BKG

Maulida, DindaAzaliaRahma (2015) Pemodelan Keberhasilan Hydroseeding Ex Situ Dengan Spesies Tanaman Lokal Pioner Untuk Revegetasi Tanah Pasca Pertambangan Batubara Dari Kalimantan Selatan. Magister thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Sistem pertambangan terbuka (open pit mining) banyak dilakukan di Indonesia dan mengakibatkan kerusakan lingkungan, menurunkan kualitas tanah, biodiversitas dan ecological services, sehingga diperlukan reklamasi dan revegetasi pasca pertambangan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan akselerasi suksesi dengan menggunakan tumbuhan lokal pioner dan perbaikan teknik hydroseeding. Akan tetapi, komposisi mulsa optimum belum diperoleh sehingga mendekati mulsa hydroseeding alami yaitu feses kerbau. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi mulsa hydroseeding optimum dan model interaksi variabel berpengaruh pada perkecambahan, produktivitas dan perbaikan karakter tanah pasca pertambangan batubara melalui percobaan ex situ. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret - Desember 2015 di Rumah Kaca Jurusan Biologi, Universitas Brawijaya. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial. Faktor pertama dalam penelitian ini yaitu spesies tumbuhan pionir yang digunakan (lima spesies Kyllinga monocephala, Digitaria sanguinalis, Eleusine indica, Paspalum conjugatum dan Crotalaria pallida). Faktor kedua adalah komposisi mulsa sebanyak tujuh mulsa hydroseeding diaplikasikan pada lahan pasca pertambangan, yang terdiri atas serat, kompos, pupuk cair (MOL), perekat dan air. Biji ditanam secara monokultur dan polikultur. Setiap kombinasi perlakuan hydroseeding dilakukan tiga kali ulangan, sehingga didapatkan 147 pot. Pengamatan perkecambahan dilakukan setiap hari selama 21 hari dan pengamatan pertumbuhan dilakukan satu kali seminggu selama dua bulan meliputi kerapatan, kerimbunan dan tinggi tanaman. Peningkatan kualitas tanah pasca pertambangan diketahui dari pengukuran pH, konduktivitas dan bahan organik sebelum dan sesudah panen. Pada saat panen diukur panjang akar dan produktivitas. Sedangkan intensitas cahaya, suhu dan kelembaban udara diukur selama pengamatan pertumbuhan dilakukan yaitu setiap satu minggu sekali selama dua bulan. Data ditabulasi dengan menggunakan program Microsoft Excel. Pertumbuhan tanaman meliputi tinggi tanaman, kerapatan, kerimbunan, root/shoot ratio ukuran panjang dan produktivitas dianalisis uji beda menggunakan two-way ANOVA yang diuji lanjut dengan Tukey`s dengan α = 5% dalam SPSS 18.0 for Windows. Variasi perkecambahan, pertumbuhan dan produktivitas spesies pada media tanam dianalisis secara multivariat dengan analisis biplot dan cluster menggunakan open source software PAST. Pemodelan interaksi antar variabel dianalisis menggunakan program opensource softwaresmart PLS. Biji semua spesies yang digunakan mampu berkecambah dan tumbuh pada media mulsa dengan baik, kecuali spesies Kylinga monocephala pada mulsa 2, 4, 5 dan Digitaria sanguinalis pada mulsa 4. Karakter fisiko-kimia mulsa terbaik bagi pertumbuhan tanaman memiliki pH netral (6,8 - 7,0), bahan organik (47 - 59 %) serta energi yang cukup (2337,68 - 3792,68 Kkal.kg-1). Persentase perkecambahan spesies C. pallida paling tinggi pada mulsa 2 (39,4 %) dan paling rendah pada mulsa 7 (13,3 %). Spesies C. cajan pada mulsa 2 memiliki persentase perkecambahan paling tinggi (56,7 %) dan paling rendah pada mulsa 4 (16,7 %). iii Persentase perkecambahan biji Poaceae tergolong rendah ( 15 %), P. conjugatum pada mulsa 1 memiliki persentase tertinggi (13 %) dan terendah pada mulsa 5 (1,7 %). Biji E. indica memiliki persentase perkecambahan tertinggi pada mulsa 1 (3,8 %) dan terendah pada mulsa 2 dan 4 (0,1 %). Sementara itu, D. sangunalis pada mulsa 1 memiliki persentase tertinggi (7 %), terendah pada mulsa 2 (0,4 %) dan belum mampu berkecambah pada mulsa 4. Spesies K. monocephala memiliki persentase perkecambahan tertinggi pada mulsa 1 (1,8 %) dan terendah pada mulsa 3 (0,2 %), bahkan pada mulsa 2, 4 dan 5, biji K. monocephala belum mampu berkecambah. Waktu perkecambahan paling cepat terdapat pada dua spesies Leguminosae yaitu pada 3 hst dan paling lama 10 hst. Sementara, pada spesies D. sangunalis memiliki waktu perkecambahan paling cepat (tiga hst) dibandingkan P. conjugatum (sembilan hst) dan E. indica (10 hst). Waktu perkecambahan K. monocephala adalah yang paling lambat diantara semua spesies yang digunakan yaitu 15 hst. Spesies C. cajan dan C. pallida memiliki produktivitas paling tinggi dengan produktivitas bagian atas (shoot) lebih besar dari produktivitas akar (root). Sebaliknya, spesies yang tergolong dalam Poaceae dan Cyperaceae memiliki produktivitas akar lebih besar dari pada bagian atas. Hydroseeding mampu meningkatkan pH, konduktivitas dan bahan organik tanah pasca pertambangan batubara. Model interaksi antar variabel berpengaruh menunjukkan bahwa terdapat pengaruh langsung antara kompos, BO, MOL, spesies, dan perekat terhadap mulsa. Mulsa dan faktor lingkungan berpengaruh langsung terhadap perkecambahan. BO, spesies, perkecambahan, KTA (Kualitas tanah awal) dan faktor lingkungan berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan. KTA berpengaruh langsung terhadap ameliorasi tanah pasca pertambangan. Sedangkan kompos dan jumlah spesies tidak berpengaruh langsung terhadap perkecambahan. Validitas model yang diperoleh dari perhitungan nilai predictive relevance Q2 sebesar 99,96 % sehingga model layak digunakan sebagai acuan melakukan revegetasi in situ dan perbaikan kualitas tanah pasca pertambangan batu bara.

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Magister)
Identification Number: TES/FMIPA/2016/631.52/041601625
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 631 Specific techniques; apparatus, equipment materials > 631.5 Cultivation and harvesting
Divisions: S2 / S3 > Magister Biologi, Fakultas MIPA
Depositing User: Nur Cholis
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/160351
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item