BKG

Cahyani, DwiIndah (2017) Kadar Sistein, Malondyaldehid (Mda) Dan Glutathion (Gsh) Pada Anak Dengan Gizi Buruk Marasmus Dan Gizi Baik Di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang. Magister thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Gizi buruk pada anak didefinisikan sebagai kondisi klinis dimana anak tampak sangat kurus, dengan pengukuran berat badan menurut tinggi badan atau panjang badan dibawah 70%, atau kurang dari -3 SD (standar deviasi) atau didapatkan adanya edema nutrisional dengan lingkar lengan atas kurang dari 115 mm pada anak kurang dari 5 tahun. Gizi buruk dibagi menjadi gizi buruk marasmus, gizi buruk kwashiorkor, dan gizi buruk marasmik-kwashiorkor. Defisiensi makronutrien dan mikronutrien yang terjadi pada gizi buruk diketahui berdampak terhadap gangguan imunitas yang akan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Selama proses infeksi akan dihasilkan banyak radikal bebas untuk pertahanan nonspesifik terhadap mikroba patogen. Produksi radikal bebas oksigen yang dihasilkan meliputi anion superoksid (O2-), radikal hidroksil (OH*), oksigen singlet dan hidrogen peroksida (H2O2) yang salah satunya dapat meningkatkan terjadinya peroksidasi lipid dan kerusakan sel tubuh. Kondisi inilah yang menyebabkan terjadinya stress oksidatif. Malondyaldehid (MDA), sebagai salah satu produk peroksidasi lipid, akhirnya juga dihasilkan dalam jumlah banyak. Stress oksidatif ini yang kemungkinan besar berperan serta menimbulkan percepatan apoptosis yang akan memperburuk perjalanan penyakit penderita. Defisiensi mikronutrien pada gizi buruk akan menurunkan kadar antioksidan yang diperlukan sebagai pertahanan tubuh terhadap stress oksidatif. Sistein yang merupakan asam amino non-esensial merupakan komponen penting dalam pembentukan gluthatione tereduksi atau GSH. Banyak penelitian akhir-akhir ini mencoba mengungkap peranan dan manfaat pemberian sistein pada kondisi malnutrisi, terutama pada gizi buruk kwashiorkor, tetapi belum ada penelitian yang menyebutkan manfaat dan peranan sistein pada gizi buruk marasmus di Indonesia. Hal ini menjadi penting karena prevalensi gizi buruk marasmus di Indonesia mencapai sekitar 40-50 % dan merupakan jenis gizi buruk terbanyak yang dirawat di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya perbedaan antara kadar sistein, MDA dan GSH pada anak gizi buruk marasmus dibandingkan dengan anak gizi baik dan membuktikan apakah terdapat hubungan antara kadar sistein, MDA dan GSH pada anak gizi buruk marasmus dan gizi baik. Lima puluh enam penderita yang berpartisipasi dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok gizi buruk marasmus (28 penderita) dan kelompok kontrol gizi baik (28 penderita). Pemeriksaan diawali dengan skrining laboratorium lengkap yang dilanjutkan dengan pemeriksaan kadar sistein, MDA dan GSH. Semua data statistik diolah dengan menggunakan Statistical Product and Service Solutions (SPSS 17.0) for Windows. Dari 28 penderita yang termasuk dalam kelompok gizi buruk marasmus terdiri dari 15 penderita laki-laki (53,6%) dan 13 penderita perempuan (46,4%), sedangkan kelompok gizi baik terdiri dari 13 penderita laki-laki (46,4%) dan 15 penderita perempuan (53,6%). Usia rata-rata adalah 54,6156,35 bulan pada kelompok gizi buruk marasmus dan 48,2545,34 bulan pada kelompok gizi baik. Berdasarkan tes normalitas data menggunakan Shapiro-Wilk, variabel kadar sistein, MDA maupun GSH menunjukkan data tidak terdistribusi secara normal. Dengan menggunakan uji Mann Whitney didapatkan perbedaan yang signifikan antara kadar sistein, MDA serta kadar GSH pada kelompok gizi buruk marasmus dibandingkan kontrol gizi baik (berturut-turut, p=0,000; p=0,000; p=0,000). Uji korelasi viii Pearson antara kadar sistein dan kadar GSH, kadar sistein dan kadar MDA, serta kadar MDA dan GSH pada anak gizi buruk marasmus menunjukkan hasil korelasi yang tidak signifikan (berturut-turut R = -0,206 dan nilai signifikansi p=0,294, R = -0,036 dan nilai signifikansi p=0,856, serta R = 0,210 dan nilai signifikansi p=0,284). Sedangkan pada kelompok kontrol dengan gizi baik uji korelasi Pearson antara kadar sistein dan kadar GSH, kadar sistein dan kadar MDA, serta kadar MDA dan GSH menunjukkan hasil korelasi yang tidak signifikan pula (berturut-turut sebesar R = -0,053 dan nilai signifikansi p=0,789, R = -0,146 dan nilai signifikansi p=0,458, serta R = -0,079 dan nilai signifikansi p=0,688). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kadar sistein, MDA dan GSH antara kelompok gizi buruk marasmus dibandingkan kontrol gizi baik. Akan tetapi tidak didapatkan adanya korelasi antara kadar sistein, GSH dan MDA pada anak gizi buruk marasmus maupun gizi baik.

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Magister)
Identification Number: TES/616.39/CAH/k/2017/041704135
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 616 Diseases > 616.3 Diseases of digestive system
Divisions: S2 / S3 > Magister Ilmu Biomedis, Fakultas Kedokteran
Depositing User: Nur Cholis
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/158347
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item