BKG

Jihad, Baroroh Nur (2018) Analisis Respon Penawaran Jagung Di Indonesia. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Indonesian Abstract

Sektor pertanian memiliki kontribusi terhadap pembangunan perekonomian di Indonesia. Hal itu terlihat pada peranannya yang tidak hanya sebagai penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB), melainkan juga sebagai penyedia bahan bahan pangan, bahan baku industri, bahan pakan dan bioenergi, serta penghasil devisa negara, penyerap tenaga kerja, dan berperan serta dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca. Berdasarkan data BPS (2018) pada tahun 2012 hingga tahun 2016 sektor pertanian berkontribusi sekitar 13% pada PDB Indonesia Pada sektor ini terdapat subsektor tanaman pangan yang turut berkontribusi dalam PDB sektor pertanian dan terdiri dari beberapa komoditas, salah satunya yaitu komoditas jagung. Komoditas tersebut termasuk komoditas yang strategis dan multiguna, hal ini dapat dilihat dari penggunaannya yaitu tidak hanya sebagai bahan pangan melainkan juga menjadi bahan pakan ternak, bahan bakar serta bahan baku industri. Besarnya peranan jagung pada sektor industri mengakibatkan permintaan atas komoditas tersebut juga akan semakin tinggi. Namun tingginya angka permintaan jagung ini bisa menjadi bumerang bagi negera sendiri apabila tidak diimbangi dengan meningkatnya produksi jagung di Indonesia. Impor jagung merupakan salah satu dampak yang akan terjadi saat permintaan jagung dalam negeri tidak terpenuhi, apabila hal ini terus menerus dilakukan maka hanya akan membuat persediaan jagung di Indonesia semakin bertambah dan jagung domestik semakin tidak diserap karena kualifikasinya yang tidak memenuhi standar permintaan industri pakan ternak. Hal tersebut mampu mempengaruhi respon penawaran jagung di tingkat petani. Penawaran jagung di Indonesia dapat menurun, karena hal tersebut merupakan disinsentif bagi petani untuk memproduksi jagung bahkan membuat petani memiliki potensi untuk beralih pada komoditas lain. Persentase perubahan pada jumlah produksi jagung di Indonesia cenderung melambat dibandingkan dengan persentase perubahan harga jagung di tingkat produsen. Hal ini memperlihatkan bahwa petani kurang responsif saat terjadi perubahan harga pada komoditas jagung. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan petani kurang responsif dalam menentukan jumlah suatu komoditas yang akan dibudidayakan atas terjadinya perubahan harga jual pada komoditas terkait. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi respon penawaran jagung di Indonesia dan mengetahui pengaruh perubahan harga jagung terhadap penawaran jagung di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode estimasi OLS (Ordinary Least Square) dan model nerlovian digunakan untuk menganalisis respon penawaran dengan menggunakan lag tahun sebelumnya. Pada penelitian ini juga dilakukan perhitungan besaran nilai elastisitas untuk mengetahui pengaruh perubahan harga jagung terhadap penawaran jagung di Indonesia. Pada pendugaan respon penawaran jagung di Indonesia melalui pendekatan respon luas areal panen jagung terdapat empat variabel yang dipertimbangkan dalam persamaannya, diantaranya yaitu lag harga riil jagung, lag harga riil kedelai, impor, dan lag luas areal panen. Berdasarkan seluruh variabel tersebut terdapat dua variabel signifikan terhadap luas areal panen jagung. Pertama volume impor dengan nilai koefisien parameter -0,039 (negatif) dan signifikan dengan tingkat keercayaan 95 persen. Kedua yaitu lag luas areal panen jagung dengan nilai koefisien parameter 0,297 (positif) dan signifikan dengan tingkat keercayaan 80 persen. Asumsinya apabila terjadi penurunan volume impor dan peningkatan lag luas areal panen jagung sebesar 1 persen maka akan menyebabkan peningkatan pada luas areal panen jagung. Dua variabel lainnya yang tidak signifikan yaitu lag harga riil jagung dan lag harga riil kedelai. Pada pendugaan respon penawaran jagung di Indonesia melalui pendekatan respon produktivitas jagung terdapat empat variabel yang dipertimbangkan dalam persamaannya, diantaranya yaitu lag harga riil jagung, harga riil pupuk urea, teknologi, dan lag produktivitas jagung. Berdasarkan seluruh variabel tersebut terdapat dua variabel signifikan terhadap luas areal panen jagung. Pertama lag harga riil jagung dengan nilai koefisien parameter 0,084 (positif) dan signifikan dengan tingkat keercayaan 80 persen. Kedua yaitu lag produktivitas jagung dengan nilai koefisien parameter 0,797 (positif) dan signifikan dengan tingkat keercayaan 95 persen. Asumsinya apabila terjadi peningkatan lag harga riil jagung dan lag produktivitas jagung sebesar 1 persen maka akan menyebabkan peningkatan pada produktivitas jagung. Dua variabel lainnya yang tidak signifikan yaitu harga riil pupuk urea dan teknologi. Elastisitas untuk pendugaan respon penawaran jagung di Indonesia terdiri dari elastisitas respon luas areal panen dan produktivitas jagung. Respon produktivitas terhadap harga jagung dalam jangka pendek sebesar 0,084 atau elastisitas penawarannya bersifat inelastis karena nilai elastisitas penawaranya kurang dari 1 (EY(sr) < 1), maka dapat dikatakan bahwa produktivitas jagung kurang responsif terhadap adanya perubahan harga jagung pada periode sebelumnya. Sama halnya pada jangka panjang, elastisitas penawarannya juga bersifat inelastis. Apabila terjadi peningkatan harga jagung pada periode atau tahun sebelumnya maka petani kurang responsif dalam meningkatkan produktivitas jagung pada periode atau tahun berikutnya. Elastisitas penawaran jagung sendiri merupakan hasil dari penjumlahan elastisitas respon luas areal panen dan produktivitas jagung, dan didapatkan besaran nilai elastisitas yang bersifat inelastis.

English Abstract

The agricultural sector has a contribution to economic development in Indonesia. This can be seen in its role not only as a contributor to Gross Domestic Product (GDP), but also as a provider of foodstuffs, industrial raw materials, feed ingredients and bioenergy, as well as foreign exchange earners, absorbing labor, and participating in efforts to reduce emissions greenhouse gases. Based on BPS data (2018) in 2012 to 2016 the agricultural sector contributed around 13% to Indonesia's GDP. In this sector there were food crops sub-sectors which contributed to GDP in the agricultural sector and consisted of several commodities, one of which was maize. These commodities are strategic and multipurpose commodities, this can be seen from their use not only as food but also as animal feed ingredients, fuel and industrial raw materials. The magnitude of the role of maize in the industrial sector has resulted in higher demand for these commodities. However, the high rate of demand for maize can be a boomerang for the country itself if it is not offset by the increase in maize production in Indonesia. Maize imports are one of the impacts that will occur when domestic maize demand is not met, if this is continuously carried out, it will only increase the supply of maize in Indonesia and domestic maize is increasingly not absorbed because the qualifications that do not meet the standards of animal feed industry demand. This can influence the response of maize supply at the farm level. Maize supply in Indonesia can decline, because it is a disincentive for farmers to produce maize and even makes farmers have the potential to switch to other commodities. The percentage change in the amount of maize production in Indonesia tends to slow compared to the percentage change in maize prices at the producer level. This shows that farmers are less responsive when prices change in maize. There are several factors that cause farmers to be less responsive in determining the amount of a commodity to be cultivated for changes in selling prices in related commodities. This study aims to analyze the factors that influence the response of maize supply in Indonesia and find out the effect of changes in maize prices on maize supply in Indonesia.The method used in this research is the OLS (Ordinary Least Square) estimation method and the nerlovian model is used to analyze the bid response by using the previous year's lag. In this study also conducted calculation of the elasticity value to determine the effect omaizef maize price changes on maize supply in Indonesia. In the estimation of maize supply response in Indonesia through response approach of maize harvest area, there are four variables considered in the equation, such as lag of real price of maize, lag of real price of soybean, import volume, and lag of harvested area. Based on all these variables there are two significant variables to the area of maize harvest area. First, import volume with coefficient value of parameter -0.039 (negative) and significant at 5 percent real level. The second is the lag of maize harvest area with the parameter coefficient value 0.297 (positive) and significant at the real level of 20 percent. The assumption that if there is a decrease in import volume and increase in lag of maize harvest area by 1 percent will cause an increase in the area of maize harvest area. Two other variables that are not significant to the level of 20 percent are the lag of real price of maize and the real price lag of soybeans. Lag real price of maize has value of parameter coefficient equal to 0,184 (positive) and lag real price of soybean has coefficient value -0.136 (negative). In the estimation of maize supply response in Indonesia through response approach of maize productivity there are four variables considered in the equation, such as lag of real price of maize, real price of urea fertilizer, technology, and lag of maize productivity. Based on all these variables there are two significant variables to the area of maize harvest area. First, the real price lag of maize with the parameter coefficient value of 0.084 (positive) and significant at the real level of 20 percent. Second is lag of maize productivity with parameter coefficient value 0,797 (positive) and significant at 5 percent real level. The assumption if there is an increase in lag of real price of maize and lag of maize productivity by 1 percent will cause an increase in maize productivity. Two other variables are not significant to the level of 20 percent that is the real price of urea fertilizer and technology. The real price of urea fertilizer has a parameter coefficient value of -0.032 (negative) and the technology has a parameter coefficient value of -0.014 (negative). The elasticity for estimation of maize supply response in Indonesia consists of elasticity of response of harvested area and productivity of maize. Productivity response to maize price in the short term is 0,084 or its offer elasticity is inelastic because its supply elasticity value less than 1 (EY (sr) <1), it can be said that maize productivity is less responsive to the change of maize price in the previous period. As well as the long run, the elasticity of supply is also inelastic. If there is an increase in maize prices in the previous period or year, the farmers are less responsive in increasing the productivity of maize in the next period or year. The supply elasticity of maize itself is the result of the sum of the elasticity of the response of the area of harvest and the productivity of maize, and the value of elasticity is inelastic.

Other Language Abstract

UNSPECIFIED

Item Type: Thesis (Sarjana)
Identification Number: SKR/FP/2018/735/051810382
Uncontrolled Keywords: Respon Penawaran, Industri Jagung, Sektor Pertanian, Produk Domestik Bruto
Subjects: 300 Social sciences > 338 Production > 338.1 Agriculture > 338.17 Products > 338.173 15 Products (Corn)
Divisions: Fakultas Pertanian > Agribisnis
Depositing User: Nur Cholis
URI: http://repository.ub.ac.id/id/eprint/13379
Text
BAROROH NUR JIHAD.pdf
Restricted to Repository staff only

Download

Actions (login required)

View Item View Item