BKG

Widiyanti, SriEndah (2015) Eksplorasi Dinamika Populasi Ketam Kenari (Birgus Latro L.) Di Pulau Sayafi Dan Pulau Liwo Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. Doctor thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Ketam Kenari (Birgus latro) memiliki nilai ekologi dan nilai ekonomi. Anomura darat terbesar ini hanya ditemukan di pulau-pulau yang dipengaruhi oleh arus Samudera Pasifik dan Hindia, termasuk Pulau Sayafi dan Pulau Liwo. Spesies ini dikategorikan spesies langka sejak 1981, (IUCN Red List) dan dilindungi di Indonesia sejak 1987. Namun permintaan ketam kenari sebagai kuliner khas Maluku Utara meningkat sehingga hewan ini banyak ditangkap dan populasinya di alam semakin menurun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan kondisi habitat, kondisi biologi, karakter morfometrik, dinamika populasi, karakter genetik dan mengidentifikasi stok ketam kenari (B. latro) saat ini di Pulau Sayafi dan Pulau Liwo Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. Pengambilan data dilaksanakan selama 8 bulan (Pebruari - September 2013) terdiri dari data vegetasi hutan pantai (jumlah dan jenis vegetasi stadia semaian, pancang dan pohon), kondisi mikrohabitat (substrat, suhu, kelembaban, pH, salinitas), kondisi biologi ketam kenari (panjang thoraks, berat, jenis kelamin dan tingkat kematangan gonad). Analisis data meliputi struktur dan komposisi vegetasi (indeks relatif penting, indeks dominansi, indeks keanekaragaman Shannon), perbedaan kondisi microhabitat (uji t independen), perbedaan kondisi biologi (rasio kelamin, panjang thoraks rata-rata, hubungan panjang thoraks dan berat, tingkat kematangan gonad, ukuran pertama kali matang gonad, fekunditas, ukuran pertama kali tertangkap pertama kali), parameter peubah dinamika populasi (?ℎ?∞, ?, ?0, ?, ?, ?, rekruitmen) dan identifikasi stok secara genetik (ekstraksi total DNA, PCR, sekuensing, pensejajaran DNA hasil sekuensing, jarak genetik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi habitat ketam kenari berbeda pada parameter suhu udara, suhu tanah dan pH tanah namun kondisi habitat saat ini di kedua pulau masih dapat ditoleransi oleh ketam kenari. Keanekaragaman vegetasi kedua pulau termasuk rendah pada semua stadia. Sebaran ketam kenari di Pulau Liwo berdasarkan pada vegetasi sebagai tempat persembunyian dan sumber makanan, sedangkan di Pulau Sayafi berdasarkan celah batu karang sebagai tempat persembunyian. Parameter biologi ketam kenari di kedua pulau tidak berbeda secara nyata. Pola pertumbuhan ketam kenari di Pulau Sayafi lebih isometrik (??????? = 3,052) daripada Pulau Liwo (????? = 2,901), rasio ketam kenari jantan lebih tinggi, aktivitas reproduksi terjadi sepanjang tahun dengan puncak aktivitas reproduksi Desember-Pebruari. Karakter morfometrik ketam kenari berbeda secara nyata pada ukuran panjang thoraks, kaki pertama (dactylus, propundus, carpus dan merus) dan kaki kedua. Dinamika populasi ketam kenari berbeda berdasarkan parameter pertumbuhan (?ℎ?? ?????? = 70 1 − ?−0,09 ?+0,048 ; ?ℎ?? ???? = 71 1 − ?−0,1 ?+0,043 ) dan mortalitasnya (??????? = 0,388 ?ℎ−1; ????? = 0,482 ?ℎ−1 ??????? = 0,704 ?ℎ−1; ????? = 0,523 ?ℎ−1; ??????? = 0,320 ?ℎ−1; ????? = 0,046 ?ℎ−1). Populasi ketam kenari di Pulau Sayafi lebih banyak dalam jumlah dan lebih padat. Pertumbuhan ketam kenari di kedua pulau termasuk lambat. Ketam kenari kedua pulau memiliki satu pola rekruitmen dan puncak rekruitmen pada bulan Mei dan Juli. Mortalitas ii ketam kenari di Pulau Liwo lebih disebabkan oleh faktor alami, sedangkan Pulau Sayafi karena penangkapan. Ketam kenari di Pulau Sayafi dan Pulau Liwo termasuk dalam satu stok berdasarkan hasil analisis pola pertumbuhan, urutan DNA dan jarak genetiknya sehingga pengelolaan ketam kenari dapat dilakukan bersama-sama. Alternatif pengelolaan ketam kenari dapat dilakukan melalui pengelolaan mikrohabitat, ukuran ketam yang boleh ditangkap dan musim larang tangkap. Pulau Sayafi dapat direkomendasikan sebagai zona inti, sedangkan Pulau Liwo sebagai zona perikanan berkelanjutan. Adanya indikasi penurunan jumlah ketam kenari di kedua pulau dan kurangnya pengawasan terhadap penangkapan atau eksploitasi ketam kenari menunjukkan perlunya kerjasama antar lembaga terkait dalam pengawasan maupun penyusunan regulasi guna meningkatkan stok ketam kenari di alam. Kebaharuan dalam penelitian ini adalah perbedaan kondisi habitat antara Pulau Sayafi dan Pulau Liwo masih dapat ditoleransi oleh ketam kenari (B. latro). Toleransi tersebut dapat dilihat dari perbedaan warna (fenotip) ketam kenari yang berasal dari kedua pulau. Ini menunjukkan bahwa ketam kenari memiliki gen toleran terhadap perbedaan suhu udara, suhu tanah dan pH tanah. Namun interaksi antara gen B. latro dan perbedaan kondisi habitat di kedua pulau hanya mempengaruhi fenotip dan tidak pada genotip B. latro. Perbedaan karakter morfometrik pada ukuran panjang thoraks, kaki pertama (dactylus, propundus, carpus, merus) dan kaki kedua. Perbedaan karakter morfometrik ketam kenari di kedua pulau dipengaruhi oleh perbedaan faktor lingkungan dan ketersediaan makanan yang mempengaruhi pertumbuhan karakter morfometrik tersebut. Tingginya mortalitas tangkapan ketam kenari (B. latro) di Pulau Sayafi menunjukkan masih kurangnya pengawasan pemerintah daerah terhadap penangkapan ketam kenari, sedangkan tingginya mortalitas alami di Pulau Liwo menunjukkan adanya kompetisi dalam mendapatkan tempat tinggal maupun makanan. Ketam kenari (B. latro) di Pulau Sayafi dan Pulau Liwo termasuk dalam satu stok berdasarkan hasil analisis pola pertumbuhan dan karakter genetiknya sehingga pengelolaan ketam kenari di kedua pulau dapat dilakukan secara bersama-sama.

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Doctor)
Identification Number: DIS/595.387/WID/e/2015/061611472
Subjects: 500 Natural sciences and mathematics > 595 Arthropoda > 595.3 Crustacea
Divisions: S2 / S3 > Doktor Teknik Industri Pertanian, Fakultas Pertanian
Depositing User: Nur Cholis
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/160511
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item