BKG

Lenggana, Rinaldi (2015) Rasio P53/Survivin Sebagai Parameter Penilaian Respon Kemoterapi Fase Induksi Leukemia Mieloid Akut Pada Anak. Magister thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Leukemia mieloid akut merupakan salah satu keganasan yang sering dijumpai pada anak. Sebelum ditemukannya kemoterapi, rata-rata usia harapan hidup leukemia hanya 3 bulan. Meskipun telah mencapai kemajuan pada dua dekade terakhir dengan terapi terkini, 20-25 % anak dengan LMA masih mengalami relaps dan resisten terhadap obat kemoterapi. Apoptosis atau kematian sel terprogram, merupakan salah satu mekanisme pengaturan yang paling penting dari hemostasis selular, terkait erat dengan perkembangan kanker. Salah satu peran dari p53 adalah untuk memantau stres selular untuk menginduksi apoptosis yang diperlukan. Penekan tumor bertindak untuk mempertahankan homeostasis jaringan untuk mengontrol jumlah dan perilaku sel dalam jaringan tertentu dalam organisme. p53 merupakan penekan tumor yang paling banyak dipelajari, dan bertindak dalam menanggapi berbagai bentuk stres selular untuk memediasi berbagai proses antiproliferatif. Survivin (BIRC5) merupakan protein dalam kelompok inhibitor apoptosis yang bekerja melalui penghambatan caspase-3. Peran survivin ini dianggap sangat penting dalam onkogenesis dalam proliferasi dan regulasi pertumbuhan sel. Terapi sitostatika pada pasien anak dengan LMA dan beberapa terapi keganasan lain dapat menghambat pertumbuhan sel dan menginduksi terjadinya perlambatan dan berhentinya siklus sel. Hal tersebut behubungan dengan ekspresi p53 yang beperan dalam sistem apoptosis. Meningkatnya kadar P53 biasanya disertai dengan menurunnya kadar survivin, dan demikian sebaliknya. Respon terapi pasien LMA bervariasi, hal tersebut berhubungan dengan faktor prognostik pasien dan karakteristik dari keganasan LMA (usia, perjalanan klinis dan karyotipe). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan adanya perbedaan ekspresi rasio P53/survivin pada pasien LMA anak sebelum dan sesudah kemoterapi fase induksi. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium/SMF Ilmu Kesehatan Anak RSU Dr. Saiful Anwar Malang dan di Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Pengambilan sampel dilaksanakan mulai bulan Maret 2015 sampai dengan bulan Agustus 2015. Subjek penelitian ini adalah penderita LMA yang dirawat di Laboratorium/SMF Ilmu Kesehatan Anak RSU Dr. Saiful Anwar Malang. Kriteria diagnosis leukemia mieloid akut berdasarkan analisis morfologi darah perifer, aspirasi bone marrow. Proses analisis data (α=0,05) pada penelitian ini dilakukan dalam tahapan perhitungan berturut-turut: (1) uji normalitas data sampel untuk menentukan jenis analisis yang tepat digunakan selanjutnya, (2) uji komparasi, (3) uji korelasi.Penelitian ini telah disetujui Panitia Etik Penelitian Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya / RSU Dr. Saiful Anwar Malang. Sampel darah yang di uji dari setiap 8 subjek penelitian diambil dari PBMC dan di olah dengan menggunakan metode flowcytometry. Uji statistik telah melalui uji normalitas, kemudian dilanjutkan dengan uji komparasi secara t-test, nilai kebermaknaan pengaruh kemoterapi terhadap p53 didapatkan hasil p = 0,224 (p0,05) sehingga dapat diinterpretasikan bahwa ekspresi p53 setelah dilakukan kemoterapi fase induksi adalah meningkat tidak bermakna (signifikan). Demikian pada ekspresi survivin, didapatkan hasil p=0,02 sehingga dapat diinterpretasikan bahwa ekspresi survivin terhadap kemoterapi fase induksi adalah menurun bermakna (signifikan). Dan pada rasio p53/survivin sebelum dan sesudah kemoterapi fase induksi dengan nilai p = 0,034 (p 0,05). Sehingga dapat diinterpretasikan bahwa rasio P53/survivin terhadap kemoterapi fase induksi memiliki pengaruh meningkat yang bermakna (signifikan). Dari uji korelasi spearman, untuk menilai korelasi antara ekspresi P53 dengan ekspresi survivin terhadap kemoterapi fase induksi, didapat koefisien korelasi = -0,63, hal tersebut berarti penelitian ini memiliki kekuatan korelasi kuat dengan arah korelasi negatif yang berarti semakin tinggi variabel ekspresi p53 maka variabel survivin akan rendah. Dari uji korelasi tersebut didapat nilai signifikansi p=0,049 (p 0,05) yang berarti korelasi negatif bermakna (signifikan). Dengan demikian maka rasio p53/survivin dapat dijadikan parameter prognosis untuk menilai respon kemoterapi pasien LMA pada anak.

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Magister)
Identification Number: TES/616.994 19/LEN/r/2015/0416016222
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 616 Diseases > 616.9 Other disease
Divisions: S2 / S3 > Magister Ilmu Biomedis, Fakultas Kedokteran
Depositing User: Nur Cholis
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/158466
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item