BKG

NatsirFirdiansyah, (2010) Pengaruh Variasi Temperatur Annealing Terhadap Konduktivitas Termal Paduan Aluminium Tembaga (Al - Cu),. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Kemajuan teknologi material saat ini berkembang dengan pesat, makin banyak ditemukan material – material baru dengan karakteristik yang tentunya baru juga. Perlakuan panas merupakan salah satu bagian dari kemajuan teknologi, dengan perlakuan panas akan didapatkan suatu material dengan kelebihan yang berbeda jika dibandingkan dengan material tanpa perlakuan panas. Annealing merupakan salah satu proses perlakuan panas yang bertujuan untuk menghaluskan struktur butiran, menghilangkan atau mengurangi tegangan dalam, dan sedikit melunakan material. Paduan aluminium tembaga adalah material non – ferrous dengan kelebihan utama adalah tahan korosi, dan memiliki koefisien konduktivitas termal yang tinggi. Pada industri alat - alat rumah tangga atau alat penukar kalor, konduktivitas termal merupakan suatu syarat khusus bagi material yang digunakan. Dengan material yang memiliki konduktivitas termal yang tinggi, maka efisiensi dari alat - alat tersebut akan semakin tinggi dalam hal menghantarkan panas. Konduktivitas termal adalah kemampuan suatu bahan untuk menghantarkan atau mentransfer energi termal (watt) pada satu (meter) panjang bahan yang dilewati setiap beda temperatur 1 (ºC) . Energi termal dipindahkan melalui tabrakan antar elektron valensi , pemanasan menyebabkan energi kinetik pada elektron valensi meningkat sehingga terjadi tabrakan antar elektron tersebut yang membawa momentum dan energi panas. Aluminium adalah logam yang memiliki nomor atom 13, yang berarti ada 3 elektron valensi pada orbit terluar. Elektron valensi (awan elektron) itulah yang jika diberi energi (panas) akan bergetar sehingga terjadi energi kinetik pada elektron, dengan bergetarnya elektron tersebut maka energi (panas) akan terhantar. Ketidakseragaman butiran merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi konduktivitas termal pada paduan aluminium tembaga selain faktor komposisi unsur paduan utamanya. Konduktivitas termal akan meningkat sebanding dengan penurunan ketidakseragaman butiran. Pada penelitian ini nilai konduktivitas termal diukur dengan menggunakan Thermal Conductivity Measuring Apparatus yakni suatu alat yang berfungsi untuk mengukur konduktivitas termal suatu material dengan prinsip kerjanya adalah dengan memanaskan media penghantar sampai temperatur tertentu. Hasil dari variasi temperatur perlakuan panas annealing dan waktu holding menunjukan bahwa semakin tinggi temperatur annealing konduktivitas termal juga meningkat. Nilai rata - rata konduktivitas termal tertinggi dihasilkan pada temperatur annealing 400 ºC dengan waktu holding 15 menit yaitu 309,33 (Watt/m.ºC). Sedangkan nilai rata - rata konduktivitas termal terendah dihasilkan oleh spesimen tanpa perlakuan panas annealing yaitu 211,33 (Watt/m.ºC) dan spesimen dengan perlakuan panas pada temperatur 300 ºC dengan waktu holding 5 menit yaitu sebesar 252,67 (Watt/m.ºC).

English Abstract

UNSPECIFIED

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FT/2010/3/051000254
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 621 Applied physics
Divisions: Fakultas Teknik > Teknik Mesin
Depositing User: Endang Susworini
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/140336
Full text not available from this repository.

Actions (login required)

View Item View Item