BKG

Putri, Yessy Noviyanti (2018) Pemetaan Pola Aliran dan Indeks Kualitas Air Tanah di Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Semburan Lumpur Sidoarjo awal terjadi pada tanggal 29 Mei 2006, yang sudah terjadi selama 12 tahun. Lumpur Sidoarjo sendiri sangat mempengaruhi kondisi lingkungan yang mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan mulai kerusakan lahan, perubahan struktur geologi bawah tanah, pencemaran udara akibat gas yang keluar bersama lumpur dan perubahan kualitas air dari sumber - sumber air tanah yang berasal dari sumur gali yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari oleh penduduk. Oleh karena itu penelitian air tanah yang dilakukan di Kecamatan Porong ini dilakukan untuk mengetahui pola aliran air tanah, dan kondisi kualias air tanah dangkal di beberapa desa pada wilayah terdampak dengan mengambil contoh sampel sumur – sumur penduduk disekitar semburan lumpur lapindo, sehingga dapat dipetakan pola aliran dan kualitas air tanah yang berada di Kecamatan Porong. Penelitian ini dilakukan berdasarkan survey 3-5 sumur penduduk di setiap desa untuk mendapatkan data koordinat lokasi, elevasi muka tanah, ketinggian sumur, kedalaman air pada sumur (SWL), dan elevasi muka air tanah yang sudah didapat dari penjumlahan antara elevasi muka tanah dan tinggi sumur dan dikurangi dengan kedalaman air pada sumur. Elevasi muka air tanah kemudian digunakan untuk menggambar peta kontur muka airtanah, dari peta kontur muka airtanah tersebut dapat digambarkan peta pola aliran air tanahnya dengan menggunakan paket program komputer Surfer 13. Pengambilan contoh air sumur dilakukan berdasarkan sebaran arah pola aliran air tanah. Contoh air tanah selanjunya dilakukan pengujian di Laboratorium, hasil dari uji laboratorium digunakan untuk menentukan kualitas air tanah dengan menggunakan metode Water Quality Index (WQI). Hasil indeks kualitas air tanah juga dilakukan pemetaan dengan menggunakan Surfer 13. Hasil dari pemetaan pola aliran dan hasil dari indeks kualitas air tanah kemudian dianalisa untuk mengetahui hubungan antara keduanya. Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa pola aliran air tanah di Kecamatan Porong mengalir dari Arah pencemaran dari jalur pola aliran air tanah dangkal di Kecamatan Porong mengalir dari Selatan ke Utara, dari Barat ke Utara, dari Barat ke Timur Laut, dari Barat Laut ke Selatan, dari Barat Daya ke Selatan dan dari Tenggara ke Barat Laut. Secara umum aliran air tanah di Kecamatan Porong menjauh dari pusat semburan Lumpur Sidoarjo. Berdasarkan dari hasil perhitungan dengan Water Quality Index (WQI) maka 3 Desa yang memiliki kualitas yang ‘Sangat Bagus’, wilayah tersebut meliputi Desa Lajuk, Desa Wunut dan Desa Kebakalan, dan 2 Desa yang memiliki kualitas yang ‘Bagus’ yang terdapat pada Desa Glagaharum dan Desa Plumbon. Desa Pesawahan berada pada area dengan kualitas ‘Cukup’ dalam artian cukup adalah kualitas air yang sudah termasuk buruk tetapi masih dapat dimanfaatkan untuk air minum hanya tidak disarankan. Desa Kebonagung berada pada wilayah yang berpotensi dengan kualitas air yang ‘Buruk’ untuk air minum. Sedangkan 8 Desa yang lain sudah memiliki potensi kualitas air ‘Tidak Layak Minum’ diantaranya yaitu Desa Candi Pari, Desa Kesambi, Desa Kedungboto, Desa Pamotan, Desa Gedang, Desa Kedungsolo, Desa Juwet Kenongo, dan Desa Porong. Berdasarkan hubungan antara jalur pola aliran dan hasil nilai kualitas air tanah di Kecamatan Porong bahaya pencemaran terdapat pada jalur 1 (JK1 – PT1), jalur 3 (KK3 – K7 – C4), jalur 4 (L3 – C4), jalur 5 (P2 – C4), jalur 7 (KB6 - C4), dan jalur 8 (G2 – PT1).

English Abstract

Mud outpouring in Sidoarjo was initiated in May 29th, 2006 and has currently occurs for 12 years. Sidoarjo mud was highly affects environmental condition and damaging infrastructure in this area, mud outpouring has caused environmental damage such as land damage, structure changes on the underground structure, air pollution due to the outpoured gas along with the mud and water quality changes of groundwater sources from artesian wells of the surrounding community. Therefore this groundwater study in Porong subdistrict was done to examine the flow pattern and the quality condition of shallow groundwater in several villages of the surrounding area by taking samples from wells near Lapindo mud outpouring, thus we can mapped the flow pattern and quality index of groundwater in Porong subdistrict. This study was done using survey toward 3-5 wells of the people in each village to obtain location coordinate data, ground surface elevation, well’s elevation, water depth in wells (SWL) and groundwater surface elevation obtained from adding ground surface elevation with well’s height and deducted with water depth in the well. Groundwater surface elevation would then used to depict the contour map of groundwater surface, from this contour map the groundwater flow pattern can be described by using computer program package Surfer 13. Well’s water sampling was done based on the spread of groundwater flow pattern. Samples would then take to laboratory to be tested; result from this test would be used to determine the groundwater quality by using Water Quality Index (WQI) method. Result of groundwater quality index was also mapped by using Surfer 13. Results from flow pattern mapping and groundwater quality index would then analyze to obtain the relation or correlation value. From the result, it can be said that groundwater flow pattern in Porong subdistrict was spreading from the source of pollution with shallow groundwater flow pattern path in Porong subdistrict flows from South to the North, from West to the North, from West to Northeast, from Northwest to the South, from Southwest to the South and from Southeast to the Northwest. In general, groundwater flow in Porong subdistrict was heading outward of Sidoarjo mud location. Based on the calculation result using Water Quality Index (WQI) there were 3 villages with ‘very good’ quality, those were Lajuk, Wunut and Kebakalan villages. There were also 2 villages with ‘good’ water quality, such as Glagaharum and Plumbon villages. Pesawahan village was located in the area with ‘fair’ groundwater quality. This term fair means that the groundwater was quite poor but still can be used for various purposes other than drinking water. Kebonagung village lies in the area with ‘poor’ groundwater quality. There were 8 other villages with ‘not for drinking water’ quality, those are Candi Pari, Kesambi, Kedungboto, Pamotan, Gedang, Kedungsolo, Juwet Kenongo and Porong villages. Based on the relationship between flow pattern path and groundwater’s quality index in Porong subdistrict, the danger of pollution lies in path 1 (JK1-PT1), path 3 (KK3-K7-C4), path 4 (L3-C4), path 5 (P2-C4), path 7 (KB6-C4) and path 8 (G2-PT1).

Other Language Abstract

-

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FT/2018/1141/051812134
Uncontrolled Keywords: air tanah, lumpur sidoarjo, penelitian, pola aliran, kualitas air groundwater, Sidoarjo mud, study, flow pattern, water qualit
Subjects: 500 Natural sciences and mathematics > 551 Geology, hydrology, meteorology > 551.4 Geomorphology and hydrosphere > 551.49 Groundwater (Subsurface water)
Divisions: Fakultas Teknik > Teknik Pengairan
Depositing User: Budi Wahyono
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/167415
Text
Yessy Noviyanti Putri (2).pdf
Restricted to Repository staff only

Download

Actions (login required)

View Item View Item