BKG

Fikri M, Gamal Al (2019) Kualitas Air Dan Kelulushidupan Ikan Patin (Pangasius Sp.) Dengan Padat Tebar Berbeda Dan Penambahan Bakteri Heterotrof Pada Media Budidaya. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Ikan patin termasuk komoditas ikan yang banyak diminati dan produksinya mengalami peningkatan secara signifikan selama beberapa tahun terakhir. Produksi tinggi merupakan tujuan dari budidaya ikan patin secara intensif untuk memenuhi kebutuhan pasar. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu teknologi dalam budidaya ikan patin yang dapat diterapkan pada daerah lahan sempit dan daerah minim air dengan pola manajemen yang efektif dan efisien, seperti sistem tanpa ganti air. Sistem ini memiliki kekurangan yaitu akumulasi sisa pakan dan feses yang menyebabkan kualitas air menjadi buruk. Cara yang paling efektif dalam mengatasi masalah kualitas air dalam budidaya ikan patin khususnya budidaya dengan sistem tanpa ganti air adalah menggunakan bakteri heterotrof. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan padat tebar dan penambahan bakteri heterotrof pada media budidaya terhadap kualitas air kolam budidaya dan kelulushidupan ikan Patin (Pangasius sp.). Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Budidaya Ikan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya dan UPT Perikanan Air Tawar Sumber Pasir, Malang pada Maret - Mei 2019. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan faktor pertama yaitu perlakuan pemberian bakteri heterotroph (1.5 ml/L) melalui probiotik komersil, yaitu tanpa probiotik (P1), Profisher (P2), dan EM-4 (P3), kemudian faktor kedua yaitu perbedaan kepadatan 1 ekor/L (T1), 2 ekor/L (T2), dan 3 ekor/L (T3). Parameter utama dalam penelitian adalah mengetahui pengaruh perlakuan terhadap kualitas air dan kelulushidupan ikan patin, sedangkan parameter penunjang dalam penelitian ini adalah suhu, DO, dan pH. Hasil pengukuran kualitas amonia selama penelitian pada pengukuran Hari ke-10 (H10), kadar amonia berkisar diantara 0.088-0.362 mg/L dengan nilai terendah terdapat pada perlakuan P1T1 dan nilai tertinggi pada perlakuan P2T3. Pada pengukuran Hari ke-20 (H20) terjadi peningkatan kadar amonia pada beberapa perlakuan terutama yang tidak diberikan probiotik (P1) pada semua perlakuan padat tebar dan pada perlakuan padat tebar tertinggi (T3) pada semua perlakuan probiotik, kadar amonia H20 berkisar diantara 0.127-3.754 mg/L dengan nilai terendah terdapat pada perlakuan P2T1 dan nilai tertinggi pada perlakuan P2T3. Kemudian, pada pengukuran Hari ke-30 (H30), perlakuan P1 tetap terjadi peningkatan sedangkan perlakuan P2 dan P3 mengalami penurunan, kadar amonia berkisar diantara 0.172-4.096 mg/L dengan nilai terendah pada perlakuan P2T1 dan nilai tertinggi pada perlakuan P1T3. Hasil pengukuran kualitas nitrit selama penelitian pada pengukuran Hari ke-10 (H10), kadar nitrit berkisar diantara 0.044-1.454 mg/L. Kadar nitrit H20 berkisar diantara 0.997-1.959 mg/L dengan nilai terendah terdapat pada perlakuan P2T1 dan nilai tertinggi pada perlakuan P1T3. Kemudian, pada pengukuran Hari ke-30 (H30), perlakuan P1 tetap terjadi peningkatan sedangkan perlakuan P2 dan P3 mengalami penurunan, kadar nitrit berkisar diantara 0.101-2.060 mg/L dengan nilai terendah pada perlakuan P2T3 dan nilai tertinggi pada perlakuan P1T3. Hasil pengukuran kualitas nitrat selama penelitian Pada pengukuran Hari ke-10 (H10), kadar nitrat berkisar diantara 0.050-0.143 mg/L dengan nilai terendah terdapat pada perlakuan P1T2 dan nilai tertinggi pada perlakuan P1T3. Padapengukuran Hari ke-20 (H20) terjadi peningkatan kadar nitrat pada semua perlakuan, terutama yang diberikan probiotik (P2T3 dan P3T3) yang disebabkan perombakan amonia oleh bakteri probiotik, kadar nitrat H20 berkisar diantara 0.056-1.158 mg/L dengan nilai terendah terdapat pada perlakuan P1T1 dan nilai tertinggi pada perlakuan P2T3. Kemudian, pada pengukuran Hari ke-30 (H30), semua perlakuan terjadi peningkatan, kadar nitrat berkisar diantara 0.156-3.698 mg/L dengan nilai terendah pada perlakuan P1T1 dan nilai tertinggi pada perlakuan P2T2. Hasil dari pengamatan parameter kualitas air yang terdiri dari suhu, pH, dan oksigen terlarut (DO) menunjukkan hasil yang normal sehingga perbedaan hasil kualitas air (amonia, nitrit, dan nitrat) dan kelulushidupan ikan patin selama penelitian berlangsung disebabkan oleh perlakuan padat tebar yang berbeda dan penambahan bakteri heterotrof. Perlakuan terbaik yang didapatkan yaitu penerapan pembesaran ikan patin menggunakan kepadatan 2 ekor/L dapat dilakukan penambahan probiotik Profisher (1.5 ml/L) untuk memberikan hasil yang optimal. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah perbedaan padat tebar yang berbeda dan penambahan bakteri heterotrof pada media budidaya berpengaruh terhadap kualitas air media dan Survival Rate (SR) ikan Patin (Pangasius sp.). Penggunaan probiotik Profisher mampu menurunkan kadar amonia, nitrit dan nitrat lebih baik dari pada penggunaan EM-4. Selain itu, pada kepadatan yang sama, penggunaan probiotik Profisher mampu menghasilkan tingkat kelulushidupan ikan patin lebih tinggi yaitu dengan kepadatan ikan Patin sebesar 2 ekor/L meng

English Abstract

-

Other Language Abstract

-

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FPIK/2019/653/051904384
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 639 Hunting, fishing & conservation > 639.3 Culture of cold-blooded vertebrates > 639.31 Fish culture in fresh water
Divisions: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan > Manajemen Sumberdaya Perairan
Depositing User: Nur Cholis
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/170910
Text
Gamal Al Fikri M.pdf

Download | Preview

Actions (login required)

View Item View Item