BKG

Azis, Fathony (2016) Pengaruh Variasi Temperatur Terhadap Susunan Kimia Tar Hasil Pirolisis Serbuk Kayu Mahoni. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Pirolisis merupakan proses dekomposisi thermal biomassa dalam ketiadaan udara atau oksigen, sehingga ikatan rantai panjang senyawa molekul hidrokarbon yang tadinya komplek mengalami pemecahan menjadi ikatan molekul yang lebih sederhana dalam bentuk char, tar, dan gas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik tar hasil pirolisis serbuk kayu mahoni, apakah dari identifikasi senyawa terhadap perubahan temperatur, senyawa tar hasil pirolisis dapat dikelompokkan menjadi senyawa untuk menghasilkan energi bahan bakar alternatif. Dalam penelitian ini menggunakan variasi temperatur 250°C, 350°C, 450°C, 500°C, 600°C, 700°C dan 800°C. Proses pirolisis ini dilakukan selama tiga jam tanpa oksigen dengan bahan baku serbuk kayu mahoni sebanyak 200 gram dengan ukuran mesh 20 serta kadar air 2%. Hasil penelitian menunjukkan dengan meningkatnya temperatur maka tar yang terbentuk akibat kondensasi akan mengalami peningkatan sampai titik puncak 500°C, setelah itu mengalami penurunan sampai temperatur 800°C. Penurunan tar ini dikarenakan pada temperatur lebih dari 500°C, condensable gas terdekomposisi menjadi molekul lebih sederhana yang berupa non condensable gas. Tar yang dihasilkan mayoritas didominasi oleh senyawa asam asetat dan senyawa minoritas seperti furfural dan fenol. Penelitian juga menunjukkan dengan meningkatnya temperatur maka senyawa asam asetat semakin meningkat sampai titik puncak 350°C, setelah itu mengalami penurunan sampai temperatur 800°C, hal ini dikarenakan penyusun senyawa asam asetat seperti selulosa dan hemiselulosa sudah mengalami dekomposisi secara maksimal pada temperatur 350°C. Selain itu senyawa dapat terbagi dalam kelompok senyawa mudah terbakar dan tidak mudah terbakar yaitu dengan dilihat titik nyalanya. Dinyatakan mudah terbakar apabila memiliki titik nyala kurang dari atau lebih dari 60°C dan dibawah 93°C. Dalam hasil penelitian tar ini pada setiap temperatur memiliki senyawa yang mudah terbakar lebih tinggi dari pada senyawa yang tidak mudah terbakar, hal ini dikarenakan penyusun utama tar mayoritas adalah asam asetat dengan titik nyalanya 39°C dapat digolongkan senyawa yang mudah terbakar dan sebab lainnya yaitu dikarenakan banyaknya senyawa minoritas yang memiliki karakteristik dengan titik nyala < 93°C sehingga juga termasuk senyawa mudah terbakar.

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FT/2016/427/051605677
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 621 Applied physics
Divisions: Fakultas Teknik > Teknik Mesin
Depositing User: Yusuf Dwi N.
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/144629
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item