BKG

Oktafiani, LiristaDyahAyu (2016) Hubungan Konsumsi Makanan Siap Saji Khas Internasional Dan Indonesia Dengan Perubahan Kadar Hormon Glucagon-Like Peptide 1 (Glp-1) Plasma Dan Rasa Kenyang Pada Individu Obes Indonesia. Magister thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Obesitas menjadi suatu masalah kesehatan utama di dunia yang menjadi faktor resiko utama terjadinya penyakit metabolisme seperti diabetes, penyakit kardiovaskuler, hipertensi, dan dislipidemia. Obesitas dapat terjadi karena ketidakseimbangan antara asupan energi yang masuk dengan energi yang keluar dan perubahan pola dan gaya hidup serba praktis termasuk dalam konsumsi dan pemilihan jenis makanan. Masyarakat lebih memilih konsumsi makanan di rumah makan atau restoran siap saji. Kebiasaan masyarakat untuk mengkonsumsi makanan dari rumah makan atau restoran siap saji ini sering dihubungkan dengan kualitas makan (diet) yang kurang baik. Rumah makan atau restoran cenderung menyediakan makanan yang tinggi energi, tinggi lemak, rendah serat, kalsium dan zat besi daripada yang dimasak sendiri di rumah. Jenis makanan yang disediakan di rumah makan atau restoran siap saji tersebut secara populer di sebut dengan istilah fast food. Makanan siap saji cenderung padat energi dan tinggi lemak sehingga memiliki densitas energi yang tinggi. Konsumsi makanan dengan densitas energi tinggi secara berlebih dapat meningkatkan kelebihan asupan energi yang berdampak pada kejadian obesitas. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa makanan siap saji khas Indonesia memiliki densitas energi yang lebih rendah dibandingkan makanan siap saji khas Internasional. Makanan densitas energi rendah dapat meningkatkan rasa kenyang, menurunkan rasa lapar sehingga mengurangi asupan makan seseorang. Indikator rasa kenyang pada seseorang dapat diukur menggunakan hormon GLP-1 plasma dan penilaian subyektif menggunakan Visual Analog Scale (VAS). GLP-1 merupakan hormon satiety yang dapat merangsang hipotalamus untuk memberikan sinyal sebagai patokan tubuh untuk rasa kenyang. Hormon ini disintesis di usus yang mempunyai banyak peran penting dalam regulasi nafsu makan dan food intake. VAS merupakan sebuah metode pengukuran yang bersifat subjektif untuk mengetahui rasa lapar (Q1), rasa penuh atau kenyang (Q2), keinginan untuk makan (Q3), dan jumlah yang ingin dimakan pada seseorang (Q4). Tujuan penelitian ini untuk membuktikan bahwa makanan dengan densitas energi rendah yaitu makanan siap saji khas Indonesia lebih meningkatkan kadar hormon GLP-1 plasma dan sensasi rasa kenyang dibandingkan makanan siap saji khas Internasional pada individu obes Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan silang (Cross Over Design). Pada tahap 1 seluruh subjek penelitian diberikan vii makanan siap saji khas Internasional. Selama 6 hari (wash out period), kemudian diberikan makanan siap saji khas Indonesia. Pengambilan sampel darah dan data VAS dilakukan sebelum makan pada menit ke 0 dan setelah makan pada menit ke 30, 60, dan 120. Pengukuran hormon GLP-1 plasma dengan menggunakan ELISA. Efek setelah pemberian makanan siap saji khas Internasional dan makanan siap saji khas Indonesia dibandingkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan siap saji khas Indonesia memiliki densitas energi yang lebih rendah dibandingkan makanan siap saji khas Internasional. Peningkatan kadar GLP-1 plasma lebih tinggi setelah mengkonsumsi makanan siap saji khas Internasional di semua waktu pengamatan dibandingkan makanan siap saji khas Indonesia. Namun peningkatan konsentrasi plasma hormon GLP-1 setelah mengkonsumsi kedua kelompok makanan siap saji relatif tidak berbeda secara bermakna. Hasil skor VAS menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna baik setelah mengkonsumsi makanan siap saji khas Internasional maupun Indonesia. Namun makanan siap saji khas Internasional lebih menghasilkan penekanan rasa lapar sehingga lebih mengurangi keinginan untuk makan kembali dan lebih menekan jumlah asupan makan. Hasil VAS ini sejalan dengan hasil perubahan kadar plasma hormon GLP-1 yang lebih tinggi setelah mengkonsumsi makanan siap saji khas Internasional. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa secara umum tidak terdapat hubungan yang signifikan antara peningkatan kadar plasma hormon GLP-1 dengan persepsi rasa kenyang menggunakan VAS. Ada hubungan yang bermakna pada menit ke-60 setelah mengkonsumsi makanan siap saji khas Internasional, namun hasil menunjukkan korelasi yang negatif yaitu adanya peningkatan kadar plasma hormon GLP-1 tidak diikuti dengan peningkatan rasa kenyang secara subjektif pada individu obes Indonesia. Pada kondisi obesitas sekresi GLP-1 menurun. Mekanisme penurunan sekresi hormon GLP-1 pada obesitas sampai sekarang masih belum diketahui secara pasti, kemungkinan karena adanya resistensi leptin yang merupakan hormon regulator keseimbangan energi di dalam tubuh. Di hipotalamus regulasi hormon GLP-1 dipengaruhi hormon leptin sehingga adanya resistensi leptin mempengaruhi kerja hormon GLP-1 dalam menginisiasi rasa kenyang. Kesimpulan penelitian ini adalah mengkonsumsi makanan siap saji khas Indonesia maupun Internasional memberikan hasil yang sama dalam meningkatkan kadar plasma hormon GLP-1 dan sensasi rasa kenyang pada individu obes Indonesia. Saran dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mengkonsumsi makanan siap saji khas Internasional dan Indonesia tidak menunjukkan perbedaan terhadap peningkatan hormon GLP-1 plasma pada individu obes Indonesia sehingga pemahaman terkait asupan energi sesuai dengan kebutuhan menjadi sangat penting.

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Magister)
Identification Number: TES/616.398/OKT/h/2016/041612182
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 616 Diseases > 616.3 Diseases of digestive system
Depositing User: Nur Cholis
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/158351
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item