BKG

Immanuela, Jessica (2018) Pengaruh Jenis Pelarut Dan Lama Waktu Maserasi Terhadap Aktivitas Antibakteri Mikroalga Porphyridium Cruentum. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Seiring dengan timbulnya berbagai penyakit infeksi, banyak orang mengonsumsi antibiotik untuk mencegah penyakit tersebut. Hal ini menimbulkan permasalahan baru di dunia kesehatan yaitu resistensi bakteri patogen Staphylococcus aureus dan Escherichia coli terhadap antibiotik. Oleh karena itu, diperlukan adanya eksplorasi zat antibakteri dari bahan alami, salah satunya adalah mikrolalga Porphyridium cruentum. Porphyridium cruentum merupakan mikroalga merah uniseluler yang masuk ke dalam kelas Rhodophyceae. Porphyridium cruentum berpotensi memiliki aktivitas antibakteri. Senyawa antibakteri dominan pada Porphyridium cruentum adalah metil palmitat (metil heksadekanoat), senyawa fenol, fikobiliprotein dan eksopolisakarida. Salah satu metode ekstraksi untuk mendapatkan senyawa antibakteri dari Porphyridium cruentum adalah metode maserasi. Metode maserasi dapat meminimalisir kemungkinan kerusakan senyawa-senyawa termolabil dan memungkinkan senyawa bioaktif terekstrak lebih banyak dibandingkan metode lain, namun prosesnya memakan banyak waktu, pelarut yang digunakan cukup banyak dan terdapat kemungkinan beberapa senyawa tidak terekstraksi pada suhu ruang. Pemilihan jenis pelarut dan lama waktu yang tepat akan menghasilkan proses yang efektif dengan hasil yang baik. Setelah proses maserasi, dilakukan pengujian aktivitas antibakteri esktrak Poprhyridium cruentum terhadap bakteri Gram positif (Staphylococcus aureus) dan Gram negatif (Escherichia coli) menggunakan metode disc diffusion, uji KHM (Konsentrasi Hambat Minimum), dan uji KBM (Konsentrasi Bunuh Minimum). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor, yaitu jenis pelarut dan lama waktu maserasi. Jenis pelarut yang digunakan adalah metanol, etil asetat, n-heksana, etanol, dan aseton sedangkan lama waktu maserasi yang digunakan adalah 24 jam, 48 jam, dan 72 jam. Analisa data hasil pengamatan dilakukan dengan menggunakan analisa ragam (ANOVA) dengan selang kepercayaan 5%. Analisa dilanjutkan menggunakan uji DMRT (Duncan’s Multiple Range Test). Penetapan perlakuan terbaik dilakukan menggunakan metode multiple attribute. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat interaksi nyata antara jenis pelarut dan waktu maserasi baik terhadap rendemen maupun aktivitas antibakteri ekstrak Poprhyridium cruentum. Rendemen tertinggi ekstrak didapatkan oleh pelarut metanol 72 jam dengan nilai 7,63%. Aktivitas antibakteri tertinggi baik terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli didapatkan dari ekstrak Poprhyridium cruentum dengan pelarut etil asetat dan waktu maserasi 48 jam. Diameter zona bening esktrak etil asetat 48 jam terhadap Staphyloccocus aureus adalah 6,04 mm sedangkan terhadap Escherichia coli sebesar 4,86 mm. Hasil pengukuran diameter zona bening menunjukan bahwa aktivitas antibakteri dari Porphyridium cruentum masuk ke dalam kategori kurang efektif. Hasil positif pengujian KHM didapatkan pada ekstrak metanol 48 jam dan etil asetat 48 jam terhadap Staphylococcus aureus. Hal tersebut menandakan bahwa kedua esktrak tersebut memiliki aktivitas bakteriostatik (menghambat pertumbuhan bakteri). Hasil negatif uji KHM didapatkan pada semua ekstrak terhadap Escherichia coli. Nilai KHM pada ekstrak metanol sebesar 5.000 ppm dan pada ekstrak etil asetat sebesar 10.000 ppm. Hasil pengujian KBM pada kedua ekstrak adalah negatif sehingga menandakan bahwa aktivitas antibakteri ekstrak Porphyridium cruentum tidak tergolong bakterisida (membunuh bakteri). Perlakuan terbaik didapatkan dari ekstrak metanol dengan waktu ekstraksi 48 jam.

English Abstract

Along with the emergence of various infectious diseases, many people take antibiotics to prevent it. This condition raises a new problem of pathogenic resistance such as Staphylococcus aureus and Escherichia coli against synthetic antibiotics. Therefore, the exploration of antibacterial substances from natural ingredients is needed, one of which is microalgae Porphyridium cruentum. Porphyridium cruentum is a unicellular red microalgae categorized in Rhodophyceae class. Porphyridium cruentum has the potential to have antibacterial activity. The dominant antibacterial compounds in Porphyridium cruentum are methyl palmitate (methyl hexadecanoate), phenol compounds, phycobiliprotein and exopolysaccharides. One of the extraction method for obtaining antibacterial compounds from Porphyridium cruentum is the maceration method. The maceration method can minimize the possibility of damage from thermolabic compounds and allow the bioactive compounds to be extracted more than any other methods. However, the maceration process can take a lot of time, large amount of solvent is needed, and there is the possibility of some un-extracted compounds at room temperature. Choosing the right type of solvent and time will produce an effective process with good results. After the maceration process, the antibacterial activity of the extract of Poprhyridium cruentum on Gram positive (Staphylococcus aureus) and Gram negative (Escherichia coli) bacteria were tested using disc diffusion method, MIC (Minimum Inhibitory Concentration) and MBC (Minimum Bactericidal Concentration). This research was done by using Randomized Block Design Factorial with 2 factors, namely solvent types and maceration time. The type of solvent used are methanol, ethyl acetate, N-hexane, ethanol, and acetone while the durations of maceration time are 24 hours, 48 hours and 72 hours. The data was analyzed by using Analysis of Variance (ANOVA) with 5% confidence level. The analysis is continued using DMRT test (Duncan's Multiple Range Test). Determination of best treatment was done by using Multiple Attribute (Zeleny method). Based on the result of this research, there was a real interaction between solvent type and maceration time on both the yield and the antibacterial activity of Poprhyridium cruentum extract. The highest yield of the extract were obtained by 72 hours methanol solvent extract with value of 7,63%. The highest antibacterial activity of both Staphylococcus aureus and Escherichia coli were obtained from Poprhyridium cruentum extract with ethyl acetate solvent and 48 hours maceration time. The clear zone diameter of 48 hours ethyl acetate extract to Staphyloccocus aureus was 6,04 mm while to Escherichia coli was 4,86 mm. The measurement of clear zone diameter shows that antibacterial activity of Porphyridium cruentum falls into less effective category. Positive results of MIC testing were obtained in 48 hours methanol extract and 48 hours ethyl acetate extract on Staphylococcus aureus. This indicates that both extracts have bacteriostatic activity (inhibits bacterial growth). The negative results of the MIC test were obtained on all extracts tested on Escherichia coli. MIC value on Staphylococcus aureus in methanol extract was 5.000 ppm and in ethyl acetate extract was 10.000 ppm. The results of MBC testing on both extracts were negative, indicating that the antibacterial activity of Porphyridium cruentum extract was not classified as bactericidal (killing bacteria). The best treatment based on multiple attribute method is 48 hours methanol extract.

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FTP/2018/407/051809540
Uncontrolled Keywords: Aktivitas Antibakteri, Kertas Cakram, KHM, KBM, Maserasi, Porphyridium cruentum,/Antibacterial Activity, Disc Diffusion Test, Maceration, MIC, MBC, Porphyridium cruentum
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 615 Pharmacology and therapeutics > 615.3 Organics drugs > 615.32 Drugs derived from plants and mikroorganisms > 615.329 89 Drugs derived from microorganism, fungi, algae (Rhodophyta (Red algae))
Divisions: Fakultas Teknologi Pertanian > Teknologi Hasil Pertanian
Depositing User: Endang Susworini
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/165178
Text
Jessica Immanuela.pdf
Restricted to Repository staff only

Download

Actions (login required)

View Item View Item