BKG

Cahyo, Oskar Dwi (2018) Dalang Jawa Di Balik Wayang Potehi Studi Kasus Di Klenteng Hong Sang Kiong Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Permasalahan yang di angkat dalam penelitian ini adalah suatu fenomena dimana kesenian milik asli orang Tionghoa yaitu Wayang Potehi, dimana yang menjadi dalang dari Wayang Potehi tersebut adalah orang Jawa, dari sebuah perkenalan dan pertemanan antara orang Tionghoa dengan orang Jawa Wayang yang terbuat dari bahan utama kayu dan kain ini dilestarikan, tidak memandang asal-usul serta berbedaan suku wayang ini hidup di Klenteng Hong San Kiong. Klenteng yang berada di Desa Gudo, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang ini berdiri, pembauran antara orang Tionghoa dan Jawa ini bahu membahu dalam mengenalkan Wayang Potehi masyarakat umum mengenai kesenian Wayang Potehi, dengan menerima permintaan manggung atau mentas di berbagai Klenteng di Indonesia. Wayang Potehi sendiri telah ada sejak jaman dinasti dari negeri Cina asalanya, dan wayang ini ada di Indonesia sudah sejak lama. Banyak keturunan Tionghoa baik itu pengurus Klenteng tidak ada meneruskan kesenian leluhurnya ini di Klenteng Hong San Kiong dengan berbagai alasan. Sehingga mengunggah seorang Keturunan Tionghoa lainnya yaitu Pak Tony sebagai pengurus Klenteng dan juga anak seorang dalang Wayang Potehi dahulunya, untuk menghidupkan kembali kesenian Wayang Potehi di Klenteng Hong San Kiong dengan mengajak Pak Widodo yang merupakan dalang Wayang Potehi asli orang Jawa yang berasal dari Blitar. Mereka bahu membahu untuk menhidupkan kesenian Wayang Potehi dari Jombang hingga Go Internasional.

English Abstract

The problem raised in this research is a phenomenon about the original Chinese arts called Puppet Potehi and the puppeteer of Puppet Potehi is a Javanese. from an introduction, acculturation and harmonization between Chinese and Javanese, the Puppets that made from the main material of wood and fabric is preserved in Hong San Kiong temple. This temple located in Gudo Village, Gudo Sub-district, Jombang Regency. the assimilation between the Chinese and Javanese is the most important thing in introducing Potehi Puppet Puppet to the society, by doing the performance at many temples in Indonesia. Potehi puppet itself has existed since the dynasty of China, and this puppet has exist in Indonesia from a long time ago. Many Chinese descendants of either the administrators of Hong San Kiong temple did not play this ancestral art in Hong San Kiong Temple for various reasons. Because of that problem, Mr. Tony as the Chinesse descendant an the son of the Potehi Puppeteer revives the Potehi Puppet at Hong San Kiong Temple by inviting Mr. Widodo who is the puppeteer of the original Potehi Puppets from Javanese from Blitar. They work together to revive Potehi Puppet art from Jombang and introduce Go International.

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FBS/2018/221/051806513
Uncontrolled Keywords: Wayang Potehi, Dalang Jawa, Kesenian Tionghoa / Potehi Puppet, Javanese puppeteer, Chinese Arts
Subjects: 700 The Arts > 791 Public performances > 791.5 Puppetry and toy theaters
Divisions: Fakultas Ilmu Budaya > Antropologi Budaya
Depositing User: Endang Susworini
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/166258
Text
Oskar Dwi Cahyo.pdf
Restricted to Repository staff only

Download

Actions (login required)

View Item View Item