakan tumpangsari salah satu kendala seperti jarak tanam dan juga kompetisi unsur hara tanaman utama dengan tanaman lainnya. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu menanam dengan cara tumpangsari tanaman wortel dan bawang daun. Tumpangsari merupakan suatu usaha menanam beberapa jenis tanaman pada lahan dan waktu yang sama. Keuntungan tumpangsari beberapa keuntungan pada pola tumpang sari antara lain: peningkatan efisiensi (tenaga kerja, pemanfaatan lahan maupun penyerapan sinar matahari), populasi tanaman dapat diatur sesuai yang dikehendaki, dalam satu areal diperoleh produksi lebih dari satu komoditas, tetap mempunyai peluang mendapatkan hasil manakala satu jenis tanaman yang diusahakan gagal, dan kombinasi beberapa jenis tanaman dapat menciptakan stabilitas biologis sehingga dapat menekan serangan hama dan penyakit serta mempertahankan kelestarian sumber daya lahan dalam hal ini kesuburan tanah. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2018 hingga Agustus 2018 di Agrotechnopark cangar kab.Batu Malang. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah meteran, cangkul, selang, oven, timbangan analitik, tugal, papan label, LAM, alat tulis, kamera digital, pupuk kandang kotoran ayam, air. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan kontrol menggunakan rancangan orthogonal kontras yang terdiri dari 2 faktor dan 3 ulangan K: control (monokultur), faktor pertama saat tanam tumpang sari W1 : 15 hari sebelum tanam, W2 : bersamaan tanam, W3 : 15 hari setelah tanam. Kemudian Faktor kedua ada 3 jarak tanam P : P1 : 20×20 cm, P2 : 20×40 cm, P3 : 20×60 cm. dari kedua faktor diperoleh 10 kombinasi perlakuan setiap kombinasi diulang sebanyak 3 kali dan diperoleh 30 plot percobaan. Pengamatan pertumbuhan dan hasil tanaman wortel dilakukan pada saat tanaman berumur 30, 60, 90 dan 120 hst. Pengamatan bawang prei dilakukan saat tanaman panen. Variabel pengamatan meliputi panjang tanaman, jumlah daun, luas daun. Parameter hasil panen meliputi bobot segar petak panen, bobot segar per tanaman (g), bobot kering tanaman (g), bobot segar umbi tanaman wortel, panjang umbi tanaman wortel (cm), diameter tanaman wortel (cm), indeks panen, nisbah keselarasan lahan (NKL) dan analisis data, data pengamatan yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (uji F) pada taraf 5 %. Hasil uji Ortogonal kontras menunjukkan perlakuan tumpangsari menghasilkan nilai pertumbuhan dan hasil tanaman wortel yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan monokultur. Bobot segar tanaman wortel pada perlakuan tumpangsari rata-rata meningkat hingga 164,92 g tan-1 dibanding perlakuan monokultur. Tumpangsari tanaman bawang daun dengan jarak tanam menunjukkan hasil tidakberbeda nyata terhadap parameter bobot umbi tanaman wortel pada umur 120 hst. Produktivitas lahan tumpangsari lebih tinggi dari pada monokultur karena pada semua perlakuan menunjukan nilai NKL > 1. Nilai NKL tertinggi didapat pada perlakuan bersamaan tanam dan jarak tanam 70 x 60 cm dengan nilai 1,96

English Abstract

Carrot (Daucus carota L.) is a vegetable crop that is taken from the tuber. Green onion is a plant that is very much in demand, especially for food mix. One to improve the production of carrot and onion is using the right cropping pattern or planting spacing. Cropping pattern or spacing that affect growth is using Tumpangsari One of the obstacles such as plant spacing and also competition of the main nutrient plants with other plants. Efforts that can be done to overcome these problems is to plant by tumpangsari carrot and leek. Intercropping is an attempt to plant several types of crops on the same land and time. Benefits of intercropping of several advantages in intercropping patterns include: increased efficiency (labor, land use and sunlight absorption), plant populations can be adjusted as desired, in one area obtained by production of more than one commodity, still have a chance of getting results when one the type of crops cultivated fails, and the combination of several types of plants can create biological stability so as to suppress pest and disease attacks and maintain the sustainability of land resources in this case soil fertility. The study was conducted in February 2018 until May 2018 in Agrotechnopark cangar kab.Batu, Malang. The tools and materials used in this research are meter, hoe, hose, oven, analytical scales, tugal, label board, LAM, stationery, digital camera, chicken manure, water dung. This study used a randomized block design with factorial and control pattern using contrast orthogonal design consisting of 2 factors and 3 replications K: control (monoculture), the first factor when planting intercrops W1: 15 days before planting W2: simultaneously planting W3: 15 days after planting. Then the second factor there are 3 spacing P: P1: 20 × 20 cm, P2: 20 × 40 cm, P3: 20 × 60 cm. of the two factors obtained 9 combinations of treatment each combination was repeated 3 times and 27 plots were obtained. Observations of growth and yield of carrot plants were performed when the plants were 30, 60, 90 and 120 hst. The observation of leek was done when the plants were 7, 14, 21, 28, 35, 42, 49 and 56. Observation variables included plant length, leaf number, leaf area. The harvest parameters include fresh weight of harvest plot, fresh weight per plant (g), dry weight of plant (g), fresh weight of carrot crop, carrot plant length (cm), carrot plant diameter (cm), harvest index, land (NKL) and data analysis, observed data obtained were analyzed using variance analysis (F test) at 5% level. The results of the contrast Orthogonal test showed that intercropping treatment produced higher growth and yield values of carrot plants than monoculture treatments. The fresh weight of carrot plants on intercropping treatment increased on average to 164.92 g tan-1 compared to monoculture treatment. Intercropping of leaf onion plants with plant spacing showed no significant difference in the parameters of tuber weight of carrot plants at the age of 120 hst. The productivity of intercropping is higher than monoculture because in all treatments it shows the value of NKL> 1. The highest value of NKL is obtained at the same treatment of planting and spacing of 70 x 60 cm with a value of 1.96

Other Language Abstract

-

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2019/692/051907466
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 635 Garden crops (Horticulture) > 635.2 Edible tubers and bulbs > 635.25 Onions
Divisions: Fakultas Pertanian > Budidaya Pertanian
Depositing User: Nur Cholis
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/173712
Text
MERINA ELINE (2).pdf

Download | Preview

Actions (login required)

View Item View Item